Kamis, 24 November 2016

Islam Tidak Membatsi Kita (Sebagai Remaja) Untuk Berekspresi



Selamat menyambut matahari terbenam, kawan. Haha..di sini gelap, mendung. Baru saja hujan reda beberapa detik yang lalu. Jadilah saya tidak bisa menatap matahari terbenam (memangnya pernah ?) Assalamualaikum sahabat Spring Gallery. Alhamdulillah hari ini saya bisa menumpahkan pikiran saya pada tulisan ini. Senangnya. Di paragraf-paragraf berikutnya nanti saya akan membahas sebuah analogi dan ah sedikit curhatan yang semoga saja bermanfat hehe...
            Ngomong-ngomong nih ya, saya bingung mau memulai dari mana, bisa kalian kasih saya saran ? Melalui akun sosmed saya mungkin ? Hehe...
Oke-oke, saya mulai ya..jangan di skip !
            Remaja. Kita lahir sebagai manusia yang diberi bakat masing-masing oleh-Nya. Namun, terkadang passion itu sendiri sering dilupakan dan tidak digali oleh pemiliknya. Beberapa yang lain malah asyik mengembangkan bakat tersebut dengan jalan yang kurang tepat, ya bisa dibilang terpelset.
           
Dan, kebanyakan dari kita (remaja) yang tak menyadari akan potensi dirinya justru bersandar pada panutan. Tentu saja semua remaja berhak memiliki panutan (termasuk saya). Namun, tidak semua panutan itu dapat kita contoh, atau lebih tepatnya tidak sembarang orang dapat kita jadikan panutan.
Remaja. Kebanyakan dari kita terfokus pada hal-hal yang nampak pada panca indera. Soal kecantikan, kekayaan, kecerdasan. Dan, kita sering kali menganggap hal-hal tersebut sebagai ‘Kelebihan’ Ya, tentu saja itu adalah kelebihan yang diberikan Allah untuk makhluk-Nya. Namun, mengapa kekaguman kita terhadap mereka menjadikan kita seolah-olah kagum pada mereka ? Bukankah Allah menyuruh kita menyadari alam semesta ini, kehebatan alam semesta ini agar menyadari bahwa Allah adalah penciptanya dan kita hanyalah makhluk yang bernama manusia.
            Remaja. Karena kita sering meng-salah artikan kata ‘Kagum’ kita seringkali terpeleset pada hal-hal yang tak seharusnya dilakukan. Lalu, bagaimana dengan orang yang menyadari bahwa dirinya memiliki bakat, namun tidak menggunakan bakat itu dengan baik ?
            Saya pernah menonton di acara hitam putih, talkshow ini mengundang bintang tamu seorang rocker. Apa bayangan kalian jika terdengar ditelinga kalian seorang rocker ? Bertato ? Bertindik ? Mengenakan celana robek pada bagian lutut ? Tapi ini nyata. Rocker itu menggunakan jugah panjang, kopiah dan memiliki jenggot yang panjang. Sekali lagi saya tegaskan, bintang tamu ini bukanlah seorang kyai atau ustadz, kawan.
            Bagaimana mungkin ? Awalnya saya juga berpikir begitu, bagaimana mungkin seorang rocker berpakaian seperti ini ? Maka bintang tamu ini pun bercerita bahwa hijrahnya berawal dari para ustadz masjid di Bali. Saat ia bersama teman-teman rocker­-nya beristirahat disebuah masjid, ia hanya berwudlu saja dan enggan sholat. Seusai sholat para rocker ini pun izin suapaya dibiarkan untuk tinggal dimasjid untuk beberapa ahri karena tidak memiliki tempat tinggal. Dan, selama tiga hari itu meski mereka tidak melaksanakan sholat, mereka selalu mendengar adzan (membuat hati mereka menjadi tenang), mereka diberi makan setiap hari, bahkan saat mereka hendak berpamitan untuk pulang, ustadz itu mencegahnya dan menyuruh tinggal lebih lama.
            “Ustadz, saya boleh bertanya ?”
            “ Iya.”
            “ Saya kan rocker, apa boleh saya sholat ?”
            “ Rocker sih boleh, tapi jangan tinggalkan sholat.” Deg. Maka sejak itulah sang rocker mulai menyadari bahwa menjadi apa pun diperbolehkan dalam Islam asal hal itu baik. Dan, itulah menjadi awal hijrahnya seorang rocker. Apa ia berubah profesi ? Tidak. Dia tetap menjadi seorang rocker dengan karangan lagu-lagu bernuansa Islam. Indah bukan ?
            Seseorang pandai bernyanyi (anggap saja perempuan), suaranya amat merdu menggetarkan hati. Membuat siapa pun yang mendengarnya menitihkan air mata, entah haru, senang, bahagia atau sedih, cerdas,  cantik. Banyak dari kita memujinya, berkata bahwa dia adalah perempuan sempurna, bidadari ! Sudah pintar dibidang akademik, cantik, pandai menyanyi pula. Sayang, orang ini hanya menggunakan bakatnya untuk menghibur orang, mencari nafkah untuk keluarganya. Hingga ia rela melepas jilbab, mengurai rambut, berpakaian dengan tidak seharusnya. Tentu saja penilaian ini relatif untuk setiap dari kita bukan ?
            Bandingkan saja dengan seorang gadis yang memanfaatkan suaranya itu untuk bertaltil, bersholawat, menyanyi hal-hal baik tanpa mengharuskan ia mengumbar aurat. Bayangkan saja apa yang ia dapat ? Ia tidak hanya mendapat upah untuk menafkahi keluarga, namun juga pahala dan kemuliaan di sisi Allah. Dua hal ini adalah dua hal yang di analogikan. Tapi, bayangkan apa yang terjadi di sekitar kita ? Mereka (saudara kita yang terpelset) sering kali menghakimi bahwa Islam adalah agama yang membatasi ekspresi remaja. Bagaimana tidak ? Di saat kita seharusnya bersenang-senang meng-eksplorasi bakat kita, kita jutsru dibatasi oleh norma-norma agama dan aturan Allah. Jangankan soal eksplorasi bakat, untuk selfie pun, Islam menganjurkan agar kaum perempuan tidak mengumbar wajah di medsos.
            Remaja. Inilah perintah dari Tuhan, dan jika kita telaah dan kaji kembali, pasti ada maksud Tuhan dibaliknya. Jika kedua orang di atas sama-sama pandai bernyanyi, sama-sama cantik, sama-sama cerdas mengapa kita tidak menjadi remaja yang baik sekalian ?  Jangan takut di cemooh orang lain, jangan takut dikucilkan orang lain, jangan takut terhadap prasangka orang lain. Karena Tuhan lebih mengerti siapa yang benar dan tidak, maka kita harus berusaha membenahi diri. Jadi, marilah kita menggali bakat kita. Jadilah penulis yang sholih-sholihah, jadilah penyanyi yang sholih-sholihah, jadilah model yang sholih-sholihah, jadilah arsitek yang sholih-sholihah, jadilah pengibar bendera yang sholih-sholihah, jadilah pramugari yang sholihah, jadilah tentara yang sholih-sholihah, jadilah wali kota yang sholih-sholihah, jadilah ilmuwan yang sholih-sholihah karena sesungguhnya jika kita mencintai Islam, maka tidak ada alasan apa pun yang mengatakan bahwa ‘Islam membatas ekspresi kita sebagai remaja’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar