Jumat, 03 Agustus 2018

Resoansi Energi Positif Orang Tua dan Sekolah serta Pengaruh Terhadap Anak dengan Metode NES-T


“Mencintai anak kita, bukan sekedar bisa menghantarkan mereka kepada SORGA,
Melainkan juga mampu memberikan nuansa surgawi saat mereka berada di dunia..”

Bunda , Ayah dan seluruh sahabat mulia…,
Tahukah kita , pada saat kita berpikir, merenung ,berdoa atau apa pun juga aktivitas ruhaniyah yang kita lakukan (memberdayakan suara hati/nurani), ternyata di dalam otak kita sedang berlangsung suatu proses psikodinamika , yang akan menghasilkan gelombang elektromagnetik , ditengarahi dalam banyak penelitian di bidang Neuro-Science, gelombang tersebut bisa terpancar keluar, dan bahkan bisa menimbulkan resonansi pada orang lain.
Pernah mendengar kalimat pujian di masjid-masjid tentang tombo ati yang kemudian dipopulerkan oleh “kang” OPICK, salah satu kalimat yang muncul adalah “ KUMPULONO WONG KANG SHOLEH” atau kalau diterjemahkan secara tekstual bermakana “Berkumpullah dengan orang-orang sholeh”.
Ketika kami mendalami ilmu neuroscience,hypno, N dll sampai pada orang2 yang menjadi sumber rujukan nasional seperti mas Afan Wahyudin (IBH dan IHC) dan pak Asep Haerul Gani disertai dengan membaca dan merenungkan puluhan buku yang berbicara tentang ilmu tersebut, yang kemudian kami kombinasikan dengan basic ilmu,maka atas ijin Allah SWT bertemulah kami dengan sebuah pemahaman tentang kekuatan resonansi yang diciptakan oleh lingkungan/keadaan terhadap diri kita atau sebaliknya.
Seakan bermuara pada hadits Rasulullah SAW :
“ Jika engkau berbaur dengan penjual minyak wangi…engkau akan dapatkan bau wanginya, maka demikian pulalah ketika engkau berbaur dengan seorang panadai besi, engkau akan dapatkan panas tanurnya”
Hadis di atas menyiratkan apa yang di dalam ilmu fisika disebut dengan konsep resonansi (kebetulan basic keilmuan kami fisika murni). Dalam sudut pandang fisika, resonansi dimakanai dengan bergetarnya suatu benda akibat bergetarnya benda lain yang memiliki kesamaan frekuensi. Artinya : ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam bahasan ini :
1. Resonansi akan terjadi didahului oleh adanya sumber getaran/ pencipta gelombang
2. Benda yang akan mengalami resonanasi haruslah memiliki frekuensi yang sama/ dia harus menyamakan frekuensi untuk bisa teresonansikan oleh sumber getaran.
Sebagaimana yang kita fahami , bahwa setiap manusia telah dianugerahi potensi yang bersifat fitrah oleh Allah SWT, dan fitrah ini identik dengan :
- Kesucian
- Kemulyaan
- Keindahan
- Kebahagiaan
- Dll
Artinya ketika getaran nurani ini kembali diaktifkan, maka seluruh organ tubuh manusia baik fisik ataupun mental-emosional bisa dikondisikan untuk mengalami getaran yang sama dengan nurani/suara hati, sehingga muncullah efek nyaman/tenang atau bahkan kita menyebutnya dengan kebahagiaan.
Seseorang yang merasakan kegelisahan, kegalauan, kesedihan tak berujung pangkal dll, menurut kami secara pribadi berdasarkan asumsi-asumsi di atas, disebabkan karena secara mental dan fisik tidak lagi mengalami keselarasan dengan fitrahnya sebagai hamba Tuhan.
Maka untuk bisa menghilangkan semua keadaan yang membuat mereka tidak nyaman, mereka harus masuk pada area yang bisa diakses oleh sumber getaran fitrah yang kemudian akan meresonansikan kebaikan/kesucian atasnya.
Berkumpul / mendekat dengan sumber getaran kebaikan (orang-orang Shaleh, ahli al qur-an, ahli tahajud, ahli sedekah , termasuk motivator kebaikan, orang2 yang memiliki energy menuju kebaikan yang sama, sebagaimana yang kita lakukan saat ini), semua jalan itu akan memudahkan kita untuk mencapai keselarasan emosional-spiritual tersebut.
Maka saat kita berhadapan dengan banyak permasalahan dalam kehidupan sehari hari,
Larutkan diri dalam pusaran komunitas kebaikan untuk mendapatkan efek positifnya dalam kehidupan kita , sebagaimana ulasan alumni teknik nuklir UGM ( Ir.Agus Musthofa), dalam bukunya “Pusaran Energi ka’bah”, yang bisa menguak secara apik fenomena spiritual dari sudut pandang science secara terukur ( Dengan menunjukkan kekuatan energy di sekitar ka’bah/baitullah yang setiap saat senantiasa terkirimi energy positif dari ratusan ribu hamba yang thawaf atau milyard-an manusia yang senantiasa mengirmkan energy dengan frekuensi yang nyaris sama dari seluruh penjuru bumi), meski kebenaran hakikinya hanya Allah yang tahu.
Maka marilah kita Latih diri kita untuk senantiasa bergerak dan beraktifitas dalam komunitas kebaikan, karena dengan cara seperti itulah tubuh kita akan semakin mudah merespon dan menselaraskan frekuensi kebaikan yang ada di sekitar kita atas izin Allah, yang pada akhirnya membuat sisi mental spiritual kita menjadi lebih baik.
NES-T memang murni “hasil galian kami” atas pengalaman riil yang terasa saat masuk dalam komunitas kebaikan yang kami analisis bersandar kepada basic keilmuan dan pengembangan yang telah kami mulai sejak SBC berdiri (sekitar bulan mei 2005), nama NES-T sendiri merupakan hasil pemikiran yang mengkolaborasikan dua jenis kecerdasan yang pada akhirnya justru menjadi basic kesuksesan yang jauh lebih kuat dibanding kemampuan intelektual, orang lebih mengenalnya secara masyhur dengan nama EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient). Dengan kata lain, meresonansikan kekuatan dalam area emosional dan spiritual (yang kesemuanya ada dalam bahasan neuroscience) bisa digunakan sebagai konsep therapy universal dalam kehidupan kita.
Adapun secara sederhana tahapan NES-T bisa digambarkan sebagai berikut :
1. Klasifikasi masalah anda
2. Klasifikasi komunitas/individu yang memiliki frekuensi sama dengan akibat yang anda inginkan
3. Leburkan diri kita dalam komunitas tersebut, dengan menciptakan/terpengaruhi tanpa menentang kondisi yang akan membawa kita pada kesamaan frekuensi (dalam pelatihan kami biasa kami sebut dengan Back to Zero/proses meng-nol-kan diri kita, untuk kembali pada posisi fitrah sebagai hamba Allah), bisa melalui diskusi dengan prinsip aliran air, mendengar kalimat2 mulia dari ayat suci atau al hadis dengan memposisikan diri sebagai seorang hamba, menselaraskan raga dengan Nurani dengan cara menurunkan frekuensi gelombang otak dll (missal dari betha menuju alfha)/ menurunkan focus dari keluar menjadi ke dalam.
4. Nikmati saat terjadinya resonansi energy kebaikan dari sumber getaran kebaikan tersebut, (Biasanya di tandai dengan perasaan nyaman dan tidak lagi muncul kekhawatiran saat berhadapan dengan masalah )insyaAllah kita akan masuk dalam area SOLUSI atas masalah kita.
5. Dan yang harus kita ingat, bahwa sumber Energi kebaikan yang paling utama adalah Allah, Rasul-NYa, para ‘Alim dan orang 2 yang memiliki kompetensi ilmu dan hati dalam masalah yang kita hadapi
NES-T for SMART Parenting
Rumah tangga yang dihuni oleh sepasang suami istri dan anak anak…akan selalu merindukan dan berharap untuk bisa merasakan nikmat dan indahnya hidup dalam nuansa SAKINAH MAWADDAH wa RAHMAH (biasa kita singkat dengan SAMARA).
Sakinah sendiri berasal dari akar kata SAKAN yang memiliki makna tekstual LAPANG/LUAS, sungguh sebuah makna yang akan selalau kita impikan untuk menjadikan area keluarga menjadi sarana penempa hati/rasa sehingga menjadi hati yang selalu lapang menerima apapun yang ada di dalamnya (baik lebih maupun kurang).
Sedangkan MAWADDAH bisa diartikan kebahagiaan atau kesenangan, dengan harapan setelah bertarung dengan kerasnya area duniawiyah di luar rumah (bekerja, menuntut ilmu dll), kita mendapatkan energy baru lagi (fresh energy) ketika sampai di rumah , sebagaimana kalimat Rasulullah “ BAITI JANNATI”.(Rumahku adalah Sorgaku).
RAHMAH sendiri adalah salah satu Asma Allah yang berma’na Kasih/sayang…, tentunya sebuah rumah akan menjadi ideal ketika dipenuhi dengan aura kasih sayang antar para penghuninya.
Ketiga kata, yang kemudian kita singkat dengan sebutan SAMARA tersebut ..merupakan salah satu bentuk energy positif yang harusnya dimiliki atau kita bisa menkondisikan diri untuk memilikinya sebagai syarat terasakannya kebahagiaan dalam membangun sebuah rumah tangga.
Dalam konsep SMART PARENTING yang salah kaprah, anak selalu menjadi object bahasan untuk dikupas dari A-Z. Dalam arti yang menjadi object bahasan perubahan adalah anak. Padahal,…berdasarkan konsep resonansi yang telah kami jelaskan di atas…apa yang terjadi pada anak, pada dasarnya adalah hasil resonansi dari sumber getaran energy perbuatan kedua orang tua ataupun lingkungannya dalam hal ini yang paling intens adalah para pendidik di sekolahnhya.
Maka jika kita menginginkan adanya perubahan prilaku kepada siapapun yang ada disekitar kita, harusnya setiap orang tua melakukan sinergi dengan sekolah untuk menjadi sumber energy dengan kekuatan yang lebih besar dan efektif untuk bisa memberikan pengaruh signifikan terhadap lingkungan dimana anak berada, dengan “radiasi”/pancaran energy tersebut ke sekitarnya.
Jika pada hadis Rasulullah SAW tentang sang pandai besi di awal tulisan kami, orang yang berkawan/mendekat pandai besi akan terkena asapnya (berbau seperti asap “hasil olahan” besi), maka untuk menjadikan anak-anak kita berkepribadian mulia…bukankah kita harus menjadikan diri kita (baik orang tua ataupun guru di sekolah) mulia terlebih dahulu…!, sehingga kita kitalah yang akan memerankan diri sebagai sang pandai besi dan anak anak kita berperan sebagai kawan sang pandai besi.
Dari sini, proses perubahan dengan pola resonansi energy ini bisa kita bagi menjadi dua :
A. Resonansi “Energi Tampak..”
Disni keteladanan menjadi kuncinya…, artinya jika menginginkan perubahan prilaku pada anak/siswa, maka kita sebagai pendamping anak/siswa haruslah menjadikan diri ini sumber energy yang secara terus menerus (istiqamah)menebar kebaikan.
Mengapa harus terus menerus dan tidak bisa satu atau dua kali ???????????? (masih ingatkah kita bahwa konsep perubahan karakter itu ada di alam bawah sadar, dan salah satu metoda terbentuknya nilai permanen dalam alam bawah sadar adalah dengan melakukan sesuatu secara berulang-ulang).
B. Resonansi “Energi Tak tampak”
Pernahkah kita merasakan perbedaan …bersikap marah pada person yang ada di hadapan kita dan marah tanpa ada si “terdakwah” dihadapan kita, atau bersimpati dengan seseorang yang mendapatkan musibah tepat dihadapan kita dengan simpati kepada orang yang tidak pernah kita tahu. Jika ditanya bagaimana rasanya???, tentu perasaan kita jauh lebih full-Power saat kita berada di depan object bukan…!
Demikian pula saat kita mengirim energy kebaikan (berdo’a, berharap, “mengimpikan”) kepada anak kita, akan menjadi full-Power manakala kita melakukanya dengan melihat, memegang, menatap object tersebut.
Maka marilah kita biasakan ketika mendo’akan anak/siswa kita untuk menyertakan “fisiknya” dalam nuansa permohonan kita…sehingga kekuatan resonansi energy-nya akan berlipat ganda, bagi orang tua bisa “memasuki” kamar sang putra di malam pasca tahajudnya untuk “ mengirimkan” energi positifnya berupa do’a secara ikhlas kepada Allah, demikian pula para pendidik hendaknya senantiasa memohon kepada Allah agar setiap ilmu yang telah diberikan di pagi hari bisa mditerima oleh anak didiknya dan bermanfaat buat kehidupan mereka.
Kendala serius biasanya akan terjadi , mnakala tidak terjadi kerjasama yang apik antara orang tua dengan lingkungan pendidikan formal anak anak (Sekolah misalnya). Jika dalam konsep fisika gelombang dua gelombang dengan amplitude A jika disuperposisi akan menghasilkan amplitude senilai 2A, maka akan terjadi nihilitas (hasil NOL) jika gelombang orang tua kepada anak +A, tetapi lingkungan justru menegasi (meniadakan/berkebalikan) dengan amplitude – A .
Di saat orang tua mengajarkan kejujuran untuk keberkahan hasil belajar anak, tapi pada saat yang sama justru di luar ketidak jujuran “merajalela “ di sekitar anak kita.
Kesimpulan :
Jika ingin amplitude kebaikan kita tidak ternegasi….lipatgandakan kekuatan dengan mensinergikan potensi orang tua dan sekolah, tentu dengan menyamakan visi dan misi yang akan dituju dan dimaksud, tetapkan metodenya bersama dan lakukan berulang ulang, diimbangi denganmemunculkan simbol simbol dalam bentuk gambar ataupun suara di rumah dan sekolah anak anak kita dll.
Kiranya ada manfaat dan kebaikan yang bisa kita tebar kepada keluarga, lembaga pendidikn dan siapapun yang memiliki concern dalam pengembangan karakter positif generasi penerus di negri ini, sehingga suatu saat kita tidak hanya menjadi obyek resonansi dari sumber kebaikan, melainkan kitalah yang kelak menjadi sumber getaran kebaikan tersebut bagi banyak orang ………….selamat mencoba…Bismillahirrahmanirrahiim..!

Ditulis oleh : Muhammad Hatta
Trainer Utama SBC &Rumah motivasi ( Navigator NES-T)
Konsultasi : sbckdr@yahoo.com
Ingin mengadakan Pelatihan/workshop NES-T Hub :
081 331 947 987

Tidak ada komentar:

Posting Komentar