Senin, 24 Juli 2017

Pasar Malam



Kau. Kau pernah merasa hatimu bergejolak ?
Rasanya seakan ingin meledak ?
Cinta. Tiada seorang pun yang menghantui pikiranmu
Tapi, sejak pagi menyingsing, hingga malam merengkuh
Dadaku sesak
Bibirku tak henti-hentinya tersenyum
Lantas, kepada siapa kujatuh hati ?
Bianglala raksasa, 7 September 2007
           
Angin berhembus begitu tenang, menelisik seolah membisik. Beberapa pengunjung tertawa sambil menaiki komedi putar. Tidak. Ini bukan sebuah paradoks. Aku sendiri juga sama bahagianya dengan mereka, sama jatuh cintanya seperti dua sejoli yang berkencan sambil menikmati permen kapas mereka. Tapi, lihatlah. Langit hari ini juga sama, gemintang seolah tersenyum menyaksikan kami yang sedang tertawa riang menikmati malam ketujuh di bulan September.
            Dalam rekaman memori kecil ini, ada sebuah kisah yang membuatku selalu ingin datang kemari bagai tersengat candu. Seolah aku terjatuh ke dalam lubang dengan setan-setan menarik kakiku hingga aku tak memiliki daya untuk keluar. Jadi, inilah dunia yang tak luas juga tak sempit. Meski aku tak pernah menjelajah dunia, biarlah. Aku bersyukur karena meski tak memiliki pintu ajaib, aku tetap bisa menikmati musim salju dan musim gugur, musim semu, di sini. Di hatiku.
            “ Tante Bintang !” Biar kuhitung. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Ya, tujuh meter dari tempat gaya gravitasi menarikku ke pusat Bumi, dan gaya normal menarikku ke arah sebaliknya, seorang anak kecil berlari tergopoh-gopoh sambil membawa sebuah boneka beruang yang ukurannya lebih besar darinya. Aku tersenyum, setengah berlari menghampirinya, memeluknya hangat dan menggendongnya.
            “ Tante, aku punya boneka baru.” Ujarnya riang.
            “ Iya, sayang. Kau sudah puas bermain ya ?” Kucubit pipinya gemas sambil tertawa kecil menatap ekspresinya.
            “ Aku ingin pulang, antarkan aku, Tante.”
            “ Loh, bukannya om Meda juga ikut ?” Sebelum Rena menjawab, Meda sudang berdiri tepat 10 cm dari tempatku berpijak, ketauhilah di pasar malam ini tidak ada rumah hantu. Tapi, Meda mungkin cocok jika ia melamar pekerjaan di sana. Aku mendengus, menaikkan alis. Masih saja sama.
            “ Sini, Rena. Ayo pulang.” Meda menjulurkan tangan, Rena berontak, menggelengkan kepala kuat-kuat. Ini kabar buruk.
            “ Rena di antar Tante Bintang !” Maka dengan terpaksa, aku akhiri keromantisanku bersama pasar malam dan kerlap-kerlipnya. Sudah tujuh tahun kita tidak berjumpa, Meda.
            Esoknya, pagi-pagi sekali aku terjungkal dari ranjang karena alrmku yang terlampau keras berdering, sedangkan ponselku tidak dapat kujangkau, hingga aku harus berjalan dengan malas menghampirinya dan menekan tombol off. Kulihat jam pada ponselku, normal. Jam empat pagi. Aku segera mengambil karet rambut di bawah tumpukan bantal yang masih berserakan, kuikatkan pada rambutku yang panjangnya hanya sebahu. Dengan segala rasa kantuk, aku menata kamar, dan tiba-tiba saja ‘Dug!’ Oh. Kakiku terbentur ujung ranjang yang dilapisi kayu jati nomor wahid. Jadilah, aku terseok-seok mengaduh dan kembali duduk diranjang.
            “ Bintang ! Bantu ibu, Nak !” Bukan saatnya menikmati perih di kaki karena ibu jauh lebih penting. Usai merapikan ranjang, kakiku segera melesat menuju dapur. Membantu ibu membuat aneka kue kering untuk dijual nanti.
            Maka pagi-pagi sekali usai menunaikan ibadah sholat subuh aku mengantar kue-kue itu. Seperti biasa, kue-kue itu ramai berbincang, saling berkenalan di dalam kotak kue mereka. Jadi, karena aku menerobos jalan tikus yang sepi, aku bisa mendengar obrolan mereka. Apalagi jika bukan membicarakan kualitas bahan, bagaimana calon pembeli dan lain-lain. Dunia memang tak luas dan tak sempit, tapi dunia penuh kejaiban.
            Setibanya di pasar dan usai kupakirkan sepeda di pinggiran toko yang berjejer. Keramaian menyeruak, manusia-manusia yang sibuk. Beberapa membawa keranjang, beberapa mengangkut anyaman bambu raksasa yang berisi sayuran segar, beberapa mengemudi mobil pick-up, beberapa melakukan transaksi jual beli.
            “ Selamat pagi.” Malaikat pasti dengan sengaja menghentikan mesin waktu dunia. Aku tersenyum kaku, mengangguk lemah. Ada apa gerangan yang membuatmu kemari, Meda ? Maka, biarlah aku menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Terlepas nanti Tuhan menjawabnya atau tidak, aku hanya tidak ingin larut dalam euforia. Lantas, Meda berlalu begitu saja, sepertinya ia terburu-buru. Pakainnya tampak rapi, mengenakan dasi dan sepatu ala pekerja kantoran. Usai berpamitan, ia segera berlalu dengan mobilnya, aku tersenyum kecil.
            Sorenya, sepulang kuliah dengan sisa dayaku, aku melangkah gontai ke pinggiran toko pasar. Pasar tampak lengang, beberapa sampah berserakan di jalan-jalan pasar. Aku mengambil kue kering titipan. Bu Weji tampak begitu cuek, seperti biasa. Jadi, kuambil uang dan kotak kur keringnya, tunggu. Kenapa uangnya banyak sekali ? Dan, ah. Habis tak tersisa, aku tersenyum riang, rasa lelahku hilang.
            Malam harinya, usai makan malam bersama di ruang keluarga aku segera kembali ke kamar, mengerjakan tugas yang menumpuk. Sudah dua hari aku menundanya, dan malam ini aku bertekad untuk menyelesaikan tugasku yang sudah berorasi sejak kemarin malam mengganggu tidurku. Tapi, tiba-tiba ponselku berdering. Ayunda.
            “ Woy Bin !”
            “ Apaan, sibuk nih lagi nugas. Nelfon entar aja kenapa ?”
            “ Bentar, Bin. Kita nongkrong di pasar malem yuk ?” Aku hendak memutus sambungan telefonnya yang amat tidak berfaedah, tapi ia berteriak kencang-kencang dari ujung sebrang yang entah dimana.
            “ Ayo nostalgia, Bin ! Tepatin janji !” Dadaku seakan tertohok mendengar Ayunda berteriak dengan teriakan lantang dan tegas. Mengalahkan para paskibraka nasional yang harus dilatih berbulan-bulan. Aku tutup buku-buku yang hendak mendemoku, aku raih jaket dan segera pergi menyusulnya. Aku ingin tenang, semoga ini cara yang bagus.
            “ Akhirnya, datang juga, Bin.” Aku tersenyum masam. Duduk di sampingnya.
            “ Bin, semua orang bisa jadi menyukai pasar malam, tadi aku tidak yakin mereka maniak sepertimu.” Ia terkekeh, disambut tawa Bila.
            “ Di sini, aku bertemu seorang laki-laki yang sedang terluka. Aku melihat, hatinya seperti tertusuk ribuan pedang, ia menangis sesenggukan beberapa meter di dekat wahana komedi putar. Jadi, aku menemuinya, bertanya nama dan alasan yang membuatnya menangis. Tapi, ia tertegun dan malah pergi.”
            “ Dan, itu cinta pertamamu ?”
            “ Pasar malam selalu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi, maka aku sebut sebagai candu. Jadi, karena saat itu hari ketujuh pasar malam ini, maka esoknya aku tidak pernah bertemu dengannya lagi hingga enam bulan berikutnya, di pasar malam yang sama, malam yang sama hanya tahun dan keadaan hatinya berbeda.”
            “ Apa dia bahagia ?”
            “ Di malam yang dingin itu, tidak biasanya, gerimis menyelimuti kota kita, membasuh wajahku yang sedang duduk menikmati kelap-kelip lampu kota dalam bianglala, tiba-tiba saja seseorang berteriak padaku dari atas, laki-laki itu ternyata. Aku bertemu dengannya lagi, ia tampak riang.”
            “ Ah, baguslah.”
            “ Maka usai menaiki wahana bianglala. Ia menghampiriku, memberiku satu permen kapas dan mengatakan terima kasih.”
            “ Apa kalian masih bertemu ?”
            “ Tidak kusangka, besoknya dia menjadi siswa baru di sekolahku, sekolah dasar.”
            “ Seperti dongeng.”
            “ Jadi, kami saling mengenal dan berbagi cerita selama beberapa waktu. Hingga bulan ketujuh sejak kepindahannya kami lulus sekolah dasar. Ia pergi ke Jakarta, sedangkan aku melanjutkan pendidikan di kota ini. Hingga sekarang. Sejak kepergiannya, kami tidak pernah berhubungan lagi.”
            “ Jadi ?”
            “ Jadi, sejak lima tahun lalu aku lupa rasanya jatuh cinta pada seseorang. Aku hanya merasakan sebuah getaran, gejolak setiap mengunjungi pasar malam. Pasar malam mana pun. Dan, tiba-tiba saja kemarin lusa. Aku ingin mual, dan, aku menyadari rasa itu datang lagi.”
            “ Apa dia kembali ?”
            “ Aku bertemu dengannya kemarin malam dan tadi pagi.”
            “ Benarkah ?!” Ayunda dan Bila terkejut, wajah mereka tampak penasaran.
            “ Tidak ada yang spesial. Semua bisa berubah dalam jangka waktu pendek, apalagi selang waktu tujuh tahun.”
            “ Apa dia mengingatmu ?”
            “ Aku dulu sering mengajar di panti asuhan milik adiknya. Entah, dia mengingatku atau tidak. Tapi, ia menyapaku kemarin malam dan tadi pagi.”
            “ Benarkah ? Siapa namanya ?”
            “ Ah, sudahlah.”
            Maka hari-hari berikutnya, semua itu menjadi kebiasaan. Pagi bertemu, ia hanya menyapa dengan satu-dua kata, sorenya kue kering buatan ibu selalu habis. Sudah dua minggu dan hampir menjadi rutinitas. Jadilah di hari keempat belas, saat langit dilukis Tuhan dengan gradasi jingga, oren dan putih, aku baru tiba di pasar jam lima sore.
            “ Hai, Nak. Kemarilah.” Perempuan penjaga toko yang sudah beruban itu memanggil. Awalnya aku sedikit takut, terbayang sinema hantu mak lampir yang sering aku tonton saat masih kecil, aku mendekat.
            “ Namamu Bintang ?”
            Nggih, Mbah.”
            “ Nak, apa kau menyadari sesuatu tentang kue keringmu ?”
            “ Kue kering ini selalu habis dua minggu terakhir, Mbah.”
            “ Itulah faktanya, Nak. Laki-laki itu sudah tiba jam setengah empat pagi, membantuku membuka toko, menyiapkan hal-hal kecil di sini. Ia pesan,  jika kuenya tersisa ia akan membelinya, maka setiap tengah hari pembantunya datang untuk mengambil sisa kue-kuemu, membayar dengan uang lebih.”
            “ Siapa, Mbah ?”
            “ Laki-laki yang setiap hari menyapamu, Nak.” Aku terdiam dalam lamunan panjang. Tik tok tik tok, suara jam dinding tua itu menemani hembusan angin senja. Ada apa, Meda ? Maka usai mengucapkan terima kasih, aku mengayuh sepedaku kembali hingga tiba di rumah.
            Sejak itu, esoknya aku tak pernah melihat Meda lagi. Waktu terus melesat, hingga satu bulan berikutnya aku mendengar kabar ia akan menikah. Saat aku datang ke panti untuk menjenguk Rena kemarin lusa, Adik Meda mengajakku berbincang sekadar basa-basi. Namun, karena aku beberapa hari terakhir insomnia, jadilah aku bertanya kabar Meda. Tapi, ia justru memberi informasi tentang pernikahan Meda dan alasan kepergiannya yang tiba-tiba itu. Aku tersentak. Pulangnya aku pergi ke tepian sungai yang tenang, menangis sesenggukan di sana hingga malam tiba. Cinta itu misterus, datang memaksaku menerima, pergi tanpa memberi kabar. Harusnya aku mengerti ini hanya persahabatan biasa.
            Dan, hari ini adalah hari pembukaan pasar malam di lapangan besar kecamatan, aku harus bangkit, tersenyum dan menghibur diriku. Jika obat mujarab dari patah hati adalah jatuh cinta kembali, maka malam ini aku ingin jatuh cinta kembali. Jam delapan malam, aku berangkat.
            Kurapatkan syal yang melilit leherku, malam ini dingin. Suhu kota ini tercatat di ponselku mencapai dua puluh derajat celcius, kuputuskan menghangatkan diri di sebuah kafe sambil meminum kopi hangat. Kedai kopi ini terbilang ramai, semua kursi terisi penuh kecuali dua kursi di pojok kedai. Aku memutuskan duduk di sana. Usai memesan secangkir kopi hangat, aku menyeduhnya pelan-pelan sambil mengondisikan bisnis online melalui ponsel yang sudah kurintis sejak SMA. Dan, seseorang duduk di sampingku, memesan secangkir kopi yang sama. Kuletakkan ponselku, berpaling wajahku padanya.
            “ Selamat malam.” Senyumnya yang khas. Ujung bibirnya sempurna tertarik 2-3 cm ke arah berlawanan, membentuk huruf U.
            “ Selamat malam, Meda.” Aku terpaku beberapa saat, hingga tiba-tiba saja kopi pesanannya sudah datang, membuyarkan lamunanku.
            “ Akhirnya, kita bisa bertemu di momen seperti ini.” Apa maksudnya ? Momen seperti ini ? Momen dua sahabat lama yang rindu karena tidak berjumpa tujuh tahun ? Ah, tidak. Satu bulan.
            “ Hari ini pembukaan pasar malam.”
            “ Jadi, aku duduk di bawah bianglala sambil mengawasi kedatanganmu.” Mengawasiku ? Sahabat lama yang tidak pernah berjumpa. Mungkin, ia ragu apa benar orang yang datang dengan sepeda kayuh adalah sahabatnya tujuh tahun lalu, maka ia meneliti.
            “ Ahya, selamat berjumpa kembali.” Sapaku dengan senyum kaku. Maka ia bercerita banyak hal soal petualangannya selama tujuh tahun, perantauan yang panjang. Suasana mencair, seperti yang kuduga di awal cerita ini. Meda, kau masih sama.
            “ Kau, kau akan menikah ?” Patah-patah aku bertanya di tengah pembicaraan, susah payah kuatur kalimatku sedemikian rupa agar aksennya terdengar normal, tapi keringat dingin membuat telapak tanganku lembab. Ekspresi Meda berubah. Wajahnya mendadak pucat, keningnya terlipat. Kutatap matanya berubah menjadi sendu.
            “ Bagaimana bisa tau ?” Suaranya terdengar lirih sekali, tapi aku masih bisa mendengarnya, kujelaskan kejadian kemarin lusa di panti. Ia mencoba mengendalikan diri.
            “ Aku tidak akan menikah dengannya, Bin. Percayalah.” Ia hanya menjawab dengan jawaban itu, maka topik selanjutnya berganti. Tidak masalah, aku cukup lega mendengarnya. Ia tidak akan menikah dengan gadis itu, pikirku singkat.
            “ Hari ketujuh datanglah kemari. Ayo mengenang masa-masa itu.” Maka, sebelum aku bertanya, ia sudah berlalu. Aku tersenyum, bahagia hingga tidak bisa memejamkan mata semalaman suntuk.
            Hingga tibalah malam ketujuh di bulan November. Aku sudah mencoba semua pakaian di almari, mencoba beberapa peralatan  make up yang sebelumya belum pernah kugunakan, aku harus cantik malam ini. Aku membawa tas yang baru aku beli tadi pagi, kupakai wewangian yang sebelumnya tak pernah kugunakan. Lengkap sudah penampilanku malam ini.
            Aku berpamitan dengan kedua orangtuaku dan segera pergi ke pasar malam. Ini hari terakhir pasar malam ini berada di kotaku, esok pasti sudah pindah, keliling ke kota lainnya. Aku memutuskan untuk mengungkapkan semuanya sebelum esok, sebelum pasar malam tak pernah ada lagi di kota ini. Meski nanti tidak terbalas, tak masalah. Setidaknya aku lega.
            Maka beberapa meter dari lokasi pasar malam, aku melihat asap mengepul dilokasi pasar malam, kukayu sepeda makin cepat dan dadaku semakin sesak karena asap itu membuatku sesak bernapas, semesntara aku tak mengenakan masker atau alat pengaman lainnya. Dan, benar saja. Pasar malam terbakar. Pasar malam ramai dengan pengunjung yang kocar-kacir, pemadam kebakaran berusaha memadamkan api. Meda ! Diamana Meda ? Batinku sesak, membayangkan hal buruk terjadi padanya. Aku pastilah tidak bisa memasuki area, garis polisi terpasang beberapa menit kemudian setelah api berhasil dipadamkan, dan bianglalanya hampir tumbang. Hampir saja wahana  itu menjadi abu.
            Selanjutnya, isak tangis menyeruak, gerimis membasahi kota ini. Kembali ke malam tujuh November tujuh tahun lalu. Jen, adik Meda tersungkur di bawah bianglala, memeluk seorang pria yang wajahnya sudah tidak dapat dikenali. Jadi, itulah kejadian yang membuatku berhenti mencinta. Berhenti mencintai pasar malam, berhenti mencintai orang lain. Kau tahu, hidup hanya sekali, maka jatuh cinta juga hanya sekali.
            Malam ketujuh di Bulan November, aku bahkan belum mendapat kejelasan soal pernikahannya, soal alasan mengapa ia selalu datang dipagi hari untuk menyapaku, soal mengapa ia selalu membeli sisa roti keringku. Menagapa, mengapa, dan ah..sudahlah.

           
           
           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar