Agar Remaja Perempuan Menjaga Iffah dan Izzah
(Di Tinjau Dari Perspektif Psikologi dan Islam)
Assalamualaikum
readers setia Spring Gallery! Apa kabar ? Semoga selalu dalam lindungan Allah
ya. Maaf ya, mimin baru bisa bikin tulisan malam ini, padahal di otak mimin uda
tumbuh puluhan, ratusan, ribuan (heleh alay) cabang ide yang harus segera mimin
pangkas agar otak mimin tetap berongga dan otak mimin tetap bisa bergerak. Teori
apa mon maap ?
Oke, apa latar belakang dan urgensi mimin ambil judul yang mayan
berat (suer, ini mimin mikir tema, judul, alur berpikir, cari data, bikin
hipotesis ga pernah seserius ini buat konten blog, ya meskipun ntar analisisnya
kurang tajem, mohon di tambah ya suhu wkwk). Berdasarkan status quo yang ada di
masyarakat saat ini, kita tahu banyak sekali remaja perempuan yang terjerumus
pada pergaulan bebas.
Remaja, menurut definisi yang
dipaparkan oleh Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18
tahun. Izzah memiliki arti harga diri. Iffah memiliki arti menahan, menahan
dalam hal ini adalah menahan diri dari hal-hal yag diharamkan Allah SWT.
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا
حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga
kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.”
(Qs. An-Nur:33)
Ditilik dari kedua definisi tersebut,
sebenarnya tidak hanya remaja perempuan yang diharuskan untuk menjaga kesucian
diri, harga diri, izzah, namun semura orang-orang yang belum menikah dianjurkan
untuk menjaga kesucian dirinya. Kesucian diri inilah yang menyangkut mengenai
harga diri seseorang. Mimin memilih remaja perempuan karena mimin adalah
seorang perempuan muslimah, maka akan lebih mudah jika mimin mengambil dari
sudut pandang yang tidak jauh berbeda dengan diri mimin sendiri, bukan ?
cara-cara untuk menjaga harga diri yang dapat dilakukan seorang muslimah tentu
memiliki banyak cara.
Dalam psikologi sendiri mengenal tiga
aliran besar yang mendasari pikiran besar para ahli psikolog. Aliran besar yang
pertama adalah aliran psikonalisis yang dibawakan oleh Freud, dimana pada teori
ini menekankan pada masa perkembangan manusia di awal kehidupan dalam membentuk
sebuah kepribadian, kedua adalah teori behavioristik yang dibawakan beberapa tokoh
besar, di antaranya J.B. Watson, B.F. Skinner yang menolak adanya kekuatan
internal seperti motivasi, dan dorongan alam ketidaksadaran yang dibawakan
psikoanalisis, lahirlah aliran besar berikutnya yang sampai sekarang sangat
populer, yakni aliran humanistik yang beranggapan bahwa manusia tidak hanya
dikendalikan oleh alam ketidaksadaran seperti Freud, tidak hanya dapat dibentuk
melalui penguatan seperti ujar aliran Behavioristik, namun manusia mempunyai
kehendak sendiri untuk bertindak.
Menurut teori psikoseksual yang dibawakan
Freud terdapat lima tahap perkembangan kepribadian manusia pada masa awal
kehidupan, yakni yang pertama adalah tahap oral dimana pada masa ini seorang
bayi belajar tentang dunianya melalui kenikmatan oral (mulut). Tahap kedua
adalah tahap anal, dimana anak banyak belajar dunia mengenai organ dubur. Dalam
hal ini biasanya seorang anak diajarkan kedua orang tuanya mengenai toilet training, dimana pada pengajaran
ini anak sebenarnya diberi pemahaman akan keinginan dirinya dan normal-norma
yang berlaku di masyarakat, anak dilatih untuk menyeimbangkan antara
keinginannya yang bisa jadi melanggar norma masyarakat dengan norma dan adat
yang sudah terbentuk dimasyarakat. Masa berikutnya adalah masa yang memiliki
benang merah dengan judul kita pada malam ini, yakni masa phallic. Pada masa
phallic seorang anak akan diajarkan untuk mengenali perbedaan kelamin, peran
yang harus dilakukan sesuai dengan jenis kelamin. Di sinilah peran orang tua
sangat penting.
Anak akan belajar mengenai peran gender
nya melalui kedua orang tua. Ketika seorang anak perempuan memiliki sosok ayah
yang baik dan memberikan perhatian yang cukup kepada anak, maka anak mencoba
agar dapat setara dengan ibu. Anak perempuan akan belajar mengenai peran gender
dari ibu, menginternalisasi nilai-nilai itu pada dirinya agar mendapat
perhatian dari ayah. Ketika seorang anak tidak mendapat kasih sayang dari ayah
dengan baik, maka anak akan mengalami masalah perkembangan di fase-fase
berikutnya.
Saat anak sudah memasuki usia remaja,
dimana Freud menyebutkan sudah memasuki fase genital. Anak mulai mengenal lawan
jenis dan timbul perasaan tertarik, jika anak tidak mendapat kasih sayang yang
cukup dari seorang ayah, anak akan cenderung mengembangkan sikap agresif dan
pada akhirnya dapat terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Meski tidak seluruh
budaya yang ada di dunia tidak memiliki stigma negatif terhadap pergaulan
bebas, namun adat ketimuran serta norma agama sangat menjaga perkara tersebut
demi kemaslahatan ummat manusia itu sendiri.
Jadi, untuk menjaga iffah dan izzah
gimana dong kalau aku tiba-tiba ditembak ? Kalau nolak kan kasihan dia, sakit
hati. Kita dilarang Allah untuk menyakiti manusia lain kan ? Kalau diterima
ngga mungkin lah, aku baru hijrah masa iya pacaran ? Munafik dong ? Hff..
Dulu waktu mimin lagi duduk dibangku
sekolah madrasah tsanawiyah, mimin pernah dapat cerita dari guru bahasa arab
mimin yang dapat surat cinta dari santri ikhwan. Mana surat itu masih disimpan
sama guru mimin meski pun suami guru mimin yang sekarang bukan yang dulu
mengirim surat. Kata beliau surat yang disimpan sudah banyak sekali karena
tidak sekali pun guru mimin balas surat dia. Loh kenapa ? ya, mau dibalas apa ?
bagai buah simakalama kan ya ? kecuali, kalau si doi ngomong ke bokap nyokap si
ga masalah.
Maka dari beberapa teori di atas
kita yang nanti akan hidup dan tumbuh sebagai orang tua, alangkah baiknya bahwa
anak kita juga memerlukan peran orang tua agar anak berkembang sesuai dengan
fitrahnya. Tidak hanya peran ibu, peran ayah juga penting, terlebih bagi anak
perempuannya. Dan, kita sebagai muslimah alangkah baiknya meski kita tidak
mendapat pendidikan yang baik dari ayah, namun dengan bekal ilmu duniawi dan
agama hendaknya kita senantiasa membentengi diri untuk menjaga kehormatan
sebagai perempuan. Karena jika seorang perempuan dapat menjaga kehormatan
dirinya, tidak hanya bidadari yang akan cemburu, namun ayah kita juga akan
terselamatkan dari siksa api neraka. Semoga bermanfaat, jazakillah khairan
katsir. Silakan mampir di kolom komentar ya gaes!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar