Karena admin sudah lama nggak update nih, dan
lebih pasnya beberapa hari ke depan akan diperingati hari pers nasional. Akhirnya admin memutuskan
untuk memposting suatu karya tulis berbeda dan dikemas dengan bahasa yang lebih
ringan dari posting artikel yang dulu. Hehehe... Sesuai dengan judul tentunya, subtema
yang dibahas kali ini adalah tentang profesi yang penuh dengan tantangan,
keberanian, tanggung jawab, yakni wartawan. Bahkan menurut penelitian
CareerCast pekerjaan paling penuh tekanan di tahun ini salah satunya adalah
wartawan.
Namun
sebelum masuk pada inti pembahasan, tentunya kta harus mengetahui makna dari
kata ‘wartawan’ itu sendiri. Menurut KBBI memiliki makna wartawan
/war·ta·wan/ n orang yg pekerjaannya mencari dan menyusun berita
untuk dimuat dl surat kabar, majalah, radio, dan televisi; juru warta;
jurnalis. Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang:
sebagai proses, teknik, dan ilmu.
1. Sebagai
proses, jurnalistik adalah aktivitas mencari, mengolah, menulis, dan
menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini
dilakukan oleh wartawan (jurnalis).
2. Sebagai
teknik, jurnalistik adalah keahlian (expertise) atau keterampilan (skill)
menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam
pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan
wawancara.
3. Sebagai
ilmu, jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan
informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik
termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang
sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika
masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian
ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan,
pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu,
mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.
Sejarah jurnalis di mulai
dengan awal adanya jurnalis dimulai pada masa Romawi kuno saat itu pada zaman
Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). Mulai dikenalnya“Acta Diurna”, yakni papan
pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini
sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian
pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”. Sebenarnya,
Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan
berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala
kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di
serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap
orang yang lewat dan memerlukannya.
Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar
hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta
Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan
penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman
itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum”
(Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Berita di “Acta Diurna” kemudian
disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang
bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta
Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.
Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah
kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti
“harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour”
dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau
“laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist”
(wartawan). Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004),
cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh.
Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak
keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan.
Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi
Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan
kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting
pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan
dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai
surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal. Atas dasar
fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar
(wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor
berita pertama di dunia.
Sedangkan di Indonesia sendiri, tokoh pers
nasional, Soebagijo Ilham Notodidjojo dalam bukunya “PWI di Arena Masa” (1998)
menulis, Tirtohadisoerjo atau Raden Djokomono (1875-1918), pendiri mingguan Medan
Priyayi yang sejak 1910 berkembang jadi harian, sebagai pemrakarsa pers
nasional. Artinya, dialah yang pertama kali mendirikan penerbitan yang dimodali
modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya,
pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan kemerdekaan bangsa ini.
Haryadi Suadi menyebutkan, salah satu fasilitas yang pertama kali direbut pada
masa awal kemerdekaan adalah fasilitas percetakan milik perusahaan koran Jepang
seperti Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar
Baroe (Semarang) (“PR”, 23 Agustus 2004). Menurut Haryadi, kondisi pers
Indonesia semakin menguat pada akhir 1945 dengan terbitnya beberapa koran yang
mempropagandakan kemerdekaan Indonesia seperti, Soeara Merdeka
(Bandung), Berita Indonesia (Jakarta), dan The Voice of Free
Indonesia.
Dan ini adalah sejarah diperingatinya HPN. Bertempat
digedung musium pers Solo (saat ini), pada tanggal 9 Februari 1946, diadakan
pertemuan untuk membentuk Persatuan Wartawan Indonesia. Tidak pada saat itu
tanggal 9 Februari ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Gagasan ini
baru muncul pada Kongres Ke-16 PWI di Padang. Ketika itu, bulan Desember 1978,
PWI Pusat masih dipimpin Harmoko. Salah satu keputusan Kongres adalah
mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan tanggal 9 Februari sebagai HPN.
Ternyata semua ini harus menunggu tujuh tahun lagi untuk dapat disetujui.
Melalui Surat Keputusan Presiden No. 5/1985, maka hari lahir PWI itu resmi
menjadi HPN. Boleh jadi ini merupakan usaha lobi tingkat tinggi Harmoko, yang
sejak 1983 menjadi Menteri Penerangan. Sebenarnya 9 Februari 1946 memang punya
nilai historis bagi komunitas pers di Indonesia. Sebab, pada hari itulah
diselenggarakan pertemuan wartawan nasional yang melahirkan PWI, sebagai
organisasi wartawan pertama pasca kemerdekaan Indonesia dan menetapkan Sumanang
sebagai ketuanya. Namun, PWI bukanlah organisasi wartawan pertama yang
didirikan di Indonesia. Jauh sebelum itu, dizaman Belanda sejumlah organisasi
wartawan telah berdiri dan menjadi wadah organisasi para wartawan. Satu di
antaranya yang paling menonjol adalah Inlandsche Journalisten Bond (IJB).
Organisasi ini berdiri pada tahun 1914 di Surakarta. Pendiri IJB antara lain Mas
Marco Kartodikromo yang mengaku muridnya dari Tirto Adhi Surjo, kemudian juga
pendiri lainnya adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Sosro Kartono dan Ki Hadjar
Dewantara. IJB merupakan organisasi wartawan pelopor yang radikal, dimana
sejumlah anggotanya sering diadili bahkan ada yang diasingkan ke Digul oleh
penguasa kolonial Belanda. Selain IJB, organisasi wartawan lainnya adalah
Sarekat Journalists Asia (berdiri 1925), Perkumpulan Kaoem Journalists (1931),
serta Persatoean Djurnalis Indonesia (1940). Berbagai organisasi wartawan
tersebut tidak berumur panjang akibat tekanan dari pemerintahan kolonial. Pada
tahun 1984, melalui Peraturan Menteri Penerangan Harmoko (Permenpen) No.
2/1984, PWI dinyatakan sebagai satu-satunya organisasi wartawan atau wadah
tunggal, yang boleh hidup di Indonesia adalah PWI. Itulah sedikit coretan
jurnalis dimasa lalu yang hingga kini dunia tulis-menulis terus berkembang
seiring berkembangnya ilmu teknologi. Hingga kinipun setiap tanggal 9 Februari
tetap diperingati sebagai hari pers nasional
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar