Minggu, 06 November 2016

Pernah Mimpi Jadi Wartawan



Assalamualaikum teman-teman dijalan dakwah J Semoga Allah selalu menjadikan hati kalian damai dan bahagia di sana. Malam Senin ini tiba-tiba mimin mau curhat masalah masa depan nih (eak tumben ?) Gini nih..
Mimin mau cerita hal ini karena terinspirasi dari peristiwa #AksiDamai411 kemarin yang digelar di ibukota kita tercinta (re : DKI Jakarta). Oke, langsung aja. Sebenernya mimin tuh pengen banget jadi wartawan sejak kelas X hehe..
Kenapa ? Karena mimin nyaman nulis sesuatu, mengungkapkan apapun dengan tulisan, mimin orangnya juga pemalu jadi ya dengan menulis cabang-cabang pohon di otak mimin terpangkas. Tapi, jangan tanya kalau mimin uda dekat sama kalian (sebagai teman) ya pasti muncul sifat asli mimin dan kalau mimin punya kemauan kuat untuk mendapat sesuatu mimin akan mengalahkan sifat pemalu itu (waktu ikut lomba pidato ya terpaksa ngontrol rasa malu itu dengan sekuat tenaga).
Dari situlah mimin berjuang habis-habisan buat masuk ilmu komunikasi UNAIR dengan segala tenaga mimin, mimin berusaha istiqomah buat tembus kampus yang katanya ilkomnya itu setara dengan kedokteran. Kebayang kan nekad banget ? Apalagi aku lintas jurusan dari MIA ke IIS.
Kembali nih ya ke ceritanya, ditengah perjuanganku untuk istiqomah dan ikhtiar untuk menjadi mahasiswa ilkom UNAIR Allah membuka banyak pengertian tentang wartawan itu sendiri ditengah negara sekuler. Pengertian itu awalnya datang dari abi sebagai pendampingku,  dan pengamat politik (melalaui media) beliau sering mengkritik bahwa banyak (mayoritas) wartawan bekerja tidak objektif. Dan aku pribadi tahu bahwa hal itu bertentangan dengan kode etik wartawan.
Apalagi sejak pemberitaan bahwa pangeran Saudi (entah dituduh atau memang kenyataan) tersandung kasus yang tidak mengenakkan di awal tahun 2016 atau akhir 2015 (mimin lupa). Mimin tahu hal itu melalui twitter (menjadi TTI), dan masing-masing media memberitakan hal berbeda. Dilanjut dengan kasus #AksiDamai411 kemudian pem-blokiran beberapa situs berita berideologi Islam.  Sejak itulah impian mimin mulai goyah. Banyak opini yang muncul melalui media bertentangan dengan Islam. Mimin paham bahwa tugas wartawan adalah hanya menyampaikan berita (apa adanya dilapangan dan tanpa rekayasa, pencampuran opini) tapi bukankah itu sama saja membongkar aib jika sesuatu yang diberitakan itu merupakan aib dan bukan menginspirasi atau memberi contoh / teladan. Mungkin itulah awal dari penguburan mimpi mimin selama  2 tahun terakhir. Saatnya membuka lembaran baru, mimpi baru, ikhtiar baru dan tawakkal baru.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar