Assalamualaikum
sahabat Spring Gallery yang insyaallah
dirahmati Allah selalu. Semoga yang sakit segera sembuh, semoga yang sedang
berada dalam kesempitan segera dilapangkan, semoga yang sedang gundah hatinya
segera tenang karena mengingat Allah. Semoga hidayah selalu menaungi kita
semua.
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu
doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud; hasan)
Maka pertemuan kita (via online) kali ini dibuka dengan sebuah
hadits yang mengabarkan tentang betapa mudahnya doa kedua orang tua ini
menembus langit ketujuh dan mengguncang arsy
Allah. Ditilik dari judulnya saja mungkin sudah kentara apa yang akan mimin
bahas kali ini.
Sebenarnya ada suatu hal yang
melatarbelakangi judul yang mimin tulis malam ini. Semoga ada manfaat yang bisa
dipetik dari celoteh mimin yang mimin ketik dengan sisa-sisa tenaga hari ini
hehe..
Ada peristiwa yang terkadang tanpa
kita sadari ternyata hal itu adalah buah dari doa orang tua yang selalu
terbangun di sepertiga malam, bibirnya tak pernah kering mendoakan anaknya agar
menjadi qurrota a’yun. Tidak cukup
itu, bahkan keduanya selalu mendoakan kita agar kita dipertemukan dengan
orang-orang yang dapat membawa kita tetap dalam kebaikan.
Sebuah kisah ini semoga dapat
menyadarkan kita bahwa ternyata kebetulan-kebetulan yang baik tidak selalu
dikarenakan kebetulan. Namun, kebetulan-kebetulan yang biasa kita sebut sebagai
keberuntungan bisa Allah datangkan dari mana saja, utamanya dari doa orangtua
yang dapat menggetarkan arsy.
Mimin pernah mendengar sebuah kisah
dari seseorang. Dia menceritakan bagaimana takdir membawanya ke sebuah kampus
yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan tidak pernah ia impikan
selama 16 tahun hidup di dunia. Kesadaran
pertama ia baru menyadari bahwa pilihan kampus adalah pilihan-Nya.
Mengapa begitu ? Karena sebelumnya ia bermimpi untuk menimba ilmu di kampus
lain, namun berkat petunjuk-Nya, ia memutarbalikkan cita-citanya dalam sekejap.
Kesadaran
kedua ia dipertemukan Allah dengan orang-orang shalih. Mulai dari teman
sekamarnya saat merantau, teman sekelasnya (yang perlahan-lahan menitih jalan
hijrah), kaka tingkat yang menghargai perbedaan, dimudahkan dalam menemukan
majelis-majelis ilmu yang tersebar di seluruh penjuru kampus.
Maka orang ini mengingat kembali apa
yang menyebabkan hal-hal baik mudah menghampirinya, bagaimana Allah menjaganya
dengan mempertemukannya dengan orang-orang yang selalu berharap ridha-Nya. Kemudian,
ia teringat tentang doa kedua orangtuanya yang tidak berhenti untuk
mendoakannya diperantauan. “ Nak, semoga kamu dipertemukan dengan teman-teman yang
baik, dosen yang baik, ibu kos yang baik, lingkungan yang baik.”
Saat itu juga ia menyadari bahwa
kebetulan-kebetulan itu tidak hanya sebuah kebetulan. Jadi, bagaimana mungkin
kita bertemu hanya karena sebuah kebetulan ? Allah sudah menggariskan takdir
kita bahwa kita akan bertemu dengan siapa nanti, akan berteman dengan siapa dan
kesemuanya bisa terjadi berkat takdir dan kekuatan doa yang dapat merubah
takdir. Utamanya doa orangtua. Maka dipenghujung tulisan mimin, izinkan mimin
mengutip (lagi) quotes dari ustadz
Salim A. Fillah yang semoga menjadi perbekalan kita sebagai anak rantau.
Jazakumullah khairan katsir. Wassalamu'alaikum.
Jika hati senantiasa berniat baik. Allah
akan pertemukan dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik dan
kesempatan berbuat baik.
-Salim A. Fillah-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar