Bukan lautan tapi kolam
susu
Laut dan jala cukup
menghidupimu
Tiada badai tiada topan
kau temui
Ikan dan udang
menghampirimu
Orang bilang tanah kita
surga
Siapa warga Indonesia yang tak mengenal
lirik lagu ini ? Lirik lagu Kolam Susu yang dinyanyikan Koes Plus ini terkenal
hingga pelosok negara kita tercinta. Aku sendiri pun kagum mengapa negara ini
begitu kaya ? Gemah ripah loh jinawi, mengagumkan. Sayang, dibalik kekagumanku
terkadang guru sejarahku mengajak berfikir kritis tentang negaraku ini tentang
pejabat-pejabat negara yang korupsi, pejabat yang menyerahkan PT.Freepot untuk
di garap negara lain. Memalukan memang. Bahkan disebuah anekdot menceritakan
tentang ketidak adilan Tuhan menciptakan negara Indonesia dengan segala
kesuburan dan kekayaan alamnya, tapi Tuhan dengan bijak menjawab ‘ Lihat saja
siapa yang nantinya akan memimpin negara itu.’ Aku terkekeh membaca anekdot
itu, seolah aku bukan bagian dari negara ini.
Aku Renata, teman-temanku biasa
memanggilku Ren. Aku menempuh pendidikan disebuah sekolah SMA negeri di kotaku,
di sinilah aku mulai belajar kritis, mempelajari tentang seluk beluk negara ini
mulai dari zaman penjajahan hingga saat ini aku bisa hidup. Banyak yang terjadi,
berbagai permasalahan bermunculan, untuk tahun ini saja banyak kemiskinan
terjadi, inflasi dan banyak hal. Namun, aku ingin menceritakan suatu hal bahwa
sesungguhnya generasi muda Indonesia kini telah bangkit meski hanya beberapa
persen, mulai menunjukkan prestasinya di kancah internasional. Sungguh, sumber
daya manusia ( SDM ) Indonesia sesungguhnya tidak seperti orang luar kira,
generasi Indonesia sungguh tidak sebodoh sebagaimana masyarakat awam kira atau
yang di ceritakan anekdot bahwa otak warga Indonesia masih asli, original dan
jarang digunakan. Kini, generasi muda Indonesia telah bangkit, dan aku salah
satu di dalamnya.
“ Ren, aku kira kita harus
memperbaikinya lagi agar robot ini dapat bergerak.” Ujar Vin, rekan
seperjuanganku selama menggarap proyek robotik yang nantinya akan dipamerkan di
Malasysia.
“ Iya, aku sedang berusaha Vin.” Aku
berfikir keras, memperbaiki jaringan-jaringan di dalam robot. Peluhku
menetes. Melelahkan. Kami telah
mengerjakan proyek ini satu tahun lebih satu bulan. Vin dan aku sudah pernah
meraih beberapa predikat juara dari lomba-lomba nasional, hingga akhirnya kami
di percaya mewakili Indonesia di kancah internasional sebagai programmer
termuda, usia kami baru menginjak 14 tahun. Ada hal yang membuat aliran darahku
berdesir, membuat semangatku terpacu. Aku ingin menunjukkan bahwa suatu hari
nanti Indonesia akan meraih predikat lebih dari macan asia.
Aku telah menyelesaikan proyekku
bersama Vin satu minggu lalu, hari ini aku akan terbang ke Malaysia untuk
mengikuti olimpiade robotik internasional yang akan di ikuti seluruh negara di
dunia. Namun, yang berpartisipasi hanya 64 negara termasuk Indonesia. Dadaku
mengembang, mengenakan jas hitam dengan pin garuda yang terletak di dada
kananku seolah aku adalah duta Indonesia. Membanggakan. Wajahku sempat harap
cemas, berdoa agar robot ini dapat membawa nama Indonesia terbang bagaikan
burung garuda. Semoga. Hingga akhirnya aku tiba di Malaysia, dua hari lagi kami
akan mempresentasikan, dan hasilnya akan di umumkan pada hari yang sama. Semoga
saja.
Aku berdiri di depan para peserta
dan dewan juri, aku tak gentar mempresentasikan semuanya menggunakan bahasa
Inggris. Aku menganggap ini hanyalah permainan, aku menganggap mereka adalah
siswaku yang tidak mengerti apa-apa. Semua ini aku lakukan agar aku tidak
bergetar, aku aku tak gentar. Aku harus optimis. Aku menerangkan
sejelas-jelasnya mengenasi bahan, proses pembuatan, fungsi. Hingga akhirnya
selesai, badanku lemas seketika, Vin
tersenyum padaku.
“ Kerja bagus, Ren.”
“ Bukan hanya aku, tapi kita. Semoga
kita bisa membuktikan, Vin.”
Setelah menjalankan ibadah shalat
dhuhur kami segera kembali ke aula. Suasana cukup ramai mengingat ini adalah
jam makan siang, beberapa peserta tampak membawa makanan dan minuman. Aku dan
Vin tampak segar karena telah melaksanakan ibadah shalat dhuhur, kami segera
duduk di bangku semula. Tegang menanti hasil.
Seluruh peserta duduk rapi, menanti
hasil. Mereka juga tampak tegang, aku mengunyah permen karet untuk menetralisir
ketegangan. Hingga hasil pun di umumkan, kami berharap dan berdoa. Hingga
akhirnya nama kami terpanggil, terpanggil sebagai robot terbaik. Meski begitu
kami tetap bangga. Kami segera maju ke depan. Vin menangis haru.
“ Aku tahu kita mampu.” Ucapku.
“ Lebih dari itu, seharusnya semua
generasi Indonesia mampu. Bukan hanya kita.” Ucap Vin dengan suara bergetar.
Kami menerima hadiah berupa uang dan
piagam, meski pun kami belum berhasil meraih medali dan tropi namun, aku
berharap generasi muda Indonesia lainnya dapat mengikuti jejakku atau bahkan
melampauiku. Aku menalikan ujung bendera Indonesia di leherku. Menciumnya
dalam. Ada banyak hal yang ku temukan sejak pembuatan robot ini hingga
kompetisi robot, bahwa sesungguhnya yang harus aku pelajari bukan hanya soal
keburukan atau kenegatifan Indonesia baik dari segi ekonomi, politik dan sosial karena hal
itulah yang membuat masyarakat Indonesia tidak percaya diri, pasrah oleh
keadaan. Kata ‘ Aku bangga Indonesia’ seolah hanya terucap di lisan. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa seluruh
permasalahan yang terjadi di Indonesia dapat di atasi jika generasi mudanya
cerdas. Bukankah bapak presiden Indonesia yang pertama juga pernah berkata.
‘Beri
aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya, beri aku 1 pemuda
niscaya akan ku guncangkan dunia’
Jika saat ini Jakarta meraih
predikat nomor satu sebagai kota termacet, jika saat ini Indonesia juga meraih
predikat sebagai negara miskin, maka hari ini juga aku dan ratusan generasi
muda lainnya sedang berjuang, menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia akan
bangkit, dan saat kami memimpin, kami akan menjadikan Indonesia lebih dari
Macan Asia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar