Senin, 13 Juli 2015

Aurora Borealis - Bagian Satu



“ Ayah sudah mengirim uang, Nak. Cek saja di ATM.” Aku mendengus nafas kesal. Bukan, aku bukan korban dari perceraian rumah tangga, broken home dan lain sebagainya. Aku hanya korban dari kegelisahan hati yang tak kunjung menemukan sandaran, yang tak kunjung menemukan pondasi. Aku segera memutus telefon seluler dan berlari menuju mesin ATM terdekat. Untuk apalagi menunggu ? Hari ini malam minggu, saat yang tepat untuk bersenang-senang melihat konser paling akbar tahun ini. Hanya sekali saja aku melakukan ini rasanya tidak akan terjadi apa-apa.
            Ku tarik uang puluhan juta itu dari mesin ATM. Ku hirup baunya, ku tarik kartu ATMku dan segera pergi keluar. Inilah Jakarta, lebih rumit dari negara asalku, Swiss. Aku Laila Nadia gadis berumur 20 tahun yang bercita-cita menjadi seorang host atau reporter. Ayahku bekerja di perkantoran, ibuku seorang reporter terkenal di Indonesia. Aku selalu bercita-cita ingin mengikuti jejaknya. Aku pernah beberapa kali di ajak ke studio siaran. Meski saat aku masih kecil ibu jarang berada di rumah namun ibu selalu menyempatkan untuk menghubungiku dan ayah.
            Aku amat menyayangi mereka dan tak pernah sekali pun berniat untuk mengkhianati kerja keras mereka yang berniat untuk menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Aku bukan siswa cerdas, taat beragama atau semacamnya. Tapi, apalah daya ayah sudah di kenal sebagai orang yang taat beragama. Nama ayah telah terdengar ke seluruh antreo kota domisiliku. Rasanya pasti menyebalkan berada dalam kemunafikan. Aku selalu di kenal sebagai putri seorang taat beragama yang taat beraga pula. Orang-orang memandang keluarga kami dengan segan.
            Yah, jadi apalah daya ? Topeng apa yang harus aku kenakan saat aku berinteraksi di luar sana ? Aku terkadang lelah menjalani hidup seperti ini. Hidup kami benar-benar berubah saat aku menginjak kelas 3 SD. Nama ayah mulai di sebut-sebut orang, bahkan saat aku duduk di bangku SMA keluargaku bagai diterjang angin ribut. Pujian-pujian dari orang-orang mengalir deras. Apalah daya, aku tak pernah berharap besar dari nama ayahku, tak pernah sekali pun aku berfikir demikian meski aku tak memiliki apa pun. Iya. Apa yang aku miliki ? Cerdas ? Aku rasa tidak, taat beragama ? Ah ayolah sejak kapan aku mendapat hidayah.
            Sejak aku pindah ke Jakarta kehidupanku telah berubah. Aku tetap beribadah, aku tetap melaksanakan shalat lima waktu, aku tetap berpuasa Senin-Kamis, aku tetap menunaikan shalat tahajud dan menutup auratku seperti tiga tahun lalu saat aku duduk di bangku SMA. Tapi, banyak hal kecil yang telah ku lupakan. Tentang kedamaian hati.
            “ Apakah kau sudah membeli tiket ?” Angel yang melihatku keluar dari ATM segera menghampiriku.
            “ Sudah. Hanya saja aku belum membayar hutangku ke Lisa. Aku akan membayarnya segera.”
            “ Oh, kau memakai uang Lisa untuk membeli tiket.” Angela menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Aku tersenyum. Mengangguk. Penampilanku telah di rombak total oleh Angela. Aku yang awalnya selalu mengenakan jubah dan jilbab panjang menutupi dada, kini aku sering mengenakan celana jeans dan hijab modern yang mengikuti zaman. Aku kira ini lebih baik, bukankah kita harus berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan ? Tidak buruk.
            Aku sekamar dengan Angela, Lisa, Raisa dan Nada. Aku bertetangga dengan mahasiswa dari perguruan nomer satu negeri ini, ITB. Mahasiswa itu tampak selalu rajin belajar, mengerjakan tugas, tidur larut dan  melakukan  hal-hal yang berbau perjuangan. Tapi sepertinya hanya Aisyah yang berfikir keras tentang kuliah, usaha untuk membantu orang tuanya dan sebagainya. Itulah mengapa ia jadi di jauhi teman-temannya. Dalam suatu lingkungan sudah seharusnya bukan kita berdaptasi dan menyesuaikan.
            Aisyah awalnya terkejut melihat penampilanku tampak beda, ia bahkan pernah mengundangku  makan malam bersamanya hanya karena untuk membicarakan penampilan baruku. Ia mensasehatiku sepeti ayah di rumah. Aku hanya tersenyum  masam, menjawabnya dengan sopan. Aku jadi tak enak hati, jadi sebisa mungkin aku selalu mnghindar darinya.
            “ Laila, apa kau ingin terlambat konser ?” Nada berteriak.
            “ Iya, aku segera keluar.”
            “ Tenang saja, Aisyah masih di kampus. Sepertinya dia sedang mengikuti organisasi atau yang lainnya. Ia tampak sibuk setiap hari.” Aku menghela nafas lega, segera menyusul Nada yang sudah menunggu di beranda kos. Kami sekamar memang akrab sekali, bahkan satu kos kami sering mengadakan hal-hal yang konyol seperti bergadang bersama, membicarakan banyak hal.
            “ Laila mau kemana ?” Suara lembut itu menggelitik telingaku, oh tidak. Aku menolah pelan, tersenyum masam. Aisyah. Suara lembut itu terucap dari bibirnya.
            “ Aku.....hanya ingin mengerjakan tugas kelompok. Mengerjakan tugas.”
            “ Oh baiklah. Aku tidak akan berburuk sangka. Wassalamualaikum.”
            “ Waalaikumussalam.” Aku menghela nafas lega, aku segera melangkah menuju mobil Lisa. Kami berangkat menuju konser malam itu.
            Tak berselang lama ponselku beregetar. Ada satu pesan masuk, sebelum aku membuka pesan, aku  melihat sekilas wallpaper ponselku. Ada sebuah kota, banyak gedung di sana. Saat malam hari. Banyak warna di langit, malam terlihat dingin, aku hanya menafsirkan dalam khayalanku pastilah indah. Aurora borealis. Aku selalu melihatnya, menatap mimpiku sebelum aku terlelap, aku ingin ke sana, Tuhan. Melihat aurora borealis. Pelangi malam Kutub Utara.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar