Sabtu, 30 September 2017

Agen Perdamaian




Senja langitku yang bahkan tak dapat kupandang dengan jelas. Lihatlah, asap itu mengepul ke udara, asap itu benar-benar tebal hingga mataku tak dapat menembus untuk menatap langit senja. Aku termenung di hamparan luas yang dulunya adalah rumahku, hanya ada pasir gersang, debu berterbangan dan bekas peperangan. Kugigit bibir bawahku sambil menahan getirnya masa lalu. Kupalingkan wajahku ke depan. Ribuan saraf dalam otakku bekerja, jutaan bahkan miliaran dendrit di dalam otakku seakan berkedip seperti lampu-lampu kecil nan indah, listriknya bergerak cepat, menghantar rangsangan dan hingga aku dapat mengingat.
Di sana, di bawah beberapa pohon kurma itu aku pernah duduk bersama mereka. Kami berlima benar-benar bahagia saat itu, menikmati hidangan makan siang, piknik yang indah meski makan siang hari itu tidak mewah.
Kupegang dadaku, kupejamkan mataku. Permasalahan ini tak pelik konflik agama yang tak kunjung selesai, sesak aku merasakan rasa sakit yang mendalam terhadap orang-orang biadab itu. Apa agama mereka tak mengajarkan sepercik saja kebaikan ? Pembantaian terhadap masyarakat sipil tidak sepantasnya dilakukan, kenangan dimana saat aku bersama ketiga sudaraku berlarian beberapa meter dari tempat aku duduk sekarang. Semua kenangan itu bagai fatamorgana, entah nyata atau hanya ilusi.
Sejak pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh militan satu tahun lalu, aku selalu enggan menatap wajah mereka, seharusnya agama mereka juga mengajarkan tentang kemanusiaan, tentang indahnya kita hidup perdampingan di antara banyak perbedaan, tapi omong kosong. Tanah kelahiranku dijajah, keluargaku mereka bunuh. Hanya tersisa pasir tandus dan puing-puing sisa pengeboman. Senja itu juga aku tersungkur, terisak sejadi-jadinya.
Saat aku menangis itulah, saraf-saraf di dalam otakku kembali bekerja, seakan secara otomatis memutar sebuah film. Satu tahun lalu ditempat aku terbaring saat in adalah sebuah rumah. Rumah sederhana dengan pondasi yang kokoh, penghuninya adalah keluarga kecil yang selalu bahagia karena kebersyukurannya. Meski aku dan keluargaku miskin, kami adalah keluarga bahagia. Kedua orang tuaku adalah petani di lahan, kedua adikku masih bersekolah di sekolah dasar dan mereka amat cerdas.
Siang itu kami berencana rekreasi ke pantai menghilangkan penat setelah satu minggu bersekolah. Namun, karena siang itu cuaca sedikit mendung, dan kita tidak mengetahui kapan penjajah itu akan menyerang kami, maka kami memutuskan untuk piknik di depan rumah saja. Saat kami bercanda gurau menikmati hidangan buatan ibu, tiba-tiba terdengar suara takbir menggema dari kejauhan, kami saling berpandangan. Adikku mulai cemas dan memeluk ibuku. Lama kelamaan suara takbir itu semakin kencang, diiringi dengan suara ledakan yang terjadi seakan ledakan itu berantai, tanganku yang sedang memegang roti gemetar.
Aku menatap ibu yang memeluk kedua ibuku, ayah segara memerintahkan kami untuk segera berlindung di ruang bawah tanah. Kami segera masuk ke dalam rumah. Aku, ibuku dan kedua adikku berlarian ke ruang bawah tanah. Ayahku mengambil beberapa alat persenjataan dan bergegas keluar rumah. Ayahku adalah seorang pejuang, beliau selalu bergarak dibarisan paling depan saat penjajah itu mulai masuk ke dalam kompleks rumah warga sipil, mereka meringsuk ke rumah-rumah menembaki apa yang ada, beberapa dari mereka membawa wanita-wanita. Aku mendengar teriakan takbir ayah dari ruang bawah tanah, lututku semakin gemetar, gigiku bergemelatuk. Kudengar suara tembakan berulang-ulang.
“ Laa ilaha illallah.” Aku mendengar rintihan pelan yang datangnya dari luar. Suara yang berat, begitu merdu dan menyejukkan. Dadaku saat itu juga terasa seakan ditusuk ribuan jarum, kami berempat saling berpelukan erat di ruangan kecil dan bau itu. Tangis kami memecah keheningan beberapa menit yang lalu. Coba bayangkan, malaikat mau baru saja datang tanpa salam dan membawa ayahku pergi tanpa berpamitan.
Usai keheningan mencekam, tiba-tiba saja aku mendengar suara sepatu buts berjalan di atas kami. Langkah itu terdengar perlahan namun pasti. Mereka mencari korban. Kami tetap berpelukan erat, tangis mereda sejenak dan bulu kudukku berdiri. Langkah kaki itu terus bergerak, memporak-porandakan seisi rumah, mencari sisa kehidupan. Kudengar suara kaki itu mendekati pintu ruang bawah tanah kami, seseorang di luar sana mencoba membuka pintu kayu yang kami ganjal dengan banyak perabotan dari dalam. Mereka mendorong, memukul, menendang. Mencoba merusah pintu kayu yang hampir usang. Doa tak henti-henti kami panjatkan agar Tuhan menyelamatkan kami.
Tepat saat tendangan kelima, pintu berhasil dibuka, mereka bergegas memasuki ruangan pengap ini. Tubuhku lemas, kami pasrah. Mata mereka awas, menatap kami berempat dengan tajam. Detik itu juga, salah satu dari mereka menarik pelatuk, mengarahkan sasaran pada dada ibuku, dan peluru itu menghunjam begitu cepat ke dada ibuku, bahkan tanpa kusadari ibuku sudah tersungkur, tersenyum sambil samar mengucap syahadat.
Kami bertiga memeluk ibu yang sudah berlumuran darah, jantung ibuku telah berhenti untuk berdetak. Tiada yang memompa sel darah merah untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh, maka tubuh ibuku memucat dan nafasnya berhenti. Tidak cukup dengan satu tembakan, mereka mengarahkan tembak pada kedua adikku. Salah satu dari mereka memegang pelatuk peluru, dan tiga detik berikutnya peluru itu melesat begitu cepat. Aku segera berlari dan memeluk kedua adikku. Beberapa detik kemudian, seolah drama kehidupan ini diputar perlahan oleh Tuhan. Peluru itu menghunjam perutku, rasanya begitu sakit. Darah mengucur deras, dan aku tak dapat menopang tubuhku. Tapi, mereka membawa kedua adikku, aku dengan tenaga seadanya menahan kaki mereka, merintih memohon agar kedua adikku dibebaskan. Mereka acuh, dan dua hitungan kemudian aku tak sadarkan diri.
Aku terbangun, dan menatap lampu yang begitu terang. Aku kerjapkan mataku sekali dua kali perlahan. Perutku diperban, ada infus di sampingku, dan kutatap ada seorang dokter cantik yang seolah menyambutku. Dokter itu tersenyum menatapku. Ada apa ? Bukankah tadi siang aku hanya berbaring di bawah langit yang penuh kepulan asap ? Bukankah aku hanya merenung, membayangkan masa lalu paling menyedihkan itu untuk beberapa saat ? Kenapa saat ini perutku diperban ?
“ Assalamualaikum, Sabrina.” Dokter itu menyapa riang, aku tersenyum kecil. Ini bukan mimpi, rasa sakit yang kurasakan nyata.
“ Apa keadaanmu sudah membaik ?”
“ Ada apa denganku, Dok ?”
“ Sebaiknya kau makan dulu, Nak. Ini sudah malam, Irene akan senang mendengar kabarmu. Sudah tiga hari kau tidak sadarkan diri.”
“ Irene ?”
“ Hai, Sabrina. Aku Irene.” Seorang perempuan cantik berkulit putih khas perempuan Eropa, berambut pirang dan bermata biru itu menatapku ramah. Tersenyum.
Tiba-tiba saja tubuhku bergetar hebat, sekuat tenaga kucoba untuk berlari ke pojok ruang rumah sakit ini, jarum infusku terlepas, aku ketakutan. Irene. Dia pasti salah satu manusia biadab itu, dia akan membunuhku. Bagaimana dokter tidak tahu mengenai hal itu ? Aku memalingkan wajah dari Irene, Irene dengan heran mendekatiku perlahan.
“ Jangan mendekatiku !” Aku berteriak histeris, selang beberapa lama kemudian bayangan itu muncul kembali, aku kembali menangis, tangisan yang panjang. Sepanjang malam itu aku menangis di pojok ruang rumah sakit hingga aku tertidur pulas.
Esok paginya, saat suster mengantarkan sarapan pagi. Aku sudah terjaga, menatap kosong ke arah jendela kamar rumah sakit sambil memeluk kedua lututku. Suster itu tersenyum, mengantarkan makanan, meletakkan makanan di samping ranjangku, kemudia berpamitan untuk keluar, namun aku menahannya.
“ Apa aku sedang bermimpi ?”
“ Tidak, Sayang.”
“ Bagaimana bisa aku dalam keadaan luka terbaring tak berdaya di kamar ini ?”
“ Tiga hari yang lalu Irene menyelamatkanmu.”
“ Tidak mungkin.”
“ Tidak mungkin, tapi kenyataannya begitu.  Irene adalah mahasiswa Prancis yang pergi ke negara kita untuk berempati, ia memberikan sumbangan dan tenaganya untuk membantu warga di sini.”
“ Dia bukan muslim.”
“ Irene bukan muslim, tapi Irene manusia.” Suster itu tersenyum, mengakhiri pembicaraan singkat kami dengan kaliamat yang membuat jantungku seolah berhenti.
Malamnya, aku berencana untuk pergi keluar, menghirup udara di luar karena bosan di ruang rumah sakit, namun saat aku hendak keluar langkahku terhenti. Aku mendengar dua orang perempuan bercakap-cakap dengan nada serius. Aku hendak mengintip dari balik lubang kunci pintu, namun tidak bisa kutatap. Tapi, aku mengenali suara salah satu dari mereka adalah dokter yang kemarin menyambutku.
“ Ada apa dengan Sabrina ? Aku bahagia saat mendengar ia sadar, namun aku amat cemas usai melihat reaksinya kemarin malam.”
“ Ia mengalami trauma berat, Irene. Ia pernah melihat ibunya sendiri meninggal di depan matanya karena penjajah itu, sejak itulah ia memutuskan untuk membenci orang-orang yang beragama selain Islam. Tubuhnya bergetar amat hebat, jika orang selain Islam mendekatinya, ia akan lari terbirit-birit, kemudian menangiskarena kejadian satu tahun silam itu seperti sebuah film yang sedang diputar di dalam otaknya kemudian ia tertidur. Begitulah reaksinya selama satu tahun terakhir, aku khawatir.”
“ Oh Tuhan, dia pasti tertekan.”
“ Iya, Irene. Dia tidak percaya pada suster yang mengatakan bahwa kau yang menyelamatkannya.”
“ Tidak masalah, Dok. Aku bahagia mendengar kondisi Sabrina membaik.”
“ Sabrina harus menjalani beberapa perawatan intensif karena kakinya juga terkena tembak. Ia harus belajar berjalan.”
“ Aku bisa mengajaknya berbicara kembali dan mengajaknya belajar berjalan.”
“ Kita coba saja setelah ini, semoga semua membaik.” Usai percakapan itu, aku segera berjinjit, berjalan mengendap ke ranjang dan kembali berbaring. Kupejamkan mataku.
Dokter dan Irene membuka pintu. Dokter memeriksa keadaanku, kulihat samar dokter tersenyum menandakan keadaanku sudah membaik, wajah Irene tampak lega. Usai dokter memeriksaku, Irene tinggal sejenak di samping ranjangku, kutahan sekuat tenaga agar tubuhku tidak gemetar, tapi aku tidak berhasil. Seperti biasa, tubuhku gemetar hebat dan aku berlari dengan tertatih ke pojok ruangan. Irene sontak terkejut, namun beberapa saat kemudian ia mencoba mengerti dan tersenyum hangat. Ia tidak mendekat.
“ Selamat malam, Saudaraku.” Ia memulai keheningan malam dengan pembicaraan yang ringan, kutatap matanya tiada kekejaman di sana, tiada kebohongan. Ia begitu tulus menyambutku. Aku tetap terdiam di pojok ruangan.
“ Hai, Sabrina. Aku Irene, usiaku dua tahun di atas usiamu. Aku senang dipertemukan denganmu.” Tubuhku sudah tidak gemetaran, dan ujung bibirku tersenyum simpul. Tapi, Irene dapat melihat senyumku.
“ Aku senang melihat senyummu yang pertama, bolehkah aku mendekat ?” Kepalaku mengangguk lemah, anatara takut dan penasaran. Irene mulai mendekat, ia berjongkok di hadapanku, tersenyum.
“ Hai, bisakah kita berkenalan sekarang ?” Irene mengulurkan tangan kanannya, aku menatap matanya tajam, kuulurkan tanganku dengan sedikit gemetar.
“ Aku Irene, maukah kau menjadi temanku ?”
“ Aku Sabrina. Mengapa kau menyelamatkanku ?”
“ Entah apa yang membuat traumamu menurun begitu cepat, Sab. Aku tidak menyelamatkanmu, sungguh. Tuhanlah yang berkehendak atas semua itu.” Aku tersenyum masam.
“ Sab, setiap manusia pasti mempunyai naluri untuk melindungi, berperilaku heorik meskipun menurut pandangan evolusi itu akan menghalangi kita untuk menghasilkan keturunan. Tidak masalah apa agamamu, apa rasmu, apa bangsamu. Hal baik bukan saja dilakukan meski kita berbeda, semua karena kemanusiaan.”
“ Kemanusiaan ?”
“ Aku tahu ada banyak perbedaan di antara kita. Kau berasal dari belahan Bumi tengah, sementara aku utara. Kau berkulit sawo matang, sementara aku putih, iris matamu bewarna hitam, sementara aku biru, kau mengenakan kerudung sementara aku tidak, kau muslim sementara aku katolik. Tidak masalah, ada banyak perbedaan di antara kita sebagai manusia, meski kita terlahir kembar identik. Tapi, untuk menciptakan sebuah perdamaian dunia dan kemaslahatan umat manusia, kita terkadang perlu acuh terhadap perbedaan itu. Aku kemari atas dasar persamaan kita sebagai manusia.” Aku tersenyum lebar, memeluknya dan menangis haru. Trauma itu hilang dalam hitungan detik, ia juga memelukku hangat, membelai kepalaku.
“ Kau membuatku teringat adikku di sana, Sab. Aku senang sekali mendengar kabar kondisimu membaik.”
“ Terima kasih.” Ia melepaskan pelukan, menyeka ujung mataku. Ia mengulurkan tangan kembali.
“ Maukah kau menjadi saudaraku ?” Aku menjabat tangannya, memeluknya kembali dan memang benar. Terkadang kita perlu mengacuhkan perbedaan untuk menciptakan sebuah perdamaian. Tanpa perbedaan dunia ini akan sama saja, monoton dan tidak bewarna. Malam itu trauma akutku sembuh karena hatiku berhasil menerima bahwa perbedaan itu indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar