Assalamualaikum.
Welcome to Spring Gallery ! Sore ini, aku kaget banget waktu buka ponsel, aku
nemuin salah satu petisi gerakan UM (Universitas Negeri Malang) berkaitan
dengan isu dosen UM yang korupsi. Di salah satu tautan temen, aku nemunin
beberapa link dari salah satu media
lokal Malang yang menyebutkan tiga problematika UM paling hangat, aktual dan
bombastis 2018 ini. Tiga berita itu di antaranya
1.
Biaya UKT UM terlalu mahal membuat
mahasiswa baru menangis
2.
Pergantian warna jas almamater UM
3 3.
Dua dosen UM korupsi
Meski
aku bukan orang pers, aku cukup prihatin dengan salah satu judul berita media
lokal Malang yang membuat judul “Maba Universitas Negeri Malang Nangis karena
Uang Kuliah Tunggal Dirasa Kemahalan” awalnya aku ngga percaya sama judul yang
terkesan bombastis itu karena link
dari media tersebut terdapat nama salah satu media portal berita online yang dikenal kalangan pers
sebagai media dengan judul bombastis dan berbeda antara isi dengan judul.
Setelah
aku buka, benar saja konten berita kurang sesuai dengan judul. Isi berita itu
menyebutkan bahwa adalah salah satu mahasiswa baru UM yang merasa biaya UKT
terlalu mahal. Narasumber mendapatkan 4,7 juta, narasumber merasa bingung
karena kedua orang tuanya hanya menyiapkan dana 2 juta untuk biaya kuliah. Namun,
setelah mendapatkan penurunan UKT, narasumber berhasil menurunkan UKT menjadi
3,5 juta.
Aku berpikir bahwa itu suatu hal yang
lumrah saja, jika ada beberapa maba yang merasa UKT terlalu mahal. Setiap
periode, pasti ada beberapa maba yang kurang mampu merasa UKT yang sudah
ditetapkan terlalu mahal, ditambah tidak
terpilihnya camaba untuk meraih beasiswa bidikmisi. Beberapa
teman-temanku satu angkatan bahkan ada yang berniat tidak kuliah jika ia tidak
berhasil menurunkan UKT menjadi 1 juta. Allah berkehendak lain, meski UKT yang
ia dapat 2 juta lebih, orang tuanya memaksanya untuk kuliah dan ia berhasil
mendapat beasiswa PPA melalui pencapaian IP yang cukup bagus.
Di
sini sebenarnya permasalahan UKT terlalu mahal sudah sering terjadi setiap
tahun sudah menjadi problematika mahasiswa baru (termasuk juga aku). Tapi,
menyadari bahwa UKT sebuah keputuan-Nya menjadi penting bagi kita sebagai
mahasiwa untuk berusaha membantu orangtua menambah biaya kuliah. Banyak hal
yang dilakukan mahasiswa untuk menambah bantuan biaya UKT selain mengurus
penurunan dan penunaad UKT. Mulai dari tersebarnya program beasiswa selain
bidikmisi hingga bekerja dikampus.
Ketidaksinkronan
judul berita menjadi membingungkan ketika konten berita di paragraf berikutnya
justru membahas mengenai tangis haru dari salah satu maba dan ayahnya yang
diterima di prodi keolahragaan. Jadi, dimana maba menangis karena UKT ? Justru
yang ada sebaliknya, salah satu maba menangis terharu karena bahagia diterima
prodi keolahragaan UM.
Salah satu berita terhangat UM berikutnya
yang perlu dikritisi adalah tercorengnya nama instansi UM karena dua dosen
laboratorium FMIPA UM korupsi. Sekali lagi, salah satu media berita lokal
Malang membuatku semakin melongo ketika media itu membuat berita dengan judul “
Minta KPK dan Kejagung Usut Rektor dan Mantan Rektor UM”. Benarkah rektor dan
mantan rektor UM korupsi ? Sejauh ini, aku hanya menemukan satu media berita
yang berasal dari Malang membuat headline begitu. Oh, UM yang masih belum
bisa kubanggakan sejak menjadi maba, meski berusaha kucintai.
UM
yang seringkali dianggap kampus kedua di
Malang dan seringkali menjadi uderdog dalam perhelatan lomba nasional kini semakin
tercoreng namanya dengan kedua dosen yang sudah ditetapkan hukuman penjara
selama enam dan empat tahun. UM yang terkenal dengan deretan gelar
kemenangannya dalam ajang bergengsi MTQMN seharusnya memberi pengajaran
mengenai pentingnya akhlak Qur’ani pada
seluruh civitas akademik, tidak hanya sebatas mempelajari Al-Qur’an secara
teori.
Lantas
apa yang harus kita lakukan ? Bagaimana pun juga, hal yang membanggakan ketika
mengenakan almamater biru untuk membela UM dikancah nasional (dan aku sudah
merasakannya) meski sekali lagi, aku belum bangga sepenuhnya. UM tetaplah
tempat kita (mahasiswa almamater biru) belajar dan menimba ilmu
sebanyak-banyaknya. Seperti sebuah kisah dalam novel “99 Cahaya di Langit
Eropa” dimana Hanum Rais tokoh utama dalam novel seorang jurnalis berusaha
membersihkan nama Islam dari masyarakat islamphobia,
maka langkah bijak yang kita lakukan adalah menjadi “agen kebaikan” dimana pun
kita berada.
Memperbaiki
kualitas diri (baik ilmu pengetahuan umum dan agarama) sebagai calon sarjana
adalah harga mati sebagai mahasiswa UM. Belajar dan belajar dengan serius (belajar melalui buku maupun
lingkungan) harusnya menjadi pacuan kita sebagai mahasiwa yang nama instansi
nya tercoreng. Di luar sana bisa jadi banyak orang mencemooh dan menganggap
remeh instansi kita, melirik saja tidak, bisa jadi malah mengejek almamater
biru ini. Namun, mari kita diam dan membuktikan dengan prestasi. Kesadaran akan
belajar Al-Qur’an lebih dalam juga perlu digalakkan agar mempermudah jalan
menuju pembersihan nama. Semoga kita
selalu dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, jika saja kita belum bisa
menyumbangkan UM dengan piala atau medali, setidaknya menjadi orang baik dan
bermanfaat justru akan membawa kita terkenal tidak hanya dikalangan penduduk
Bumi, namun juga di kalangan masyarakat langit. Tiada gading yang tidak retak,
mohon dikoreksi jika ada yang salah ucap atau salah menganalisa. Sesungguhnya
kebenaran dari-Nya, sedangkan kekurangan karena fakirnya diri ini. Semoga
bermanfaat. Wassalamualaikum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar