Selasa, 05 Mei 2015

Indonesia dan Generasi Mudanya

Bukan lautan tapi kolam susu
Laut dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampirimu
Orang bilang tanah kita surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
            Siapa warga Indonesia yang tak mengenal lirik lagu ini ? Lirik lagu Kolam Susu yang dinyanyikan Koes Plus ini terkenal hingga pelosok negara kita tercinta. Aku sendiri pun kagum mengapa negara ini begitu kaya ? Gemah ripah loh jinawi, mengagumkan. Sayang, dibalik kekagumanku terkadang guru sejarahku mengajak berfikir kritis tentang negaraku ini tentang pejabat-pejabat negara yang korupsi, pejabat yang menyerahkan PT.Freepot untuk di garap negara lain. Memalukan memang. Bahkan disebuah anekdot menceritakan tentang ketidak adilan Tuhan menciptakan negara Indonesia dengan segala kesuburan dan kekayaan alamnya, tapi Tuhan dengan bijak menjawab ‘ Lihat saja siapa yang nantinya akan memimpin negara itu.’ Aku terkekeh membaca anekdot itu, seolah aku bukan bagian dari negara ini.
            Aku Renata, teman-temanku biasa memanggilku Ren. Aku menempuh pendidikan disebuah sekolah SMA negeri di kotaku, di sinilah aku mulai belajar kritis, mempelajari tentang seluk beluk negara ini mulai dari zaman penjajahan hingga saat ini aku bisa hidup. Banyak yang terjadi, berbagai permasalahan bermunculan, untuk tahun ini saja banyak kemiskinan terjadi, inflasi dan banyak hal. Namun, aku ingin menceritakan suatu hal bahwa sesungguhnya generasi muda Indonesia kini telah bangkit meski hanya beberapa persen, mulai menunjukkan prestasinya di kancah internasional. Sungguh, sumber daya manusia ( SDM ) Indonesia sesungguhnya tidak seperti orang luar kira, generasi Indonesia sungguh tidak sebodoh sebagaimana masyarakat awam kira atau yang di ceritakan anekdot bahwa otak warga Indonesia masih asli, original dan jarang digunakan. Kini, generasi muda Indonesia telah bangkit, dan aku salah satu di dalamnya.
            “ Ren, aku kira kita harus memperbaikinya lagi agar robot ini dapat bergerak.” Ujar Vin, rekan seperjuanganku selama menggarap proyek robotik yang nantinya akan dipamerkan di Malasysia.
            “ Iya, aku sedang berusaha Vin.” Aku berfikir keras, memperbaiki jaringan-jaringan di dalam robot. Peluhku menetes.  Melelahkan. Kami telah mengerjakan proyek ini satu tahun lebih satu bulan. Vin dan aku sudah pernah meraih beberapa predikat juara dari lomba-lomba nasional, hingga akhirnya kami di percaya mewakili Indonesia di kancah internasional sebagai programmer termuda, usia kami baru menginjak 14 tahun. Ada hal yang membuat aliran darahku berdesir, membuat semangatku terpacu. Aku ingin menunjukkan bahwa suatu hari nanti Indonesia akan meraih predikat lebih dari macan asia.
            Aku telah menyelesaikan proyekku bersama Vin satu minggu lalu, hari ini aku akan terbang ke Malaysia untuk mengikuti olimpiade robotik internasional yang akan di ikuti seluruh negara di dunia. Namun, yang berpartisipasi hanya 64 negara termasuk Indonesia. Dadaku mengembang, mengenakan jas hitam dengan pin garuda yang terletak di dada kananku seolah aku adalah duta Indonesia. Membanggakan. Wajahku sempat harap cemas, berdoa agar robot ini dapat membawa nama Indonesia terbang bagaikan burung garuda. Semoga. Hingga akhirnya aku tiba di Malaysia, dua hari lagi kami akan mempresentasikan, dan hasilnya akan di umumkan pada hari yang sama. Semoga saja.
            Aku berdiri di depan para peserta dan dewan juri, aku tak gentar mempresentasikan semuanya menggunakan bahasa Inggris. Aku menganggap ini hanyalah permainan, aku menganggap mereka adalah siswaku yang tidak mengerti apa-apa. Semua ini aku lakukan agar aku tidak bergetar, aku aku tak gentar. Aku harus optimis. Aku menerangkan sejelas-jelasnya mengenasi bahan, proses pembuatan, fungsi. Hingga akhirnya selesai, badanku lemas seketika, Vin  tersenyum padaku.
            “ Kerja bagus, Ren.”
            “ Bukan hanya aku, tapi kita. Semoga kita bisa membuktikan, Vin.”
            Setelah menjalankan ibadah shalat dhuhur kami segera kembali ke aula. Suasana cukup ramai mengingat ini adalah jam makan siang, beberapa peserta tampak membawa makanan dan minuman. Aku dan Vin tampak segar karena telah melaksanakan ibadah shalat dhuhur, kami segera duduk di bangku semula. Tegang menanti hasil.
            Seluruh peserta duduk rapi, menanti hasil. Mereka juga tampak tegang, aku mengunyah permen karet untuk menetralisir ketegangan. Hingga hasil pun di umumkan, kami berharap dan berdoa. Hingga akhirnya nama kami terpanggil, terpanggil sebagai robot terbaik. Meski begitu kami tetap bangga. Kami segera maju ke depan. Vin menangis haru.
            “ Aku tahu kita mampu.” Ucapku.
            “ Lebih dari itu, seharusnya semua generasi Indonesia mampu. Bukan hanya kita.” Ucap Vin dengan suara bergetar.
            Kami menerima hadiah berupa uang dan piagam, meski pun kami belum berhasil meraih medali dan tropi namun, aku berharap generasi muda Indonesia lainnya dapat mengikuti jejakku atau bahkan melampauiku. Aku menalikan ujung bendera Indonesia di leherku. Menciumnya dalam. Ada banyak hal yang ku temukan sejak pembuatan robot ini hingga kompetisi robot, bahwa sesungguhnya yang harus aku pelajari bukan hanya soal keburukan atau kenegatifan Indonesia baik dari segi ekonomi, politik dan sosial karena hal itulah yang membuat masyarakat Indonesia tidak percaya diri, pasrah oleh keadaan. Kata ‘ Aku bangga Indonesia’ seolah hanya terucap di lisan. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa seluruh permasalahan yang terjadi di Indonesia dapat di atasi jika generasi mudanya cerdas. Bukankah bapak presiden Indonesia yang pertama juga pernah berkata.
            ‘Beri aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya, beri aku 1 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia’
            Jika saat ini Jakarta meraih predikat nomor satu sebagai kota termacet, jika saat ini Indonesia juga meraih predikat sebagai negara miskin, maka hari ini juga aku dan ratusan generasi muda lainnya sedang berjuang, menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia akan bangkit, dan saat kami memimpin, kami akan menjadikan Indonesia lebih dari Macan Asia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar