Senja
langitku yang bahkan tak dapat kupandang dengan jelas. Lihatlah, asap itu mengepul
ke udara, asap itu benar-benar tebal hingga mataku tak dapat menembus untuk
menatap langit senja. Aku termenung di hamparan luas yang dulunya adalah
rumahku, hanya ada pasir gersang, debu berterbangan dan bekas peperangan.
Kugigit bibir bawahku sambil menahan getirnya masa lalu. Kupalingkan wajahku ke
depan. Ribuan saraf dalam otakku bekerja, jutaan bahkan miliaran dendrit di
dalam otakku seakan berkedip seperti lampu-lampu kecil nan indah, listriknya
bergerak cepat, menghantar rangsangan dan hingga aku dapat mengingat.
Di sana,
di bawah beberapa pohon kurma itu aku pernah duduk bersama mereka. Kami berlima
benar-benar bahagia saat itu, menikmati hidangan makan siang, piknik yang indah
meski makan siang hari itu tidak mewah.
Kupegang
dadaku, kupejamkan mataku. Permasalahan ini tak pelik konflik agama yang tak
kunjung selesai, sesak aku merasakan rasa sakit yang mendalam terhadap
orang-orang biadab itu. Apa agama mereka tak mengajarkan sepercik saja kebaikan
? Pembantaian terhadap masyarakat sipil tidak sepantasnya dilakukan, kenangan
dimana saat aku bersama ketiga sudaraku berlarian beberapa meter dari tempat
aku duduk sekarang. Semua kenangan itu bagai fatamorgana, entah nyata atau hanya
ilusi.
Sejak
pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh militan satu tahun lalu, aku
selalu enggan menatap wajah mereka, seharusnya agama mereka juga mengajarkan
tentang kemanusiaan, tentang indahnya kita hidup perdampingan di antara banyak
perbedaan, tapi omong kosong. Tanah kelahiranku dijajah, keluargaku mereka
bunuh. Hanya tersisa pasir tandus dan puing-puing sisa pengeboman. Senja itu
juga aku tersungkur, terisak sejadi-jadinya.
Saat
aku menangis itulah, saraf-saraf di dalam otakku kembali bekerja, seakan secara
otomatis memutar sebuah film. Satu tahun lalu ditempat aku terbaring saat in
adalah sebuah rumah. Rumah sederhana dengan pondasi yang kokoh, penghuninya adalah
keluarga kecil yang selalu bahagia karena kebersyukurannya. Meski aku dan
keluargaku miskin, kami adalah keluarga bahagia. Kedua orang tuaku adalah
petani di lahan, kedua adikku masih bersekolah di sekolah dasar dan mereka amat
cerdas.
Siang
itu kami berencana rekreasi ke pantai menghilangkan penat setelah satu minggu
bersekolah. Namun, karena siang itu cuaca sedikit mendung, dan kita tidak
mengetahui kapan penjajah itu akan menyerang kami, maka kami memutuskan untuk
piknik di depan rumah saja. Saat kami bercanda gurau menikmati hidangan buatan
ibu, tiba-tiba terdengar suara takbir menggema dari kejauhan, kami saling
berpandangan. Adikku mulai cemas dan memeluk ibuku. Lama kelamaan suara takbir
itu semakin kencang, diiringi dengan suara ledakan yang terjadi seakan ledakan
itu berantai, tanganku yang sedang memegang roti gemetar.
Aku
menatap ibu yang memeluk kedua ibuku, ayah segara memerintahkan kami untuk
segera berlindung di ruang bawah tanah. Kami segera masuk ke dalam rumah. Aku,
ibuku dan kedua adikku berlarian ke ruang bawah tanah. Ayahku mengambil
beberapa alat persenjataan dan bergegas keluar rumah. Ayahku adalah seorang
pejuang, beliau selalu bergarak dibarisan paling depan saat penjajah itu mulai
masuk ke dalam kompleks rumah warga sipil, mereka meringsuk ke rumah-rumah
menembaki apa yang ada, beberapa dari mereka membawa wanita-wanita. Aku
mendengar teriakan takbir ayah dari ruang bawah tanah, lututku semakin gemetar,
gigiku bergemelatuk. Kudengar suara tembakan berulang-ulang.
“
Laa ilaha illallah.” Aku mendengar rintihan pelan yang datangnya dari luar.
Suara yang berat, begitu merdu dan menyejukkan. Dadaku saat itu juga terasa
seakan ditusuk ribuan jarum, kami berempat saling berpelukan erat di ruangan
kecil dan bau itu. Tangis kami memecah keheningan beberapa menit yang lalu.
Coba bayangkan, malaikat mau baru saja datang tanpa salam dan membawa ayahku
pergi tanpa berpamitan.
Usai
keheningan mencekam, tiba-tiba saja aku mendengar suara sepatu buts berjalan di
atas kami. Langkah itu terdengar perlahan namun pasti. Mereka mencari korban.
Kami tetap berpelukan erat, tangis mereda sejenak dan bulu kudukku berdiri.
Langkah kaki itu terus bergerak, memporak-porandakan seisi rumah, mencari sisa
kehidupan. Kudengar suara kaki itu mendekati pintu ruang bawah tanah kami,
seseorang di luar sana mencoba membuka pintu kayu yang kami ganjal dengan
banyak perabotan dari dalam. Mereka mendorong, memukul, menendang. Mencoba
merusah pintu kayu yang hampir usang. Doa tak henti-henti kami panjatkan agar
Tuhan menyelamatkan kami.
Tepat
saat tendangan kelima, pintu berhasil dibuka, mereka bergegas memasuki ruangan
pengap ini. Tubuhku lemas, kami pasrah. Mata mereka awas, menatap kami berempat
dengan tajam. Detik itu juga, salah satu dari mereka menarik pelatuk,
mengarahkan sasaran pada dada ibuku, dan peluru itu menghunjam begitu cepat ke
dada ibuku, bahkan tanpa kusadari ibuku sudah tersungkur, tersenyum sambil
samar mengucap syahadat.
Kami
bertiga memeluk ibu yang sudah berlumuran darah, jantung ibuku telah berhenti
untuk berdetak. Tiada yang memompa sel darah merah untuk mengedarkan oksigen ke
seluruh tubuh, maka tubuh ibuku memucat dan nafasnya berhenti. Tidak cukup
dengan satu tembakan, mereka mengarahkan tembak pada kedua adikku. Salah satu
dari mereka memegang pelatuk peluru, dan tiga detik berikutnya peluru itu
melesat begitu cepat. Aku segera berlari dan memeluk kedua adikku. Beberapa
detik kemudian, seolah drama kehidupan ini diputar perlahan oleh Tuhan. Peluru
itu menghunjam perutku, rasanya begitu sakit. Darah mengucur deras, dan aku tak
dapat menopang tubuhku. Tapi, mereka membawa kedua adikku, aku dengan tenaga
seadanya menahan kaki mereka, merintih memohon agar kedua adikku dibebaskan.
Mereka acuh, dan dua hitungan kemudian aku tak sadarkan diri.
Aku
terbangun, dan menatap lampu yang begitu terang. Aku kerjapkan mataku sekali
dua kali perlahan. Perutku diperban, ada infus di sampingku, dan kutatap ada
seorang dokter cantik yang seolah menyambutku. Dokter itu tersenyum menatapku.
Ada apa ? Bukankah tadi siang aku hanya berbaring di bawah langit yang penuh
kepulan asap ? Bukankah aku hanya merenung, membayangkan masa lalu paling
menyedihkan itu untuk beberapa saat ? Kenapa saat ini perutku diperban ?
“
Assalamualaikum, Sabrina.” Dokter itu menyapa riang, aku tersenyum kecil. Ini
bukan mimpi, rasa sakit yang kurasakan nyata.
“
Apa keadaanmu sudah membaik ?”
“
Ada apa denganku, Dok ?”
“
Sebaiknya kau makan dulu, Nak. Ini sudah malam, Irene akan senang mendengar
kabarmu. Sudah tiga hari kau tidak sadarkan diri.”
“
Irene ?”
“
Hai, Sabrina. Aku Irene.” Seorang perempuan cantik berkulit putih khas
perempuan Eropa, berambut pirang dan bermata biru itu menatapku ramah. Tersenyum.
Tiba-tiba
saja tubuhku bergetar hebat, sekuat tenaga kucoba untuk berlari ke pojok ruang
rumah sakit ini, jarum infusku terlepas, aku ketakutan. Irene. Dia pasti salah
satu manusia biadab itu, dia akan membunuhku. Bagaimana dokter tidak tahu
mengenai hal itu ? Aku memalingkan wajah dari Irene, Irene dengan heran
mendekatiku perlahan.
“
Jangan mendekatiku !” Aku berteriak histeris, selang beberapa lama kemudian
bayangan itu muncul kembali, aku kembali menangis, tangisan yang panjang.
Sepanjang malam itu aku menangis di pojok ruang rumah sakit hingga aku tertidur
pulas.
Esok
paginya, saat suster mengantarkan sarapan pagi. Aku sudah terjaga, menatap
kosong ke arah jendela kamar rumah sakit sambil memeluk kedua lututku. Suster
itu tersenyum, mengantarkan makanan, meletakkan makanan di samping ranjangku,
kemudia berpamitan untuk keluar, namun aku menahannya.
“
Apa aku sedang bermimpi ?”
“
Tidak, Sayang.”
“
Bagaimana bisa aku dalam keadaan luka terbaring tak berdaya di kamar ini ?”
“
Tiga hari yang lalu Irene menyelamatkanmu.”
“
Tidak mungkin.”
“
Tidak mungkin, tapi kenyataannya begitu.
Irene adalah mahasiswa Prancis yang pergi ke negara kita untuk
berempati, ia memberikan sumbangan dan tenaganya untuk membantu warga di sini.”
“
Dia bukan muslim.”
“
Irene bukan muslim, tapi Irene manusia.” Suster itu tersenyum, mengakhiri
pembicaraan singkat kami dengan kaliamat yang membuat jantungku seolah
berhenti.
Malamnya,
aku berencana untuk pergi keluar, menghirup udara di luar karena bosan di ruang
rumah sakit, namun saat aku hendak keluar langkahku terhenti. Aku mendengar dua
orang perempuan bercakap-cakap dengan nada serius. Aku hendak mengintip dari
balik lubang kunci pintu, namun tidak bisa kutatap. Tapi, aku mengenali suara
salah satu dari mereka adalah dokter yang kemarin menyambutku.
“
Ada apa dengan Sabrina ? Aku bahagia saat mendengar ia sadar, namun aku amat
cemas usai melihat reaksinya kemarin malam.”
“
Ia mengalami trauma berat, Irene. Ia pernah melihat ibunya sendiri meninggal di
depan matanya karena penjajah itu, sejak itulah ia memutuskan untuk membenci
orang-orang yang beragama selain Islam. Tubuhnya bergetar amat hebat, jika
orang selain Islam mendekatinya, ia akan lari terbirit-birit, kemudian
menangiskarena kejadian satu tahun silam itu seperti sebuah film yang sedang
diputar di dalam otaknya kemudian ia tertidur. Begitulah reaksinya selama satu
tahun terakhir, aku khawatir.”
“
Oh Tuhan, dia pasti tertekan.”
“
Iya, Irene. Dia tidak percaya pada suster yang mengatakan bahwa kau yang
menyelamatkannya.”
“
Tidak masalah, Dok. Aku bahagia mendengar kondisi Sabrina membaik.”
“
Sabrina harus menjalani beberapa perawatan intensif karena kakinya juga terkena
tembak. Ia harus belajar berjalan.”
“
Aku bisa mengajaknya berbicara kembali dan mengajaknya belajar berjalan.”
“
Kita coba saja setelah ini, semoga semua membaik.” Usai percakapan itu, aku
segera berjinjit, berjalan mengendap ke ranjang dan kembali berbaring.
Kupejamkan mataku.
Dokter
dan Irene membuka pintu. Dokter memeriksa keadaanku, kulihat samar dokter
tersenyum menandakan keadaanku sudah membaik, wajah Irene tampak lega. Usai
dokter memeriksaku, Irene tinggal sejenak di samping ranjangku, kutahan sekuat
tenaga agar tubuhku tidak gemetar, tapi aku tidak berhasil. Seperti biasa,
tubuhku gemetar hebat dan aku berlari dengan tertatih ke pojok ruangan. Irene sontak
terkejut, namun beberapa saat kemudian ia mencoba mengerti dan tersenyum
hangat. Ia tidak mendekat.
“
Selamat malam, Saudaraku.” Ia memulai keheningan malam dengan pembicaraan yang
ringan, kutatap matanya tiada kekejaman di sana, tiada kebohongan. Ia begitu
tulus menyambutku. Aku tetap terdiam di pojok ruangan.
“
Hai, Sabrina. Aku Irene, usiaku dua tahun di atas usiamu. Aku senang
dipertemukan denganmu.” Tubuhku sudah tidak gemetaran, dan ujung bibirku
tersenyum simpul. Tapi, Irene dapat melihat senyumku.
“
Aku senang melihat senyummu yang pertama, bolehkah aku mendekat ?” Kepalaku
mengangguk lemah, anatara takut dan penasaran. Irene mulai mendekat, ia
berjongkok di hadapanku, tersenyum.
“
Hai, bisakah kita berkenalan sekarang ?” Irene mengulurkan tangan kanannya, aku
menatap matanya tajam, kuulurkan tanganku dengan sedikit gemetar.
“
Aku Irene, maukah kau menjadi temanku ?”
“
Aku Sabrina. Mengapa kau menyelamatkanku ?”
“
Entah apa yang membuat traumamu menurun begitu cepat, Sab. Aku tidak
menyelamatkanmu, sungguh. Tuhanlah yang berkehendak atas semua itu.” Aku
tersenyum masam.
“
Sab, setiap manusia pasti mempunyai naluri untuk melindungi, berperilaku heorik
meskipun menurut pandangan evolusi itu akan menghalangi kita untuk menghasilkan
keturunan. Tidak masalah apa agamamu, apa rasmu, apa bangsamu. Hal baik bukan
saja dilakukan meski kita berbeda, semua karena kemanusiaan.”
“
Kemanusiaan ?”
“
Aku tahu ada banyak perbedaan di antara kita. Kau berasal dari belahan Bumi
tengah, sementara aku utara. Kau berkulit sawo matang, sementara aku putih,
iris matamu bewarna hitam, sementara aku biru, kau mengenakan kerudung
sementara aku tidak, kau muslim sementara aku katolik. Tidak masalah, ada
banyak perbedaan di antara kita sebagai manusia, meski kita terlahir kembar
identik. Tapi, untuk menciptakan sebuah perdamaian dunia dan kemaslahatan umat
manusia, kita terkadang perlu acuh terhadap perbedaan itu. Aku kemari atas
dasar persamaan kita sebagai manusia.” Aku tersenyum lebar, memeluknya dan
menangis haru. Trauma itu hilang dalam hitungan detik, ia juga memelukku
hangat, membelai kepalaku.
“
Kau membuatku teringat adikku di sana, Sab. Aku senang sekali mendengar kabar
kondisimu membaik.”
“
Terima kasih.” Ia melepaskan pelukan, menyeka ujung mataku. Ia mengulurkan
tangan kembali.
“
Maukah kau menjadi saudaraku ?” Aku menjabat tangannya, memeluknya kembali dan memang
benar. Terkadang kita perlu mengacuhkan perbedaan untuk menciptakan sebuah
perdamaian. Tanpa perbedaan dunia ini akan sama saja, monoton dan tidak
bewarna. Malam itu trauma akutku sembuh karena hatiku berhasil menerima bahwa
perbedaan itu indah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar