Senin, 05 Februari 2018

Mustajabnya Doa Orangtua



Assalamualaikum sahabat Spring Gallery  yang insyaallah dirahmati Allah selalu. Semoga yang sakit segera sembuh, semoga yang sedang berada dalam kesempitan segera dilapangkan, semoga yang sedang gundah hatinya segera tenang karena mengingat Allah. Semoga hidayah selalu menaungi kita semua.

            ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud; hasan)
            Maka pertemuan kita (via online) kali ini dibuka dengan sebuah hadits yang mengabarkan tentang betapa mudahnya doa kedua orang tua ini menembus langit ketujuh dan mengguncang arsy Allah. Ditilik dari judulnya saja mungkin sudah kentara apa yang akan mimin bahas kali ini.
            Sebenarnya ada suatu hal yang melatarbelakangi judul yang mimin tulis malam ini. Semoga ada manfaat yang bisa dipetik dari celoteh mimin yang mimin ketik dengan sisa-sisa tenaga hari ini hehe..
            Ada peristiwa yang terkadang tanpa kita sadari ternyata hal itu adalah buah dari doa orang tua yang selalu terbangun di sepertiga malam, bibirnya tak pernah kering mendoakan anaknya agar menjadi qurrota a’yun. Tidak cukup itu, bahkan keduanya selalu mendoakan kita agar kita dipertemukan dengan orang-orang yang dapat membawa kita tetap dalam kebaikan.
            Sebuah kisah ini semoga dapat menyadarkan kita bahwa ternyata kebetulan-kebetulan yang baik tidak selalu dikarenakan kebetulan. Namun, kebetulan-kebetulan yang biasa kita sebut sebagai keberuntungan bisa Allah datangkan dari mana saja, utamanya dari doa orangtua yang dapat menggetarkan arsy.
            Mimin pernah mendengar sebuah kisah dari seseorang. Dia menceritakan bagaimana takdir membawanya ke sebuah kampus yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan tidak pernah ia impikan selama 16 tahun hidup di dunia.  Kesadaran pertama ia baru menyadari bahwa pilihan kampus adalah pilihan-Nya. Mengapa begitu ? Karena sebelumnya ia bermimpi untuk menimba ilmu di kampus lain, namun berkat petunjuk-Nya, ia memutarbalikkan cita-citanya dalam sekejap. Kesadaran kedua ia dipertemukan Allah dengan orang-orang shalih. Mulai dari teman sekamarnya saat merantau, teman sekelasnya (yang perlahan-lahan menitih jalan hijrah), kaka tingkat yang menghargai perbedaan, dimudahkan dalam menemukan majelis-majelis ilmu yang tersebar di seluruh penjuru kampus.
            Maka orang ini mengingat kembali apa yang menyebabkan hal-hal baik mudah menghampirinya, bagaimana Allah menjaganya dengan mempertemukannya dengan orang-orang yang selalu berharap ridha-Nya. Kemudian, ia teringat tentang doa kedua orangtuanya yang tidak berhenti untuk mendoakannya diperantauan. “ Nak, semoga kamu dipertemukan dengan teman-teman yang baik, dosen yang baik, ibu kos yang baik, lingkungan yang baik.”
            Saat itu juga ia menyadari bahwa kebetulan-kebetulan itu tidak hanya sebuah kebetulan. Jadi, bagaimana mungkin kita bertemu hanya karena sebuah kebetulan ? Allah sudah menggariskan takdir kita bahwa kita akan bertemu dengan siapa nanti, akan berteman dengan siapa dan kesemuanya bisa terjadi berkat takdir dan kekuatan doa yang dapat merubah takdir. Utamanya doa orangtua. Maka dipenghujung tulisan mimin, izinkan mimin mengutip (lagi) quotes dari ustadz Salim A. Fillah yang semoga menjadi perbekalan kita sebagai anak rantau. Jazakumullah khairan katsir. Wassalamu'alaikum.
Jika hati senantiasa berniat baik. Allah akan pertemukan dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik dan kesempatan berbuat baik.
-Salim A. Fillah-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar