Hanya Sekali Seumur Hidup (Dakwah,
Kuliah, Organisasi, Adu Soft Skill Dalam Kompetisi, Mengabdi Untuk Masyarakat)
Assalamualaikum saudara-saudaraku Spring Gallery. Apa kabar kalian yang
mungkin hendak melaksanakan UTS ? Apa kabar adik-adikku menjelang SBMPTN ? Apa
kabar teman-teman yang dirundung galau karena sibuk tenggelam dalam rutinitas ?
Semoga Allah turunkan malaikat-malaikat-Nya untuk menjaga kita, menguatkan hati
kita yang rapuh karena tugas
kuliah semakin banyak, dosen semakin ganas (*eh?)
dan semoga Allah kuatkan langkah kaki kita terus-menerus menuju kebaikan.
Hari ini mimin akan membahas
permasalahan yang seringkali menghinggapi kita (mahasiswa) mulai dari konflik
batin dalam menentukan skala prioritas, galau karena banyak tugas, dosen yang
susah diajak berkompromi, merasa kesepian dan sendiri karena menjadi anak
rantau. Bagi adik-adikku mimin hanya ingin menyampaikan pesan singkat bahwa
kuliah itu tidak mudah (tapi Allah membuatnya mudah), kuliah itu membuat hidup
kita banyak pikiran (tapi Allah bukakan jalan). Bagi teman-temanku (termasuk
diriku sendiri) aku ingin meningatkan bahwa hidup ini hanya sekali, maka
manfaatkan banyak waktu luang kita untuk menebar kebermanfaatan untuk sesama
dan alam.
خَيْرُ
الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani,
ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’
no:3289)
Hidup hanya sekali, maka mari
jadikan kehidupan ini lebih bermakna, lebih berharga dengan kebersyukuran. Menurut
teori psikologi positif yang diusung Prof. Seligman, ada tiga cara untuk
bahagia :
1. Have
a Pleasant Life (life of enjoyment)
Memiliki
hidup yang menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin (cara yang
biasa ditempuh oleh kaum hedonis). Namun apabila cara ini yang kita tempuh,
hati-hati terjebak dalam hedonic treadmill (semakin kita mencari kenikmatan,
semakin kita sulit dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu
banyak). Lebih baik dalam takaran yang pas namun dapat membahagiakan kita.
Dalam
teori ini jelas bahwa semakin kita mengejar kepuasan dunia, maka yang kita
dapatkan hanya tenggorokan yang semakin haus akan kenikmatan dunia. Tidak hanya
dalam masalah harta, namun sebagai mahasiswa hal ini berkaitan dengan kehausan
kita atau keinginan kita atas prestasi (akademik atau non-akademik)
2. Have
a good life (life of engagement)
Dalam bahasa
aristoteles disebut eudaimonia. Terlibat dalam pekerjaan, hubungan atau
kegiatan yang membuat kita mengalami “flow”. Merasa terserap dalam kegiatan
itu, seakan-akan waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun,
karena sangat “khusyu'”.
3. Have
a meaningful life (life of contribution)
Memiliki
semangat untuk melayani, berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain atau
mahluk lain. Menjadi bagian dari organisasi atau kelompok, tradisi atau gerakan
tertentu. Merasa hidup memiliki “makna” yang lebih tinggi dan lebih abadi
dibanding diri kita sendiri.
Hal ini
dimaksudkan agar hidup kita selalu bermanfaat untuk orang lain, agar segala
aktivitas yang kita lakukan memiliki dampak positif untuk orang lain dan alam.
Contoh kongkrit sebagai mahasiswa adalah dengan menjadi relawan, volunteer, dakwah (mengajak orang lain
dan diri kita menuju kebaikan, menyelamatkan orang lain dan mengingatkan kita
untuk lebih dekat dengan-Nya), mengikuti organisasi untuk membangun relasi,
mengikuti kompetisi untuk meraih ridho-Nya dengan cara membahagiakan orang tua. Uhh
Maka sekian
sedikit artikel yang mimin buat dengan penuh cinta dan harapan ini (hehe..)
silakan mengirim komentar berupa kritik, saran dan masukan di kolom komentar.
Selamat beraktivitas kembali, semoga Allah membuka jalan kita. Aamiin.
Wassalamualaikum.
Sumber :
Sumber :
https://www.google.co.id/amp/s/reidafildzahni.wordpress.com/2014/04/14/psikologi-positif/amp/

Menurut saya, pemilihan font diperhatikan. Saya tidak tahu alasannya apa, tapi mengapa poin kedua dan ketiga itu menggunakan font B sedangkan poin pertama menggunakan font A yang lebih jelas. Kejadian serupa juga ditemukan pada sumber.
BalasHapusPermasalahan pemilihan font, hehe.
BalasHapusIlmuwan menemukan bahwa dengan font yang sulit terbaca, dalam mengikuti tes, partisipan cenderung mendapatkan poin lebih dikarenakan lebih fokus karena takut untuk melakukan kesalahan,
BalasHapus