Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan.. Meloncati rasa suka dan tidak suka.. Melampaui batas cinta dan benci.. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi.. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat.. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.. Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita..
Assalamualaikum saudara-saudaraku seiman. Selamat sore, selamat menikmati hujan dipertengahan November. Semoga hidayah Allah selalu menaungi kita semua.
Cinta. Satu kata yang susah untuk di deskripsikan. Bahkan ilmu psikologi juga susah mendefinisikannya, karena yang dapat ditelaah dari perilaku yang timbul dari adanya cinta adalah saat dada dag-dig-dug-serr, suka curi-curi pandang ke doi, penasaran bagaimana keadaannya Dan tiba-tiba saja sering terngiang tentangnya.
Bagaimana Islam memandang cinta itu sendiri ? Hmm..cinta itu fitrah, suci. Kita boleh kok tertarik, naksir, jatuh cinta. Tapi, yang menjadi fokusnya adalah lantas apa perilaku yang kita lakukan setelah kita jatuh cinta ? Menyimpannya kah ? Memberitahukan pada orang yang kita sukai kah ?
Mari kita simak kembali sebuah kisah percintaan klasik, yang romantisnya melampaui kisah Romeo-Juliet. Siapa pagi jika bukan kisah Ali-Fatimah yang justru cara mereka mencintai malah membuat perasaan itu lebih indah. Karena yang terpenting dari mencintai bukan memiliki, tapi perasaan itu sendiri. (Kata Bang Tere Liye)
Ali-Fatimah, keduanya dididik oleh orang yang sama. Manusia paling mulia di Bumi, Nabi Muhammad SAW. Keduanya sama-sama memendam perasaan, namun tiada pengungkapan. Bahkan hingga Fatinah di khitbah oleh Abu Bakar dan Utsman yang notabene lebih tua dari Ali. Namun, Allah membuat jalan lain.
Pacaran dalam Islam ? Boleh. Pacaran Itu amat dianjurkan, tapi setelah nikah ya. Kenapa sih kok Islam melarang pacaran, berkhalwat ? Bahkan, mendekati Zina saja kita dilarang.
Ya, hal-hal tersebut mempunyai beberapa dampak seperti kurangnya fokus untuk melakukan Hal positif, berkurangnya waktu untuk melakukan hal positif, kehabisan uang buat ntraktir pacar sampai penularan penyakit HIV/AIDS.
Penelitian psikologi membuktikan bahwa orang-orang yang tinggal serumah, pacaran sebelum menikah cenderung menunjukkan angka perceraian lebih banyak dibandingkan orang yang tidak pacaran atau tidak tinggal serumah. (Laura A. King, Psikologi Umum) padahal nih katanya nikah itu butuh latihan, tapi kenapa justru penelitian menghasilkan Hal yang berlawanan dengan dugaan atau asumsi kita ?
TabarakAllah. Semua larangan dan perintah Allah adalah untuk kebaikan makhluk-Nya. Semoga tulisan yang banyak kurangnya ini dapat mengingatkan kita semua. Jazakillah khairan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar