Tidak
terasa pesta akbar piala dunia yang di adakan di Brazil telah berlalu beberapa bulan yang lalu. Sebagai
juara pertama diraih tim depanser Jerman, juara kedua diduduki oleh negeri
tango Argentina dan juara tiga disandang negeri kincir angin Belanda. Namun, pernahkah
beberapa dari kita berfikir mengapa saat penulisan nama negara Belanda pada
papan skor pertandingan apa pun bertaraf internasional ditulis dengan nama ‘
Netherland’ dan bukan Belanda ?
Bahkan
ketika kita melakukan perjalanan ke Eropa, tidak akan ada masyarakat yang tahu
dimanakah letak negeri Belanda. Masyarakat Belanda mana pun tidak akan
mengetahui asal-usul atau sejarah mengapa negara Netherland disebut negara
Belanda. Ada dua kisah mengenai hal ini.
Pertama, syahdan, tidak jauh dari kota Palembang,
tepatnya di sekitar daerah Pagar Alam, pada tahun 1650 M, pernah berkumpul
sekitar 50 alim ulama dari berbagai daerah di Nusantara, seperti dari Kerajaan
Mataram Islam, Pagaruyung, Malaka, dan sebagainya. Tokoh utama pertemuan itu,
adalah Syech Nurqodim al Baharudin (Puyang Awak), salah seorang keturunan dari
Sunan Gunung Jati. Trahnya adalah melalui puterinya Panembahan Ratu, yang
menikah dengan Danuresia (Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang). Hasil dari
Mudzakarah Ulama abad ke-17, yang dipelopori oleh Syech Baharudin, antara lain:
- Memunculkan perluasan dakwah Islam. Dengan demikian, paham animisme yang masih berkembang di masyarakat semakin berkurang dan terkikis.
- Munculnya kader-kader mujahid, yang mengadakan perlawanan terhadap penjajah Eropa.
Dari peristiwa Mudzakarah inilah,
munculnya istilah Belanda sebagai sebutan bagi bangsa Nederland, yang dianggap
berniat menguasai Nusantara ketika itu. Adapun makna kata Belanda, berasal dari
kata belahnde (belah = memecah, nde = keluarga). Belanda memiliki arti “Memecah
Belah Keluarga” Dan dengan menyebarnya, istilah Belanda ke seluruh pelosok
Nusantara, menjadikan bukti bahwa hasil Mudzakarah tahun 1650M telah menjadi
satu “Konsensus Nasional“. Sementara, di sekitar tempat terjadinya peristiwa
Mudzakarah, dinamai semende, yang bermakna satu keluarga (seme = same = sama =
satu; nde = keluarga), yang merupakan lawan dari kata Belanda.
Kisah kedua, adalah dari nama asli
bangsa tersebut yakni Holland, atau Hollander, atau Hollandia. Dalam lidah
orang Melayu, biasa disebut sebagai Hollanda. Dan dalam perkembangannya
kemudian menjadi ‘Belanda”, yang memili arti yang sama yakni “Memecah-belah
keluarga”.
Sumber : http://kanzunqalam.com/2010/06/15/mengapa-nederland-disebut-belanda/
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/belanda-itu-artinya-memecah-belah-keluarga.htm#.VNkr1ycWLiA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar