Terkadang aku termenung saat aku
pulang larut dari jadwal kuliahku yang padat aku hanya berdiam diri berbaring
di bawah gemintang. Aku berbaring di atas menara air. Indahnya. Ragaku memang
di sana, melepas lelah sepanjang hari itu. Tapi, pikiranku berkelana jauh ke
belakang. Kembali mengingat, menganalisa, mempelajari masa lalu.
“ Nad, ayo keluar.” Angel menegurku.
Aku
segera tersadar dari lamunan dan mengikuti langkah Angel. Jujur saja,
hatiku selalu ketakutan kala aku berbuat suatu hal yang menyimpang. Baik
penyimpangan sosial maupun agama. Tapi, dalam beberapa kasus aku justru
mengikutinya, bukankah hidup ini harusnya mengalir ? Lalu mengapa aku susah
payah menjaga diri dari lingkungan berbasis teknologi dengan segala
kecanggihannya. Aku menghembuskan nafas pelan.
Ku eratkan jaketku. Kami memasuki
studio maha besar itu, beberapa jam berikutnya kami sudah terhentak-hentak
menikmati alunan musik. Aku terbuai. Aku bebas. Aku menang. Dari sini aku
melihat penonton itu rata-rata remaja, malah lebih muda dariku. Rata-rata anak
SMA. Aku lega. Kami menikmati alunan musik hingga larut. Tak terasa aku sudah
berada di sana tiga jam, sungguh aku takut. Aku gelisah.
“ Lis, ayo pulang. Sudah jam 1
bukannya besok kamu ada kuliah ?”
“ Hahaha…aku bisa absen, aku malas
kuliah. Amatlah berat menempuh pendidikan kedokteran. Ini karena mamah.” Lisa
menatapku kesal, aku bergeming. Lisa mahasiswa kedokteran di UI. Ia di paksa
mamahnya untuk menempuh pendidikan di sana karena orang tuanya teramat ingin
anaknya jadi dokter. Tapi, pada kenyataannya ia sering membolos, ia pernah hamper
di keluarkan. Meski begitu ia siswa cerdas sekali membaca ia akan paham,
ingatannya begitu kuat. Aku pernah iri padanya. Aku dan Lisa memang menjadi
mahasiswa di kampus yang sama, Universitas Indonesia. Hanya saja aku mengambil
jurusan hubungan internasional. Aku sejak duduk di kelas 5 SD memang
bercita-cita keliling dunia. Pasti menyenangkan.
“ Aku pulang duluan. Ada banyak
angkutan umum yang berharap uangku.” Aku ngotot. Lisa hanya diam. Semenit
berikutnya tak tanggung-tanggung. Aku mengemasi tas dan pergi. Angel yang
menyadari hal itu segera menarik tanganku. Ia memang orang yang bebas, tapi ia
tipe orang yang setia kawan, ia tak akan membiarkan kawannya terluka.
“ Kita akan pulang bersama-sama.
Sekarang.” Aku tersenyum lega. Kami akhirnya pulang tepat pukul 01.15 WIB. Aku,
Angela, Raisa, Nada bahkan terlelap saat perjalanan. Lisa yang setengah
mengantuk mengoleskan minyak pedas ke matanya. Berharap gerbang kos belum di
kunci. Jika sudah di kunci terpaksa kami harus melompati pagar atau menginap di
hotel semalam. Tentu saja yang paling sederhana karena uang kami mulai menipis
di pertengahan bulan. Belum lagi setelah membayar tiket konser.
Untung saja bapak kos tidak mengunci
gerbangnya mungkin lupa atau memang sengaja. Aku yang terbangun dari lelapku
segera masuk kamar kos. Tidak. Tiba-tiba kepalaku berdenyut-denyut. Semakin
lama semakin kencang aku rasakan denyutannya. Aku memegang kepalaku, aku
terhuyung di ruang depan. Beberapa detik kemudian kawan-kawanku yang
menemukanku tergeletak di ruang depan segera membopongku. Aku sudah tak
sadarkan diri setelah itu. Gelap.
Tok tok tok. Aku mengerjapkan mata,
berusaha mencari sumber suara. Ah, iya itu suara pintu. Baiklah, ada apa ?
Bukannya sekarang masih jam 7 pagi siapa yang membangunkanku ? Aku melangkah
gontai mencari jilbabku lalu berjalan menuju pintu kamarku. Lamat-lamat ku
dengar suara yang taka sing. Sepertinya aku kenal. Aku cuek saja. Ku buka
pintu.
“ Assalamualaikum gadis kecil.” Aku
yang masih setengah sadar menjawab salam super ramah itu dengan datar.
“ Waalaikumussalam.”
“ Kok jam segini baru bangun ?” Aku
berusaha sekuat tenaga mengumpulkan nyawaku yang sepertinya masih
melayang-layang di sudut kamar.
“Ma…mah?” Aku terkejut, aku hampir saja
pingsan dengan posisi berdiri. Oh Tuhan, apa ibuku tahu kalau semalam aku
menonton konser ?
“ Apa di kamarmu tidak ada jam, Nak
?”
“ Ada, Mah.”
“ Bagus, sekarang berputarlah, masuk
ke dalam kamar dan lihat jammu.” Aku tidak melakukannya, aku melirik jam tangan
ibu. Aku tersentak. Jam 12 siang. Aku melewatkan shalat tahajud, shalat dhuha
meski aku telah melewatkannya sejak Angel mulai mengubah gaya hidupku namun, yang
terpenting aku melewatkan shalat subuh !
“ Aku segera berlari ke kamar,
merapikan kasur, membuka tirai kamar, tergopoh-gopoh mencari handuk, mengambil
baju santaiku di lemari dan berlari menuju kamar mandi.” Ibu masuk kamarku
duduk dengan anggunnya. Dadaku berdetak begitu kencang seperti lagu DJ di
diskotik. Memuakkan. Ah, sial. Seharusnya aku tak menonton konser malam ini.
Semua berantakan untuk satu hari ini. Nada, Lisa, Angel dan Raisa tidurdi kamar
Aisyah tadi malam, entah mengapa. Jadilah aku sendirian di sini. Nada dan Raisa terkekeh
melihatku begitu bingung, sedangkan Lisa masih tertidur pulas di ranjang
Aisyah. Angel menguatkan diri untuk pergi ke kampusnya demi bertemu kekasihnya.
Aku pura-pura izin ke kamar Aisyah
untuk membawakan kue, padahal aku menunaikan shalat subuh di tambah shalat
dhuhur. Aku menangis tersedu-sedu dan merasa amat berdosa. Oh Tuhan, inikah
kejamnya ibu kota ? Aku sulit mencari kawan untuk bergaul. Apa aku telah di
sesatkan ? Tapi, lihatlah Angel. Angel selalu membelikan makan kami jika kami
tidak memiliki uang, mencuci piring kami, mengantarkan pakaian kami ke laundry, mengajak kami jalan-jalan.
Dia begitu baik. Tidak mungkin dia menyesatkanku.
Aku segera membuang pikiran itu
jauh-jauh, aku segera mengambil makanan kecil Aisyah di toples cantik miliknya.
Tentu saja dengan izin. Aku mempersilakan ibuku untuk santai dan makan.
“ Bagaimana kuliahmu, Nak ?”
“ Alhamdulillah baik.”
“ Jangan sia-siakan lagi, Nak. Kau sudah vakum 2 tahun karena
kegagalanmu dalam tes. Allah telah membuka jalanmu ke universitas terbaik
ketiga di negeri ini dengan jurusan bagus pula.” Aku hanya mengangguk pelan
tersenyum ringan.
Kami berbincang-bincang beberapa
saat sebelum tiba-tiba ayah dating ke kamarku, membawa dua kantung oleh-oleh
khas kotaku. Aku memeluk beliau, meraih oleh-oleh itu dan mengucapkan terima
kasih.
“ Tidak biasanya anak gadisku bangun
jam 12 siang ada apa ? Kau dating konser ya ?” Mataku melebar, jantungku seakan
berhenti memompa darah. Jangan, tidak. Aku hampir ambruk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar