Kau. Kau pernah merasa hatimu
bergejolak ?
Rasanya seakan ingin meledak ?
Cinta. Tiada seorang pun yang
menghantui pikiranmu
Tapi, sejak pagi menyingsing,
hingga malam merengkuh
Dadaku sesak
Bibirku tak henti-hentinya
tersenyum
Lantas, kepada siapa kujatuh hati ?
Bianglala raksasa, 7 September 2007
Dalam rekaman memori kecil ini, ada
sebuah kisah yang membuatku selalu ingin datang kemari bagai tersengat candu.
Seolah aku terjatuh ke dalam lubang dengan setan-setan menarik kakiku hingga
aku tak memiliki daya untuk keluar. Jadi, inilah dunia yang tak luas juga tak sempit.
Meski aku tak pernah menjelajah dunia, biarlah. Aku bersyukur karena meski tak
memiliki pintu ajaib, aku tetap bisa menikmati musim salju dan musim gugur, musim
semu, di sini. Di hatiku.
“ Tante Bintang !” Biar kuhitung.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Ya, tujuh meter dari tempat gaya
gravitasi menarikku ke pusat Bumi, dan gaya normal menarikku ke arah
sebaliknya, seorang anak kecil berlari tergopoh-gopoh sambil membawa sebuah
boneka beruang yang ukurannya lebih besar darinya. Aku tersenyum, setengah
berlari menghampirinya, memeluknya hangat dan menggendongnya.
“ Tante, aku punya boneka baru.”
Ujarnya riang.
“ Iya, sayang. Kau sudah puas
bermain ya ?” Kucubit pipinya gemas sambil tertawa kecil menatap ekspresinya.
“ Aku ingin pulang, antarkan aku,
Tante.”
“ Loh, bukannya om Meda juga ikut ?”
Sebelum Rena menjawab, Meda sudang berdiri tepat 10 cm dari tempatku berpijak,
ketauhilah di pasar malam ini tidak ada rumah hantu. Tapi, Meda mungkin cocok
jika ia melamar pekerjaan di sana. Aku mendengus, menaikkan alis. Masih saja
sama.
“ Sini, Rena. Ayo pulang.” Meda
menjulurkan tangan, Rena berontak, menggelengkan kepala kuat-kuat. Ini kabar
buruk.
“ Rena di antar Tante Bintang !”
Maka dengan terpaksa, aku akhiri keromantisanku bersama pasar malam dan
kerlap-kerlipnya. Sudah tujuh tahun kita tidak berjumpa, Meda.
Esoknya, pagi-pagi sekali aku
terjungkal dari ranjang karena alrmku yang terlampau keras berdering, sedangkan
ponselku tidak dapat kujangkau, hingga aku harus berjalan dengan malas
menghampirinya dan menekan tombol off.
Kulihat jam pada ponselku, normal. Jam empat pagi. Aku segera mengambil karet
rambut di bawah tumpukan bantal yang masih berserakan, kuikatkan pada rambutku
yang panjangnya hanya sebahu. Dengan segala rasa kantuk, aku menata kamar, dan
tiba-tiba saja ‘Dug!’ Oh. Kakiku terbentur ujung ranjang yang dilapisi kayu
jati nomor wahid. Jadilah, aku
terseok-seok mengaduh dan kembali duduk diranjang.
“ Bintang ! Bantu ibu, Nak !” Bukan
saatnya menikmati perih di kaki karena ibu jauh lebih penting. Usai merapikan
ranjang, kakiku segera melesat menuju dapur. Membantu ibu membuat aneka kue
kering untuk dijual nanti.
Maka pagi-pagi sekali usai
menunaikan ibadah sholat subuh aku mengantar kue-kue itu. Seperti biasa,
kue-kue itu ramai berbincang, saling berkenalan di dalam kotak kue mereka.
Jadi, karena aku menerobos jalan tikus yang sepi, aku bisa mendengar obrolan
mereka. Apalagi jika bukan membicarakan kualitas bahan, bagaimana calon pembeli
dan lain-lain. Dunia memang tak luas dan tak sempit, tapi dunia penuh kejaiban.
Setibanya di pasar dan usai
kupakirkan sepeda di pinggiran toko yang berjejer. Keramaian menyeruak,
manusia-manusia yang sibuk. Beberapa membawa keranjang, beberapa mengangkut
anyaman bambu raksasa yang berisi sayuran segar, beberapa mengemudi mobil pick-up, beberapa melakukan transaksi
jual beli.
“ Selamat pagi.” Malaikat pasti
dengan sengaja menghentikan mesin waktu dunia. Aku tersenyum kaku, mengangguk
lemah. Ada apa gerangan yang membuatmu kemari, Meda ? Maka, biarlah aku
menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Terlepas nanti Tuhan menjawabnya atau
tidak, aku hanya tidak ingin larut dalam euforia. Lantas, Meda berlalu begitu
saja, sepertinya ia terburu-buru. Pakainnya tampak rapi, mengenakan dasi dan
sepatu ala pekerja kantoran. Usai berpamitan, ia segera berlalu dengan
mobilnya, aku tersenyum kecil.
Sorenya, sepulang kuliah dengan sisa
dayaku, aku melangkah gontai ke pinggiran toko pasar. Pasar tampak lengang,
beberapa sampah berserakan di jalan-jalan pasar. Aku mengambil kue kering
titipan. Bu Weji tampak begitu cuek, seperti biasa. Jadi, kuambil uang dan
kotak kur keringnya, tunggu. Kenapa uangnya banyak sekali ? Dan, ah. Habis tak
tersisa, aku tersenyum riang, rasa lelahku hilang.
Malam harinya, usai makan malam
bersama di ruang keluarga aku segera kembali ke kamar, mengerjakan tugas yang
menumpuk. Sudah dua hari aku menundanya, dan malam ini aku bertekad untuk
menyelesaikan tugasku yang sudah berorasi sejak kemarin malam mengganggu
tidurku. Tapi, tiba-tiba ponselku berdering. Ayunda.
“ Woy Bin !”
“ Apaan, sibuk nih lagi nugas.
Nelfon entar aja kenapa ?”
“ Bentar, Bin. Kita nongkrong di
pasar malem yuk ?” Aku hendak memutus sambungan telefonnya yang amat tidak
berfaedah, tapi ia berteriak kencang-kencang dari ujung sebrang yang entah
dimana.
“ Ayo nostalgia, Bin ! Tepatin janji
!” Dadaku seakan tertohok mendengar Ayunda berteriak dengan teriakan lantang
dan tegas. Mengalahkan para paskibraka nasional yang harus dilatih
berbulan-bulan. Aku tutup buku-buku yang hendak mendemoku, aku raih jaket dan
segera pergi menyusulnya. Aku ingin tenang, semoga ini cara yang bagus.
“ Akhirnya, datang juga, Bin.” Aku
tersenyum masam. Duduk di sampingnya.
“ Bin, semua orang bisa jadi
menyukai pasar malam, tadi aku tidak yakin mereka maniak sepertimu.” Ia
terkekeh, disambut tawa Bila.
“ Di sini, aku bertemu seorang
laki-laki yang sedang terluka. Aku melihat, hatinya seperti tertusuk ribuan
pedang, ia menangis sesenggukan beberapa meter di dekat wahana komedi putar.
Jadi, aku menemuinya, bertanya nama dan alasan yang membuatnya menangis. Tapi,
ia tertegun dan malah pergi.”
“ Dan, itu cinta pertamamu ?”
“ Pasar malam selalu membuatku jatuh
cinta lagi dan lagi, maka aku sebut sebagai candu. Jadi, karena saat itu hari
ketujuh pasar malam ini, maka esoknya aku tidak pernah bertemu dengannya lagi
hingga enam bulan berikutnya, di pasar malam yang sama, malam yang sama hanya
tahun dan keadaan hatinya berbeda.”
“ Apa dia bahagia ?”
“ Di malam yang dingin itu, tidak
biasanya, gerimis menyelimuti kota kita, membasuh wajahku yang sedang duduk
menikmati kelap-kelip lampu kota dalam bianglala, tiba-tiba saja seseorang
berteriak padaku dari atas, laki-laki itu ternyata. Aku bertemu dengannya lagi,
ia tampak riang.”
“ Ah, baguslah.”
“ Maka usai menaiki wahana
bianglala. Ia menghampiriku, memberiku satu permen kapas dan mengatakan terima
kasih.”
“ Apa kalian masih bertemu ?”
“ Tidak kusangka, besoknya dia
menjadi siswa baru di sekolahku, sekolah dasar.”
“ Seperti dongeng.”
“ Jadi, kami saling mengenal dan
berbagi cerita selama beberapa waktu. Hingga bulan ketujuh sejak kepindahannya
kami lulus sekolah dasar. Ia pergi ke Jakarta, sedangkan aku melanjutkan
pendidikan di kota ini. Hingga sekarang. Sejak kepergiannya, kami tidak pernah
berhubungan lagi.”
“ Jadi ?”
“ Jadi, sejak lima tahun lalu aku
lupa rasanya jatuh cinta pada seseorang. Aku hanya merasakan sebuah getaran,
gejolak setiap mengunjungi pasar malam. Pasar malam mana pun. Dan, tiba-tiba
saja kemarin lusa. Aku ingin mual, dan, aku menyadari rasa itu datang lagi.”
“ Apa dia kembali ?”
“ Aku bertemu dengannya kemarin
malam dan tadi pagi.”
“ Benarkah ?!” Ayunda dan Bila
terkejut, wajah mereka tampak penasaran.
“ Tidak ada yang spesial. Semua bisa
berubah dalam jangka waktu pendek, apalagi selang waktu tujuh tahun.”
“ Apa dia mengingatmu ?”
“ Aku dulu sering mengajar di panti
asuhan milik adiknya. Entah, dia mengingatku atau tidak. Tapi, ia menyapaku
kemarin malam dan tadi pagi.”
“ Benarkah ? Siapa namanya ?”
“ Ah, sudahlah.”
Maka hari-hari berikutnya, semua itu
menjadi kebiasaan. Pagi bertemu, ia hanya menyapa dengan satu-dua kata, sorenya
kue kering buatan ibu selalu habis. Sudah dua minggu dan hampir menjadi
rutinitas. Jadilah di hari keempat belas, saat langit dilukis Tuhan dengan
gradasi jingga, oren dan putih, aku baru tiba di pasar jam lima sore.
“ Hai, Nak. Kemarilah.” Perempuan
penjaga toko yang sudah beruban itu memanggil. Awalnya aku sedikit takut,
terbayang sinema hantu mak lampir yang sering aku tonton saat masih kecil, aku
mendekat.
“ Namamu Bintang ?”
“ Nggih, Mbah.”
“ Nak, apa kau menyadari sesuatu
tentang kue keringmu ?”
“ Kue kering ini selalu habis dua
minggu terakhir, Mbah.”
“ Itulah faktanya, Nak. Laki-laki
itu sudah tiba jam setengah empat pagi, membantuku membuka toko, menyiapkan
hal-hal kecil di sini. Ia pesan, jika
kuenya tersisa ia akan membelinya, maka setiap tengah hari pembantunya datang
untuk mengambil sisa kue-kuemu, membayar dengan uang lebih.”
“ Siapa, Mbah ?”
“ Laki-laki yang setiap hari menyapamu,
Nak.” Aku terdiam dalam lamunan panjang. Tik tok tik tok, suara jam dinding tua
itu menemani hembusan angin senja. Ada apa, Meda ? Maka usai mengucapkan terima
kasih, aku mengayuh sepedaku kembali hingga tiba di rumah.
Sejak itu, esoknya aku tak pernah
melihat Meda lagi. Waktu terus melesat, hingga satu bulan berikutnya aku
mendengar kabar ia akan menikah. Saat aku datang ke panti untuk menjenguk Rena
kemarin lusa, Adik Meda mengajakku berbincang sekadar basa-basi. Namun, karena
aku beberapa hari terakhir insomnia, jadilah aku bertanya kabar Meda. Tapi, ia
justru memberi informasi tentang pernikahan Meda dan alasan kepergiannya yang
tiba-tiba itu. Aku tersentak. Pulangnya aku pergi ke tepian sungai yang tenang,
menangis sesenggukan di sana hingga malam tiba. Cinta itu misterus, datang
memaksaku menerima, pergi tanpa memberi kabar. Harusnya aku mengerti ini hanya
persahabatan biasa.
Dan, hari ini adalah hari pembukaan
pasar malam di lapangan besar kecamatan, aku harus bangkit, tersenyum dan
menghibur diriku. Jika obat mujarab dari patah hati adalah jatuh cinta kembali,
maka malam ini aku ingin jatuh cinta kembali. Jam delapan malam, aku berangkat.
Kurapatkan syal yang melilit
leherku, malam ini dingin. Suhu kota ini tercatat di ponselku mencapai dua
puluh derajat celcius, kuputuskan menghangatkan diri di sebuah kafe sambil
meminum kopi hangat. Kedai kopi ini terbilang ramai, semua kursi terisi penuh
kecuali dua kursi di pojok kedai. Aku memutuskan duduk di sana. Usai memesan
secangkir kopi hangat, aku menyeduhnya pelan-pelan sambil mengondisikan bisnis online melalui ponsel yang sudah
kurintis sejak SMA. Dan, seseorang duduk di sampingku, memesan secangkir kopi
yang sama. Kuletakkan ponselku, berpaling wajahku padanya.
“ Selamat malam.” Senyumnya yang
khas. Ujung bibirnya sempurna tertarik 2-3 cm ke arah berlawanan, membentuk
huruf U.
“ Selamat malam, Meda.” Aku terpaku
beberapa saat, hingga tiba-tiba saja kopi pesanannya sudah datang, membuyarkan
lamunanku.
“ Akhirnya, kita bisa bertemu di
momen seperti ini.” Apa maksudnya ? Momen seperti ini ? Momen dua sahabat lama
yang rindu karena tidak berjumpa tujuh tahun ? Ah, tidak. Satu bulan.
“ Hari ini pembukaan pasar malam.”
“ Jadi, aku duduk di bawah bianglala
sambil mengawasi kedatanganmu.” Mengawasiku ? Sahabat lama yang tidak pernah
berjumpa. Mungkin, ia ragu apa benar orang yang datang dengan sepeda kayuh
adalah sahabatnya tujuh tahun lalu, maka ia meneliti.
“ Ahya, selamat berjumpa kembali.”
Sapaku dengan senyum kaku. Maka ia bercerita banyak hal soal petualangannya
selama tujuh tahun, perantauan yang panjang. Suasana mencair, seperti yang
kuduga di awal cerita ini. Meda, kau masih sama.
“ Kau, kau akan menikah ?”
Patah-patah aku bertanya di tengah pembicaraan, susah payah kuatur kalimatku
sedemikian rupa agar aksennya terdengar normal, tapi keringat dingin membuat
telapak tanganku lembab. Ekspresi Meda berubah. Wajahnya mendadak pucat,
keningnya terlipat. Kutatap matanya berubah menjadi sendu.
“ Bagaimana bisa tau ?” Suaranya
terdengar lirih sekali, tapi aku masih bisa mendengarnya, kujelaskan kejadian
kemarin lusa di panti. Ia mencoba mengendalikan diri.
“ Aku tidak akan menikah dengannya,
Bin. Percayalah.” Ia hanya menjawab dengan jawaban itu, maka topik selanjutnya
berganti. Tidak masalah, aku cukup lega mendengarnya. Ia tidak akan menikah
dengan gadis itu, pikirku singkat.
“ Hari ketujuh datanglah kemari. Ayo
mengenang masa-masa itu.” Maka, sebelum aku bertanya, ia sudah berlalu. Aku
tersenyum, bahagia hingga tidak bisa memejamkan mata semalaman suntuk.
Hingga tibalah malam ketujuh di
bulan November. Aku sudah mencoba semua pakaian di almari, mencoba beberapa
peralatan make up yang sebelumya belum pernah
kugunakan, aku harus cantik malam ini. Aku membawa tas yang baru aku beli tadi
pagi, kupakai wewangian yang sebelumnya tak pernah kugunakan. Lengkap sudah
penampilanku malam ini.
Aku berpamitan dengan kedua
orangtuaku dan segera pergi ke pasar malam. Ini hari terakhir pasar malam ini
berada di kotaku, esok pasti sudah pindah, keliling ke kota lainnya. Aku
memutuskan untuk mengungkapkan semuanya sebelum esok, sebelum pasar malam tak
pernah ada lagi di kota ini. Meski nanti tidak terbalas, tak masalah.
Setidaknya aku lega.
Maka beberapa meter dari lokasi
pasar malam, aku melihat asap mengepul dilokasi pasar malam, kukayu sepeda
makin cepat dan dadaku semakin sesak karena asap itu membuatku sesak bernapas,
semesntara aku tak mengenakan masker atau alat pengaman lainnya. Dan, benar
saja. Pasar malam terbakar. Pasar malam ramai dengan pengunjung yang
kocar-kacir, pemadam kebakaran berusaha memadamkan api. Meda ! Diamana Meda ?
Batinku sesak, membayangkan hal buruk terjadi padanya. Aku pastilah tidak bisa
memasuki area, garis polisi terpasang beberapa menit kemudian setelah api
berhasil dipadamkan, dan bianglalanya hampir tumbang. Hampir saja wahana itu menjadi abu.
Selanjutnya, isak tangis menyeruak,
gerimis membasahi kota ini. Kembali ke malam tujuh November tujuh tahun lalu.
Jen, adik Meda tersungkur di bawah bianglala, memeluk seorang pria yang wajahnya
sudah tidak dapat dikenali. Jadi, itulah kejadian yang membuatku berhenti
mencinta. Berhenti mencintai pasar malam, berhenti mencintai orang lain. Kau
tahu, hidup hanya sekali, maka jatuh cinta juga hanya sekali.
Malam ketujuh di Bulan November, aku
bahkan belum mendapat kejelasan soal pernikahannya, soal alasan mengapa ia
selalu datang dipagi hari untuk menyapaku, soal mengapa ia selalu membeli sisa
roti keringku. Menagapa, mengapa, dan ah..sudahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar