Sebuah Kisah Tentang
Komik Hatori
Saat
kami berdua hendak membeli sesuatu di jalan yang tidak searah dengan sepeda
motor, tiba-tiba seorang laki-laki berumur tua yang mengendari sepeda motor berhenti mendekati kami, membuatku
menepikan motor sejenak.
“
Mba, mbaaaaa maaf mengganggu !” ujar kakek itu.
“
Eh, nggih, Pak. Wonten nopo ?” (Eh, iya, Pak. Ada apa ?) Laki-laki tua dengan
helm dan tas hitam butut itu tersenyum, mengeluarkan setumpuk buku komik dari
dalam tasnya, kemudian kakek tua itu berusaha turun dari sepeda motornya dengan
susah payah karena kakinya disabilitas.
“
Mba, mau beli buku ini ? Buat makan, Mba” aku diam sejenak, pecah sudah
kesedihan seharian ini, mataku berkaca-kaca, tak kuasa membendung air mata.
Hal-hal yang membuatku terenyuh bukan hanya penampilan kakek yang memiliki kaki
disabilitas ini, namun tumpukan buku komik itu. Sensasinya seketika bercampur
aduk, membuat hati nuraniku ngilu. Dulu, ayahku sering menceritakan tentang
masa kecilnya yang senang meminjam buku bekas di toko rental bersama kakek,
saat aku masih kecil pun, ayah sering mengajakku ke rental buku, buku yang di
bawa kakek itu juga tampak berdebu, maka sepersekian detik itu ingatanku
melayang ke sebuah kota kecil yang memiliki ikon L’Arch De Triomphe.
Maka
dalam perjalanan pulang, aku memikirkan banyak hal. Mengenai kebersyukuran,
bahwa Allah telah membersamaiku dalam banyak hal, menitipkan sebagian rezekiku
agar aku senantiasa berbagi kepada sesama. Mereka, orang-orang yang tidak
pernah kita tahu, jutaan orang terhimpit kemiskinan, kelaparan, kedinginan di
bawah kolong jembatan, tertindas, terlecehkan. Dan, aku rapuh hanya perkara aku
melihat dunia dari jendela yang salah. Dan, aku kecewa atas penafsiranku yang
keliru terhadap skenario Tuhan. Fabiayyialairabbikumatukadziban ? Maka Allah
sebut berkali-kali dalam kitab suci yang selalu membuatku tenang tiap
membacanya. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, astaghfirullah, laa hawla wala
quwwata illa illah. Sesungguhnya hidupku, matiku hanya untuk Engkau. Semoga
sedikit kisah ini menjadi pengingat untukku dikemudian hari jika mengalami
futur. Jazakillah khairan katsir.
Tertanda,
Yang sedang lemah iman

Pingin nangiss. Terimakasih sudah jadi pengingat. Sukses terus farah
BalasHapus