Jumat, 20 Juli 2018

Dosen UM Korupsi. Apa yang Seharusnya Dilakukan Mahasiswa Almamater Biru ?


Assalamualaikum. Welcome to Spring Gallery ! Sore ini, aku kaget banget waktu buka ponsel, aku nemuin salah satu petisi gerakan UM (Universitas Negeri Malang) berkaitan dengan isu dosen UM yang korupsi. Di salah satu tautan temen, aku nemunin beberapa link dari salah satu media lokal Malang yang menyebutkan tiga problematika UM paling hangat, aktual dan bombastis 2018 ini. Tiga berita itu di antaranya
1.      Biaya UKT UM terlalu mahal membuat mahasiswa baru menangis

2.      Pergantian warna jas almamater UM
3                                                                   3.      Dua dosen UM korupsi
Meski aku bukan orang pers, aku cukup prihatin dengan salah satu judul berita media lokal Malang yang membuat judul “Maba Universitas Negeri Malang Nangis karena Uang Kuliah Tunggal Dirasa Kemahalan” awalnya aku ngga percaya sama judul yang terkesan bombastis itu karena link dari media tersebut terdapat nama salah satu media portal berita online yang dikenal kalangan pers sebagai media dengan judul bombastis dan berbeda antara isi dengan judul.
Setelah aku buka, benar saja konten berita kurang sesuai dengan judul. Isi berita itu menyebutkan bahwa adalah salah satu mahasiswa baru UM yang merasa biaya UKT terlalu mahal. Narasumber mendapatkan 4,7 juta, narasumber merasa bingung karena kedua orang tuanya hanya menyiapkan dana 2 juta untuk biaya kuliah. Namun, setelah mendapatkan penurunan UKT, narasumber berhasil menurunkan UKT menjadi 3,5 juta.
      Aku berpikir bahwa itu suatu hal yang lumrah saja, jika ada beberapa maba yang merasa UKT terlalu mahal. Setiap periode, pasti ada beberapa maba yang kurang mampu merasa UKT yang sudah ditetapkan terlalu mahal, ditambah tidak  terpilihnya camaba untuk meraih beasiswa bidikmisi. Beberapa teman-temanku satu angkatan bahkan ada yang berniat tidak kuliah jika ia tidak berhasil menurunkan UKT menjadi 1 juta. Allah berkehendak lain, meski UKT yang ia dapat 2 juta lebih, orang tuanya memaksanya untuk kuliah dan ia berhasil mendapat beasiswa PPA melalui pencapaian IP yang cukup bagus.
Di sini sebenarnya permasalahan UKT terlalu mahal sudah sering terjadi setiap tahun sudah menjadi problematika mahasiswa baru (termasuk juga aku). Tapi, menyadari bahwa UKT sebuah keputuan-Nya menjadi penting bagi kita sebagai mahasiwa untuk berusaha membantu orangtua menambah biaya kuliah. Banyak hal yang dilakukan mahasiswa untuk menambah bantuan biaya UKT selain mengurus penurunan dan penunaad UKT. Mulai dari tersebarnya program beasiswa selain bidikmisi hingga bekerja dikampus.
Ketidaksinkronan judul berita menjadi membingungkan ketika konten berita di paragraf berikutnya justru membahas mengenai tangis haru dari salah satu maba dan ayahnya yang diterima di prodi keolahragaan. Jadi, dimana maba menangis karena UKT ? Justru yang ada sebaliknya, salah satu maba menangis terharu karena bahagia diterima prodi keolahragaan UM.
      Salah satu berita terhangat UM berikutnya yang perlu dikritisi adalah tercorengnya nama instansi UM karena dua dosen laboratorium FMIPA UM korupsi. Sekali lagi, salah satu media berita lokal Malang membuatku semakin melongo ketika media itu membuat berita dengan judul “ Minta KPK dan Kejagung Usut Rektor dan Mantan Rektor UM”. Benarkah rektor dan mantan rektor UM korupsi ? Sejauh ini, aku hanya menemukan satu media berita yang berasal dari Malang  membuat headline begitu. Oh, UM yang masih belum bisa kubanggakan sejak menjadi maba, meski berusaha kucintai.
UM  yang seringkali dianggap kampus kedua di Malang dan seringkali menjadi uderdog  dalam perhelatan lomba nasional kini semakin tercoreng namanya dengan kedua dosen yang sudah ditetapkan hukuman penjara selama enam dan empat tahun. UM yang terkenal dengan deretan gelar kemenangannya dalam ajang bergengsi MTQMN seharusnya memberi pengajaran mengenai pentingnya akhlak Qur’ani  pada seluruh civitas akademik, tidak hanya sebatas mempelajari Al-Qur’an secara teori.
Lantas apa yang harus kita lakukan ? Bagaimana pun juga, hal yang membanggakan ketika mengenakan almamater biru untuk membela UM dikancah nasional (dan aku sudah merasakannya) meski sekali lagi, aku belum bangga sepenuhnya. UM tetaplah tempat kita (mahasiswa almamater biru) belajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Seperti sebuah kisah dalam novel “99 Cahaya di Langit Eropa” dimana Hanum Rais tokoh utama dalam novel seorang jurnalis berusaha membersihkan nama Islam dari masyarakat islamphobia, maka langkah bijak yang kita lakukan adalah menjadi “agen kebaikan” dimana pun kita berada.
Memperbaiki kualitas diri (baik ilmu pengetahuan umum dan agarama) sebagai calon sarjana adalah harga mati sebagai mahasiswa UM. Belajar dan belajar  dengan serius (belajar melalui buku maupun lingkungan) harusnya menjadi pacuan kita sebagai mahasiwa yang nama instansi nya tercoreng. Di luar sana bisa jadi banyak orang mencemooh dan menganggap remeh instansi kita, melirik saja tidak, bisa jadi malah mengejek almamater biru ini. Namun, mari kita diam dan membuktikan dengan prestasi. Kesadaran akan belajar Al-Qur’an lebih dalam juga perlu digalakkan agar mempermudah jalan menuju pembersihan nama. Semoga kita selalu dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, jika saja kita belum bisa menyumbangkan UM dengan piala atau medali, setidaknya menjadi orang baik dan bermanfaat justru akan membawa kita terkenal tidak hanya dikalangan penduduk Bumi, namun juga di kalangan masyarakat langit. Tiada gading yang tidak retak, mohon dikoreksi jika ada yang salah ucap atau salah menganalisa. Sesungguhnya kebenaran dari-Nya, sedangkan kekurangan karena fakirnya diri ini. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar