Assalamualaikum
teman-teman dijalan dakwah J
Semoga Allah selalu menjadikan hati kalian damai dan bahagia di sana. Malam
Senin ini tiba-tiba mimin mau curhat masalah masa depan nih (eak tumben ?) Gini
nih..
Mimin mau
cerita hal ini karena terinspirasi dari peristiwa #AksiDamai411 kemarin yang
digelar di ibukota kita tercinta (re : DKI Jakarta). Oke, langsung aja.
Sebenernya mimin tuh pengen banget jadi wartawan sejak kelas X hehe..
Kenapa ?
Karena mimin nyaman nulis sesuatu, mengungkapkan apapun dengan tulisan, mimin
orangnya juga pemalu jadi ya dengan menulis cabang-cabang pohon di otak mimin
terpangkas. Tapi, jangan tanya kalau mimin uda dekat sama kalian (sebagai
teman) ya pasti muncul sifat asli mimin dan kalau mimin punya kemauan kuat
untuk mendapat sesuatu mimin akan mengalahkan sifat pemalu itu (waktu ikut
lomba pidato ya terpaksa ngontrol rasa malu itu dengan sekuat tenaga).
Dari situlah
mimin berjuang habis-habisan buat masuk ilmu komunikasi UNAIR dengan segala
tenaga mimin, mimin berusaha istiqomah buat tembus kampus yang katanya ilkomnya
itu setara dengan kedokteran. Kebayang kan nekad banget ? Apalagi aku lintas
jurusan dari MIA ke IIS.
Kembali nih ya
ke ceritanya, ditengah perjuanganku untuk istiqomah dan ikhtiar untuk menjadi
mahasiswa ilkom UNAIR Allah membuka banyak pengertian tentang wartawan itu
sendiri ditengah negara sekuler. Pengertian itu awalnya datang dari abi sebagai
pendampingku, dan pengamat politik
(melalaui media) beliau sering mengkritik bahwa banyak (mayoritas) wartawan
bekerja tidak objektif. Dan aku pribadi tahu bahwa hal itu bertentangan dengan
kode etik wartawan.
Apalagi sejak pemberitaan
bahwa pangeran Saudi (entah dituduh atau memang kenyataan) tersandung kasus
yang tidak mengenakkan di awal tahun 2016 atau akhir 2015 (mimin lupa). Mimin
tahu hal itu melalui twitter (menjadi TTI), dan masing-masing media
memberitakan hal berbeda. Dilanjut dengan kasus #AksiDamai411 kemudian
pem-blokiran beberapa situs berita berideologi Islam. Sejak itulah impian mimin mulai goyah. Banyak
opini yang muncul melalui media bertentangan dengan Islam. Mimin paham bahwa
tugas wartawan adalah hanya menyampaikan berita (apa adanya dilapangan dan
tanpa rekayasa, pencampuran opini) tapi bukankah itu sama saja membongkar aib
jika sesuatu yang diberitakan itu merupakan aib dan bukan menginspirasi atau
memberi contoh / teladan. Mungkin itulah awal dari penguburan mimpi mimin
selama 2 tahun terakhir. Saatnya membuka
lembaran baru, mimpi baru, ikhtiar baru dan tawakkal baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar