Rabu, 03 April 2019

Bad Day Ever VS Grateful


Sebuah Kisah Tentang Komik Hatori
           
Halo, selamat malam para pengabdi tugas. Semoga selalu dalam lindungan Allah swt di sana. Di malam yang bikin galau, kepala migrain, galau, stuck, pengen marah, agresi, ya pokoknya buruk aku nerima ajakan temen sekamar buat keluar sebentar, ngilangin stres niatnya. Jadilah kita keluar sebentar naik sepeda bututku menyusuri jalan di depan perumahan yang ramai.
            Saat kami berdua hendak membeli sesuatu di jalan yang tidak searah dengan sepeda motor, tiba-tiba seorang laki-laki berumur tua yang mengendari sepeda  motor berhenti mendekati kami, membuatku menepikan motor sejenak.
            “ Mba, mbaaaaa maaf mengganggu !” ujar kakek itu.
            “ Eh, nggih, Pak. Wonten nopo ?” (Eh, iya, Pak. Ada apa ?) Laki-laki tua dengan helm dan tas hitam butut itu tersenyum, mengeluarkan setumpuk buku komik dari dalam tasnya, kemudian kakek tua itu berusaha turun dari sepeda motornya dengan susah payah karena kakinya disabilitas.

            “ Mba, mau beli buku ini ? Buat makan, Mba” aku diam sejenak, pecah sudah kesedihan seharian ini, mataku berkaca-kaca, tak kuasa membendung air mata. Hal-hal yang membuatku terenyuh bukan hanya penampilan kakek yang memiliki kaki disabilitas ini, namun tumpukan buku komik itu. Sensasinya seketika bercampur aduk, membuat hati nuraniku ngilu. Dulu, ayahku sering menceritakan tentang masa kecilnya yang senang meminjam buku bekas di toko rental bersama kakek, saat aku masih kecil pun, ayah sering mengajakku ke rental buku, buku yang di bawa kakek itu juga tampak berdebu, maka sepersekian detik itu ingatanku melayang ke sebuah kota kecil yang memiliki ikon L’Arch De Triomphe.
            Maka dalam perjalanan pulang, aku memikirkan banyak hal. Mengenai kebersyukuran, bahwa Allah telah membersamaiku dalam banyak hal, menitipkan sebagian rezekiku agar aku senantiasa berbagi kepada sesama. Mereka, orang-orang yang tidak pernah kita tahu, jutaan orang terhimpit kemiskinan, kelaparan, kedinginan di bawah kolong jembatan, tertindas, terlecehkan. Dan, aku rapuh hanya perkara aku melihat dunia dari jendela yang salah. Dan, aku kecewa atas penafsiranku yang keliru terhadap skenario Tuhan. Fabiayyialairabbikumatukadziban ? Maka Allah sebut berkali-kali dalam kitab suci yang selalu membuatku tenang tiap membacanya. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, astaghfirullah, laa hawla wala quwwata illa illah. Sesungguhnya hidupku, matiku hanya untuk Engkau. Semoga sedikit kisah ini menjadi pengingat untukku dikemudian hari jika mengalami futur. Jazakillah khairan katsir.


Tertanda,

Yang sedang lemah iman

1 komentar:

  1. Pingin nangiss. Terimakasih sudah jadi pengingat. Sukses terus farah

    BalasHapus