Ngomong-ngomong nih ya, saya bingung mau memulai dari
mana, bisa kalian kasih saya saran ? Melalui akun sosmed saya mungkin ? Hehe...
Oke-oke, saya mulai
ya..jangan di skip !
Remaja. Kita lahir sebagai manusia yang diberi bakat
masing-masing oleh-Nya. Namun, terkadang passion
itu sendiri sering dilupakan dan tidak digali oleh pemiliknya. Beberapa
yang lain malah asyik mengembangkan bakat tersebut dengan jalan yang kurang
tepat, ya bisa dibilang terpelset.
Remaja.
Kebanyakan dari kita terfokus pada hal-hal yang nampak pada panca indera. Soal
kecantikan, kekayaan, kecerdasan. Dan, kita sering kali menganggap hal-hal tersebut
sebagai ‘Kelebihan’ Ya, tentu saja itu adalah kelebihan yang diberikan Allah
untuk makhluk-Nya. Namun, mengapa kekaguman kita terhadap mereka menjadikan
kita seolah-olah kagum pada mereka ? Bukankah Allah menyuruh kita menyadari
alam semesta ini, kehebatan alam semesta ini agar menyadari bahwa Allah adalah
penciptanya dan kita hanyalah makhluk yang bernama manusia.
Remaja. Karena kita sering meng-salah artikan kata ‘Kagum’
kita seringkali terpeleset pada hal-hal yang tak seharusnya dilakukan. Lalu,
bagaimana dengan orang yang menyadari bahwa dirinya memiliki bakat, namun tidak
menggunakan bakat itu dengan baik ?
Saya pernah menonton di acara hitam putih, talkshow ini mengundang bintang tamu
seorang rocker. Apa bayangan kalian
jika terdengar ditelinga kalian seorang rocker
? Bertato ? Bertindik ? Mengenakan celana robek pada bagian lutut ? Tapi
ini nyata. Rocker itu menggunakan
jugah panjang, kopiah dan memiliki jenggot yang panjang. Sekali lagi saya
tegaskan, bintang tamu ini bukanlah seorang kyai atau ustadz, kawan.
Bagaimana mungkin ? Awalnya saya juga berpikir begitu,
bagaimana mungkin seorang rocker
berpakaian seperti ini ? Maka bintang tamu ini pun bercerita bahwa hijrahnya
berawal dari para ustadz masjid di Bali. Saat ia bersama teman-teman rocker-nya beristirahat disebuah
masjid, ia hanya berwudlu saja dan enggan sholat. Seusai sholat para rocker ini pun izin suapaya dibiarkan
untuk tinggal dimasjid untuk beberapa ahri karena tidak memiliki tempat
tinggal. Dan, selama tiga hari itu meski mereka tidak melaksanakan sholat,
mereka selalu mendengar adzan (membuat hati mereka menjadi tenang), mereka
diberi makan setiap hari, bahkan saat mereka hendak berpamitan untuk pulang,
ustadz itu mencegahnya dan menyuruh tinggal lebih lama.
“Ustadz, saya boleh bertanya ?”
“ Iya.”
“ Saya kan rocker, apa boleh saya sholat ?”
“ Rocker sih boleh, tapi jangan tinggalkan sholat.” Deg.
Maka sejak itulah sang rocker mulai menyadari bahwa menjadi apa pun
diperbolehkan dalam Islam asal hal itu baik. Dan, itulah menjadi awal hijrahnya
seorang rocker. Apa ia berubah profesi ? Tidak. Dia tetap menjadi seorang
rocker dengan karangan lagu-lagu bernuansa Islam. Indah bukan ?
Seseorang pandai bernyanyi (anggap saja perempuan),
suaranya amat merdu menggetarkan hati. Membuat siapa pun yang mendengarnya
menitihkan air mata, entah haru, senang, bahagia atau sedih, cerdas, cantik. Banyak dari kita memujinya, berkata
bahwa dia adalah perempuan sempurna, bidadari ! Sudah pintar dibidang akademik,
cantik, pandai menyanyi pula. Sayang, orang ini hanya menggunakan bakatnya untuk
menghibur orang, mencari nafkah untuk keluarganya. Hingga ia rela melepas
jilbab, mengurai rambut, berpakaian dengan tidak seharusnya. Tentu saja
penilaian ini relatif untuk setiap dari kita bukan ?
Bandingkan saja dengan seorang gadis yang memanfaatkan
suaranya itu untuk bertaltil, bersholawat, menyanyi hal-hal baik tanpa
mengharuskan ia mengumbar aurat. Bayangkan saja apa yang ia dapat ? Ia tidak
hanya mendapat upah untuk menafkahi keluarga, namun juga pahala dan kemuliaan
di sisi Allah. Dua hal ini adalah dua hal yang di analogikan. Tapi, bayangkan
apa yang terjadi di sekitar kita ? Mereka (saudara kita yang terpelset) sering
kali menghakimi bahwa Islam adalah agama yang membatasi ekspresi remaja.
Bagaimana tidak ? Di saat kita seharusnya bersenang-senang meng-eksplorasi
bakat kita, kita jutsru dibatasi oleh norma-norma agama dan aturan Allah.
Jangankan soal eksplorasi bakat, untuk selfie
pun, Islam menganjurkan agar kaum perempuan tidak mengumbar wajah di
medsos.
Remaja. Inilah perintah dari Tuhan, dan jika kita telaah
dan kaji kembali, pasti ada maksud Tuhan dibaliknya. Jika kedua orang di atas
sama-sama pandai bernyanyi, sama-sama cantik, sama-sama cerdas mengapa kita
tidak menjadi remaja yang baik sekalian ? Jangan takut di cemooh orang lain, jangan
takut dikucilkan orang lain, jangan takut terhadap prasangka orang lain. Karena
Tuhan lebih mengerti siapa yang benar dan tidak, maka kita harus berusaha
membenahi diri. Jadi, marilah kita menggali bakat kita. Jadilah penulis yang
sholih-sholihah, jadilah penyanyi yang sholih-sholihah, jadilah model yang
sholih-sholihah, jadilah arsitek yang sholih-sholihah, jadilah pengibar bendera
yang sholih-sholihah, jadilah pramugari yang sholihah, jadilah tentara yang
sholih-sholihah, jadilah wali kota yang sholih-sholihah, jadilah ilmuwan yang
sholih-sholihah karena sesungguhnya jika kita mencintai Islam, maka tidak ada
alasan apa pun yang mengatakan bahwa ‘Islam membatas ekspresi kita sebagai
remaja’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar