Minggu, 11 Maret 2018

Happiness Dalam Islam



Hanya Sekali Seumur Hidup (Dakwah, Kuliah, Organisasi, Adu Soft Skill Dalam Kompetisi, Mengabdi Untuk Masyarakat)
            Assalamualaikum saudara-saudaraku Spring Gallery. Apa kabar kalian yang mungkin hendak melaksanakan UTS ? Apa kabar adik-adikku menjelang SBMPTN ? Apa kabar teman-teman yang dirundung galau karena sibuk tenggelam dalam rutinitas ? Semoga Allah turunkan malaikat-malaikat-Nya untuk menjaga kita, menguatkan hati kita yang rapuh karena tugas
kuliah semakin banyak, dosen semakin ganas (*eh?) dan semoga Allah kuatkan langkah kaki kita terus-menerus menuju kebaikan.
            Hari ini mimin akan membahas permasalahan yang seringkali menghinggapi kita (mahasiswa) mulai dari konflik batin dalam menentukan skala prioritas, galau karena banyak tugas, dosen yang susah diajak berkompromi, merasa kesepian dan sendiri karena menjadi anak rantau. Bagi adik-adikku mimin hanya ingin menyampaikan pesan singkat bahwa kuliah itu tidak mudah (tapi Allah membuatnya mudah), kuliah itu membuat hidup kita banyak pikiran (tapi Allah bukakan jalan). Bagi teman-temanku (termasuk diriku sendiri) aku ingin meningatkan bahwa hidup ini hanya sekali, maka manfaatkan banyak waktu luang kita untuk menebar kebermanfaatan untuk sesama dan alam.
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)
            Hidup hanya sekali, maka mari jadikan kehidupan ini lebih bermakna, lebih berharga dengan kebersyukuran. Menurut teori psikologi positif yang diusung Prof. Seligman, ada tiga cara untuk bahagia :
1.      Have a Pleasant Life (life of enjoyment)
Memiliki hidup yang menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin (cara yang biasa ditempuh oleh kaum hedonis). Namun apabila cara ini yang kita tempuh, hati-hati terjebak dalam hedonic treadmill (semakin kita mencari kenikmatan, semakin kita sulit dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu banyak). Lebih baik dalam takaran yang pas namun dapat membahagiakan kita.
Dalam teori ini jelas bahwa semakin kita mengejar kepuasan dunia, maka yang kita dapatkan hanya tenggorokan yang semakin haus akan kenikmatan dunia. Tidak hanya dalam masalah harta, namun sebagai mahasiswa hal ini berkaitan dengan kehausan kita atau keinginan kita atas prestasi (akademik atau non-akademik)
2.      Have a good life (life of engagement)
Dalam bahasa aristoteles disebut eudaimonia. Terlibat dalam pekerjaan, hubungan atau kegiatan yang membuat kita mengalami “flow”. Merasa terserap dalam kegiatan itu, seakan-akan waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun, karena sangat “khusyu'”.
3.      Have a meaningful life (life of contribution)
Memiliki semangat untuk melayani, berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain atau mahluk lain. Menjadi bagian dari organisasi atau kelompok, tradisi atau gerakan tertentu. Merasa hidup memiliki “makna” yang lebih tinggi dan lebih abadi dibanding diri kita sendiri.
Hal ini dimaksudkan agar hidup kita selalu bermanfaat untuk orang lain, agar segala aktivitas yang kita lakukan memiliki dampak positif untuk orang lain dan alam. Contoh kongkrit sebagai mahasiswa adalah dengan menjadi relawan, volunteer, dakwah (mengajak orang lain dan diri kita menuju kebaikan, menyelamatkan orang lain dan mengingatkan kita untuk lebih dekat dengan-Nya), mengikuti organisasi untuk membangun relasi, mengikuti kompetisi untuk meraih ridho-Nya dengan cara membahagiakan orang tua. Uhh
Maka sekian sedikit artikel yang mimin buat dengan penuh cinta dan harapan ini (hehe..) silakan mengirim komentar berupa kritik, saran dan masukan di kolom komentar. Selamat beraktivitas kembali, semoga Allah membuka jalan kita. Aamiin. Wassalamualaikum.
Sumber : 
           https://www.google.co.id/amp/s/reidafildzahni.wordpress.com/2014/04/14/psikologi-positif/amp/

3 komentar:

  1. Menurut saya, pemilihan font diperhatikan. Saya tidak tahu alasannya apa, tapi mengapa poin kedua dan ketiga itu menggunakan font B sedangkan poin pertama menggunakan font A yang lebih jelas. Kejadian serupa juga ditemukan pada sumber.

    BalasHapus
  2. Permasalahan pemilihan font, hehe.

    BalasHapus
  3. Ilmuwan menemukan bahwa dengan font yang sulit terbaca, dalam mengikuti tes, partisipan cenderung mendapatkan poin lebih dikarenakan lebih fokus karena takut untuk melakukan kesalahan,

    BalasHapus