Senin, 09 Februari 2015

Belanda atau Netherland ?




Tidak terasa pesta akbar piala dunia yang di adakan di Brazil telah berlalu beberapa bulan yang lalu. Sebagai juara pertama diraih tim depanser Jerman, juara kedua diduduki oleh negeri tango Argentina dan juara tiga disandang negeri kincir angin Belanda. Namun, pernahkah beberapa dari kita berfikir mengapa saat penulisan nama negara Belanda pada papan skor pertandingan apa pun bertaraf internasional ditulis dengan nama ‘ Netherland’ dan bukan Belanda ?
Bahkan ketika kita melakukan perjalanan ke Eropa, tidak akan ada masyarakat yang tahu dimanakah letak negeri Belanda. Masyarakat Belanda mana pun tidak akan mengetahui asal-usul atau sejarah mengapa negara Netherland disebut negara Belanda. Ada dua kisah mengenai hal ini.
Pertama, syahdan, tidak jauh dari kota Palembang, tepatnya di sekitar daerah Pagar Alam, pada tahun 1650 M, pernah berkumpul sekitar 50 alim ulama dari berbagai daerah di Nusantara, seperti dari Kerajaan Mataram Islam, Pagaruyung, Malaka, dan sebagainya. Tokoh utama pertemuan itu, adalah Syech Nurqodim al Baharudin (Puyang Awak), salah seorang keturunan dari Sunan Gunung Jati. Trahnya adalah melalui puterinya Panembahan Ratu, yang menikah dengan Danuresia (Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang). Hasil dari Mudzakarah Ulama abad ke-17, yang dipelopori oleh Syech Baharudin, antara lain:
  • Memunculkan perluasan dakwah Islam. Dengan demikian, paham animisme yang masih berkembang di masyarakat semakin berkurang dan terkikis.
  • Munculnya kader-kader mujahid, yang mengadakan perlawanan terhadap penjajah Eropa.
Dari peristiwa Mudzakarah inilah, munculnya istilah Belanda sebagai sebutan bagi bangsa Nederland, yang dianggap berniat menguasai Nusantara ketika itu. Adapun makna kata Belanda, berasal dari kata belahnde (belah = memecah, nde = keluarga). Belanda memiliki arti “Memecah Belah Keluarga” Dan dengan menyebarnya, istilah Belanda ke seluruh pelosok Nusantara, menjadikan bukti bahwa hasil Mudzakarah tahun 1650M telah menjadi satu “Konsensus Nasional“. Sementara, di sekitar tempat terjadinya peristiwa Mudzakarah, dinamai semende, yang bermakna satu keluarga (seme = same = sama = satu; nde = keluarga), yang merupakan lawan dari kata Belanda.
Kisah kedua, adalah dari nama asli bangsa tersebut yakni Holland, atau Hollander, atau Hollandia. Dalam lidah orang Melayu, biasa disebut sebagai Hollanda. Dan dalam perkembangannya kemudian menjadi ‘Belanda”, yang memili arti yang sama yakni “Memecah-belah keluarga”.

Sumber : http://kanzunqalam.com/2010/06/15/mengapa-nederland-disebut-belanda/
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/belanda-itu-artinya-memecah-belah-keluarga.htm#.VNkr1ycWLiA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar