Senin, 20 Juli 2015

Aurora Borealis-Bagian Dua



            Terkadang aku termenung saat aku pulang larut dari jadwal kuliahku yang padat aku hanya berdiam diri berbaring di bawah gemintang. Aku berbaring di atas menara air. Indahnya. Ragaku memang di sana, melepas lelah sepanjang hari itu. Tapi, pikiranku berkelana jauh ke belakang. Kembali mengingat, menganalisa, mempelajari masa lalu.
            “ Nad, ayo keluar.” Angel menegurku. Aku
segera tersadar dari lamunan dan mengikuti langkah Angel. Jujur saja, hatiku selalu ketakutan kala aku berbuat suatu hal yang menyimpang. Baik penyimpangan sosial maupun agama. Tapi, dalam beberapa kasus aku justru mengikutinya, bukankah hidup ini harusnya mengalir ? Lalu mengapa aku susah payah menjaga diri dari lingkungan berbasis teknologi dengan segala kecanggihannya. Aku menghembuskan nafas pelan.
            Ku eratkan jaketku. Kami memasuki studio maha besar itu, beberapa jam berikutnya kami sudah terhentak-hentak menikmati alunan musik. Aku terbuai. Aku bebas. Aku menang. Dari sini aku melihat penonton itu rata-rata remaja, malah lebih muda dariku. Rata-rata anak SMA. Aku lega. Kami menikmati alunan musik hingga larut. Tak terasa aku sudah berada di sana tiga jam, sungguh aku takut. Aku gelisah.
            “ Lis, ayo pulang. Sudah jam 1 bukannya besok kamu ada kuliah ?”
            “ Hahaha…aku bisa absen, aku malas kuliah. Amatlah berat menempuh pendidikan kedokteran. Ini karena mamah.” Lisa menatapku kesal, aku bergeming. Lisa mahasiswa kedokteran di UI. Ia di paksa mamahnya untuk menempuh pendidikan di sana karena orang tuanya teramat ingin anaknya jadi dokter. Tapi, pada kenyataannya ia sering membolos, ia pernah hamper di keluarkan. Meski begitu ia siswa cerdas sekali membaca ia akan paham, ingatannya begitu kuat. Aku pernah iri padanya. Aku dan Lisa memang menjadi mahasiswa di kampus yang sama, Universitas Indonesia. Hanya saja aku mengambil jurusan hubungan internasional. Aku sejak duduk di kelas 5 SD memang bercita-cita keliling dunia. Pasti menyenangkan.
            “ Aku pulang duluan. Ada banyak angkutan umum yang berharap uangku.” Aku ngotot. Lisa hanya diam. Semenit berikutnya tak tanggung-tanggung. Aku mengemasi tas dan pergi. Angel yang menyadari hal itu segera menarik tanganku. Ia memang orang yang bebas, tapi ia tipe orang yang setia kawan, ia tak akan membiarkan kawannya terluka.
            “ Kita akan pulang bersama-sama. Sekarang.” Aku tersenyum lega. Kami akhirnya pulang tepat pukul 01.15 WIB. Aku, Angela, Raisa, Nada bahkan terlelap saat perjalanan. Lisa yang setengah mengantuk mengoleskan minyak pedas ke matanya. Berharap gerbang kos belum di kunci. Jika sudah di kunci terpaksa kami harus melompati pagar atau menginap di hotel semalam. Tentu saja yang paling sederhana karena uang kami mulai menipis di pertengahan bulan. Belum lagi setelah membayar tiket konser.
            Untung saja bapak kos tidak mengunci gerbangnya mungkin lupa atau memang sengaja. Aku yang terbangun dari lelapku segera masuk kamar kos. Tidak. Tiba-tiba kepalaku berdenyut-denyut. Semakin lama semakin kencang aku rasakan denyutannya. Aku memegang kepalaku, aku terhuyung di ruang depan. Beberapa detik kemudian kawan-kawanku yang menemukanku tergeletak di ruang depan segera membopongku. Aku sudah tak sadarkan diri setelah itu. Gelap.
            Tok tok tok. Aku mengerjapkan mata, berusaha mencari sumber suara. Ah, iya itu suara pintu. Baiklah, ada apa ? Bukannya sekarang masih jam 7 pagi siapa yang membangunkanku ? Aku melangkah gontai mencari jilbabku lalu berjalan menuju pintu kamarku. Lamat-lamat ku dengar suara yang taka sing. Sepertinya aku kenal. Aku cuek saja. Ku buka pintu.
            “ Assalamualaikum gadis kecil.” Aku yang masih setengah sadar menjawab salam super ramah itu dengan datar.
            “ Waalaikumussalam.”
            “ Kok jam segini baru bangun ?” Aku berusaha sekuat tenaga mengumpulkan nyawaku yang sepertinya masih melayang-layang di sudut kamar.
            “Ma…mah?” Aku terkejut, aku hampir saja pingsan dengan posisi berdiri. Oh Tuhan, apa ibuku tahu kalau semalam aku menonton konser ?
            “ Apa di kamarmu tidak ada jam, Nak ?”
            “ Ada, Mah.”
            “ Bagus, sekarang berputarlah, masuk ke dalam kamar dan lihat jammu.” Aku tidak melakukannya, aku melirik jam tangan ibu. Aku tersentak. Jam 12 siang. Aku melewatkan shalat tahajud, shalat dhuha meski aku telah melewatkannya sejak Angel mulai mengubah gaya hidupku namun, yang terpenting aku melewatkan shalat subuh !
            “ Aku segera berlari ke kamar, merapikan kasur, membuka tirai kamar, tergopoh-gopoh mencari handuk, mengambil baju santaiku di lemari dan berlari menuju kamar mandi.” Ibu masuk kamarku duduk dengan anggunnya. Dadaku berdetak begitu kencang seperti lagu DJ di diskotik. Memuakkan. Ah, sial. Seharusnya aku tak menonton konser malam ini. Semua berantakan untuk satu hari ini. Nada, Lisa, Angel dan Raisa tidurdi kamar Aisyah tadi malam, entah mengapa. Jadilah  aku sendirian di sini. Nada dan Raisa terkekeh melihatku begitu bingung, sedangkan Lisa masih tertidur pulas di ranjang Aisyah. Angel menguatkan diri untuk pergi ke kampusnya demi bertemu kekasihnya.
            Aku pura-pura izin ke kamar Aisyah untuk membawakan  kue, padahal aku  menunaikan shalat subuh di tambah shalat dhuhur. Aku menangis tersedu-sedu dan merasa amat berdosa. Oh Tuhan, inikah kejamnya ibu kota ? Aku sulit mencari kawan untuk bergaul. Apa aku telah di sesatkan ? Tapi, lihatlah Angel. Angel selalu membelikan makan kami jika kami tidak memiliki uang, mencuci piring kami, mengantarkan pakaian  kami ke laundry, mengajak kami jalan-jalan. Dia begitu baik. Tidak mungkin dia menyesatkanku.
            Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh, aku segera mengambil makanan kecil Aisyah di toples cantik miliknya. Tentu saja dengan izin. Aku mempersilakan ibuku untuk santai dan makan.
            “ Bagaimana kuliahmu, Nak ?”
            “ Alhamdulillah baik.”
            “ Jangan sia-siakan  lagi, Nak. Kau sudah vakum 2 tahun karena kegagalanmu dalam tes. Allah telah membuka jalanmu ke universitas terbaik ketiga di negeri ini dengan jurusan bagus pula.” Aku hanya mengangguk pelan tersenyum ringan.
            Kami berbincang-bincang beberapa saat sebelum tiba-tiba ayah dating ke kamarku, membawa dua kantung oleh-oleh khas kotaku. Aku memeluk beliau, meraih oleh-oleh itu dan mengucapkan terima kasih.
            “ Tidak biasanya anak gadisku bangun jam 12 siang ada apa ? Kau dating konser ya ?” Mataku melebar, jantungku seakan berhenti memompa darah. Jangan, tidak. Aku hampir ambruk.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar