“
Ayah sudah mengirim uang, Nak. Cek saja di ATM.” Aku mendengus nafas kesal.
Bukan, aku bukan korban dari perceraian rumah tangga, broken home dan lain
sebagainya. Aku hanya korban dari kegelisahan hati yang tak kunjung menemukan
sandaran, yang tak kunjung menemukan pondasi. Aku segera memutus telefon
seluler dan berlari menuju mesin ATM terdekat. Untuk apalagi menunggu ? Hari
ini malam minggu, saat yang tepat untuk bersenang-senang melihat konser paling
akbar tahun ini. Hanya sekali saja aku melakukan ini rasanya tidak akan terjadi
apa-apa.
Ku tarik uang puluhan juta itu dari
mesin ATM. Ku hirup baunya, ku tarik kartu ATMku dan segera pergi keluar.
Inilah Jakarta, lebih rumit dari negara asalku, Swiss. Aku Laila Nadia gadis
berumur 20 tahun yang bercita-cita menjadi seorang host atau reporter. Ayahku
bekerja di perkantoran, ibuku seorang reporter terkenal di Indonesia. Aku
selalu bercita-cita ingin mengikuti jejaknya. Aku pernah beberapa kali di ajak
ke studio siaran. Meski saat aku masih kecil ibu jarang berada di rumah namun
ibu selalu menyempatkan untuk menghubungiku dan ayah.
Aku amat menyayangi mereka dan tak
pernah sekali pun berniat untuk mengkhianati kerja keras mereka yang berniat
untuk menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Aku bukan siswa cerdas, taat
beragama atau semacamnya. Tapi, apalah daya ayah sudah di kenal sebagai orang
yang taat beragama. Nama ayah telah terdengar ke seluruh antreo kota
domisiliku. Rasanya pasti menyebalkan berada dalam kemunafikan. Aku selalu di
kenal sebagai putri seorang taat beragama yang taat beraga pula. Orang-orang
memandang keluarga kami dengan segan.
Yah, jadi apalah daya ? Topeng apa
yang harus aku kenakan saat aku berinteraksi di luar sana ? Aku terkadang lelah
menjalani hidup seperti ini. Hidup kami benar-benar berubah saat aku menginjak
kelas 3 SD. Nama ayah mulai di sebut-sebut orang, bahkan saat aku duduk di
bangku SMA keluargaku bagai diterjang angin ribut. Pujian-pujian dari
orang-orang mengalir deras. Apalah daya, aku tak pernah berharap besar dari
nama ayahku, tak pernah sekali pun aku berfikir demikian meski aku tak memiliki
apa pun. Iya. Apa yang aku miliki ? Cerdas ? Aku rasa tidak, taat beragama ? Ah
ayolah sejak kapan aku mendapat hidayah.
Sejak aku pindah ke Jakarta
kehidupanku telah berubah. Aku tetap beribadah, aku tetap melaksanakan shalat
lima waktu, aku tetap berpuasa Senin-Kamis, aku tetap menunaikan shalat tahajud
dan menutup auratku seperti tiga tahun lalu saat aku duduk di bangku SMA. Tapi,
banyak hal kecil yang telah ku lupakan. Tentang kedamaian hati.
“ Apakah kau sudah membeli tiket ?”
Angel yang melihatku keluar dari ATM segera menghampiriku.
“ Sudah. Hanya saja aku belum
membayar hutangku ke Lisa. Aku akan membayarnya segera.”
“ Oh, kau memakai uang Lisa untuk
membeli tiket.” Angela menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Aku
tersenyum. Mengangguk. Penampilanku telah di rombak total oleh Angela. Aku yang
awalnya selalu mengenakan jubah dan jilbab panjang menutupi dada, kini aku
sering mengenakan celana jeans dan hijab modern yang mengikuti zaman. Aku kira
ini lebih baik, bukankah kita harus berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan ?
Tidak buruk.
Aku sekamar dengan Angela, Lisa,
Raisa dan Nada. Aku bertetangga dengan mahasiswa dari perguruan nomer satu negeri
ini, ITB. Mahasiswa itu tampak selalu rajin belajar, mengerjakan tugas, tidur
larut dan melakukan hal-hal yang berbau perjuangan. Tapi
sepertinya hanya Aisyah yang berfikir keras tentang kuliah, usaha untuk
membantu orang tuanya dan sebagainya. Itulah mengapa ia jadi di jauhi teman-temannya.
Dalam suatu lingkungan sudah seharusnya bukan kita berdaptasi dan menyesuaikan.
Aisyah awalnya terkejut melihat
penampilanku tampak beda, ia bahkan pernah mengundangku makan malam bersamanya hanya karena untuk
membicarakan penampilan baruku. Ia mensasehatiku sepeti ayah di rumah. Aku
hanya tersenyum masam, menjawabnya
dengan sopan. Aku jadi tak enak hati, jadi sebisa mungkin aku selalu mnghindar
darinya.
“ Laila, apa kau ingin terlambat
konser ?” Nada berteriak.
“ Iya, aku segera keluar.”
“ Tenang saja, Aisyah masih di
kampus. Sepertinya dia sedang mengikuti organisasi atau yang lainnya. Ia tampak
sibuk setiap hari.” Aku menghela nafas lega, segera menyusul Nada yang sudah
menunggu di beranda kos. Kami sekamar memang akrab sekali, bahkan satu kos kami
sering mengadakan hal-hal yang konyol seperti bergadang bersama, membicarakan
banyak hal.
“ Laila mau kemana ?” Suara lembut
itu menggelitik telingaku, oh tidak. Aku menolah pelan, tersenyum masam.
Aisyah. Suara lembut itu terucap dari bibirnya.
“ Aku.....hanya ingin mengerjakan
tugas kelompok. Mengerjakan tugas.”
“ Oh baiklah. Aku tidak akan
berburuk sangka. Wassalamualaikum.”
“ Waalaikumussalam.” Aku menghela
nafas lega, aku segera melangkah menuju mobil Lisa. Kami berangkat menuju
konser malam itu.
Tak berselang lama ponselku
beregetar. Ada satu pesan masuk, sebelum aku membuka pesan, aku melihat sekilas wallpaper ponselku. Ada sebuah
kota, banyak gedung di sana. Saat malam hari. Banyak warna di langit, malam
terlihat dingin, aku hanya menafsirkan dalam khayalanku pastilah indah. Aurora
borealis. Aku selalu melihatnya, menatap mimpiku sebelum aku terlelap, aku
ingin ke sana, Tuhan. Melihat aurora borealis. Pelangi malam Kutub Utara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar