Selasa, 26 Maret 2019

Dapat Surat Cinta dari Santri Ikhwan kok Ngga Bales sih, Ukh ? Jangan Suka Gantungin Orang !


Agar Remaja Perempuan Menjaga Iffah dan Izzah
(Di Tinjau Dari Perspektif Psikologi dan Islam)
 


Assalamualaikum readers setia Spring Gallery! Apa kabar ? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya. Maaf ya, mimin baru bisa bikin tulisan malam ini, padahal di otak mimin uda tumbuh puluhan, ratusan, ribuan (heleh alay) cabang ide yang harus segera mimin pangkas agar otak mimin tetap berongga dan otak mimin tetap bisa bergerak. Teori apa mon maap ?
            Oke, apa latar belakang dan urgensi mimin ambil judul yang mayan berat (suer, ini mimin mikir tema, judul, alur berpikir, cari data, bikin hipotesis ga pernah seserius ini buat konten blog, ya meskipun ntar analisisnya kurang tajem, mohon di tambah ya suhu wkwk). Berdasarkan status quo yang ada di masyarakat saat ini, kita tahu banyak sekali remaja perempuan yang terjerumus pada pergaulan bebas.

            Remaja, menurut definisi yang dipaparkan oleh Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Izzah memiliki arti harga diri. Iffah memiliki arti menahan, menahan dalam hal ini adalah menahan diri dari hal-hal yag diharamkan Allah SWT.
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (Qs. An-Nur:33)
Ditilik dari kedua definisi tersebut, sebenarnya tidak hanya remaja perempuan yang diharuskan untuk menjaga kesucian diri, harga diri, izzah, namun semura orang-orang yang belum menikah dianjurkan untuk menjaga kesucian dirinya. Kesucian diri inilah yang menyangkut mengenai harga diri seseorang. Mimin memilih remaja perempuan karena mimin adalah seorang perempuan muslimah, maka akan lebih mudah jika mimin mengambil dari sudut pandang yang tidak jauh berbeda dengan diri mimin sendiri, bukan ? cara-cara untuk menjaga harga diri yang dapat dilakukan seorang muslimah tentu memiliki banyak cara.
Dalam psikologi sendiri mengenal tiga aliran besar yang mendasari pikiran besar para ahli psikolog. Aliran besar yang pertama adalah aliran psikonalisis yang dibawakan oleh Freud, dimana pada teori ini menekankan pada masa perkembangan manusia di awal kehidupan dalam membentuk sebuah kepribadian, kedua adalah teori behavioristik yang dibawakan beberapa tokoh besar, di antaranya J.B. Watson, B.F. Skinner yang menolak adanya kekuatan internal seperti motivasi, dan dorongan alam ketidaksadaran yang dibawakan psikoanalisis, lahirlah aliran besar berikutnya yang sampai sekarang sangat populer, yakni aliran humanistik yang beranggapan bahwa manusia tidak hanya dikendalikan oleh alam ketidaksadaran seperti Freud, tidak hanya dapat dibentuk melalui penguatan seperti ujar aliran Behavioristik, namun manusia mempunyai kehendak sendiri untuk bertindak.
  Menurut teori psikoseksual yang dibawakan Freud terdapat lima tahap perkembangan kepribadian manusia pada masa awal kehidupan, yakni yang pertama adalah tahap oral dimana pada masa ini seorang bayi belajar tentang dunianya melalui kenikmatan oral (mulut). Tahap kedua adalah tahap anal, dimana anak banyak belajar dunia mengenai organ dubur. Dalam hal ini biasanya seorang anak diajarkan kedua orang tuanya mengenai toilet training, dimana pada pengajaran ini anak sebenarnya diberi pemahaman akan keinginan dirinya dan normal-norma yang berlaku di masyarakat, anak dilatih untuk menyeimbangkan antara keinginannya yang bisa jadi melanggar norma masyarakat dengan norma dan adat yang sudah terbentuk dimasyarakat. Masa berikutnya adalah masa yang memiliki benang merah dengan judul kita pada malam ini, yakni masa phallic. Pada masa phallic seorang anak akan diajarkan untuk mengenali perbedaan kelamin, peran yang harus dilakukan sesuai dengan jenis kelamin. Di sinilah peran orang tua sangat penting.
Anak akan belajar mengenai peran gender nya melalui kedua orang tua. Ketika seorang anak perempuan memiliki sosok ayah yang baik dan memberikan perhatian yang cukup kepada anak, maka anak mencoba agar dapat setara dengan ibu. Anak perempuan akan belajar mengenai peran gender dari ibu, menginternalisasi nilai-nilai itu pada dirinya agar mendapat perhatian dari ayah. Ketika seorang anak tidak mendapat kasih sayang dari ayah dengan baik, maka anak akan mengalami masalah perkembangan di fase-fase berikutnya.
Saat anak sudah memasuki usia remaja, dimana Freud menyebutkan sudah memasuki fase genital. Anak mulai mengenal lawan jenis dan timbul perasaan tertarik, jika anak tidak mendapat kasih sayang yang cukup dari seorang ayah, anak akan cenderung mengembangkan sikap agresif dan pada akhirnya dapat terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Meski tidak seluruh budaya yang ada di dunia tidak memiliki stigma negatif terhadap pergaulan bebas, namun adat ketimuran serta norma agama sangat menjaga perkara tersebut demi kemaslahatan ummat manusia itu sendiri.
Jadi, untuk menjaga iffah dan izzah gimana dong kalau aku tiba-tiba ditembak ? Kalau nolak kan kasihan dia, sakit hati. Kita dilarang Allah untuk menyakiti manusia lain kan ? Kalau diterima ngga mungkin lah, aku baru hijrah masa iya pacaran ? Munafik dong ? Hff..
Dulu waktu mimin lagi duduk dibangku sekolah madrasah tsanawiyah, mimin pernah dapat cerita dari guru bahasa arab mimin yang dapat surat cinta dari santri ikhwan. Mana surat itu masih disimpan sama guru mimin meski pun suami guru mimin yang sekarang bukan yang dulu mengirim surat. Kata beliau surat yang disimpan sudah banyak sekali karena tidak sekali pun guru mimin balas surat dia. Loh kenapa ? ya, mau dibalas apa ? bagai buah simakalama kan ya ? kecuali, kalau si doi ngomong ke bokap nyokap si ga masalah.
            Maka dari beberapa teori di atas kita yang nanti akan hidup dan tumbuh sebagai orang tua, alangkah baiknya bahwa anak kita juga memerlukan peran orang tua agar anak berkembang sesuai dengan fitrahnya. Tidak hanya peran ibu, peran ayah juga penting, terlebih bagi anak perempuannya. Dan, kita sebagai muslimah alangkah baiknya meski kita tidak mendapat pendidikan yang baik dari ayah, namun dengan bekal ilmu duniawi dan agama hendaknya kita senantiasa membentengi diri untuk menjaga kehormatan sebagai perempuan. Karena jika seorang perempuan dapat menjaga kehormatan dirinya, tidak hanya bidadari yang akan cemburu, namun ayah kita juga akan terselamatkan dari siksa api neraka. Semoga bermanfaat, jazakillah khairan katsir. Silakan mampir di kolom komentar ya gaes!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar