Jika
Allah bersamamu, maka jangan takut kepada siapa saja, akan tetapi jika Allah
sudah tidak lagi bersamamu, maka siapa lagi yang bisa diharapkan olehmu?
-Hasan
al Banna-
Assalamualaikum sahabat Spring
Gallery, dihari pengangguran ini mimin (lagi-lagi) ingin berbagi cerita.
Tepatnya satu bulan lalu, saat mimin berkunjung ke rumah adik dari kakek.
Beliau ajarkan sebuah mantra yang luar biasa, mantra yang dapat merubah
kehidupan kita. Apalagi jika bukan “Waman
yatawakkal ‘ala Allah fahuwa hasbuh,” Q.S. At Thalaq (65) : 3
Kepasrahan
kepada Allah setelah berikhtiar maksimal, sebut saja tawakkal. Siang itu jeda
sholat jumat, kami mengobrol bersama kedua tetangga mbah yang sedang
silaturrahmi. Ada sebuah kisah yang masih terngiang hingga pagi ini, di jam
enam lebih lima puluh enam menit. Paragraf selanjutnya mimin akan bercerita,
semoga kalian diberi Allah keluangan waktu untuk menyimak sebuah kisah
sederhana.
Hari
itu ada seorang ibu pengajian yang sering ikut dengan mbah, tiba-tiba saja ibu
pengajian itu datang kemari, sekedar basa-basi dan curhat masalah mimpinya.
Ibu-ibu pengajian itu umurnya sudah tidak muda lagi, tapi beliau berani
bermimpi, bercita-cita. Beliau menyampaikan asanya untuk pergi haji. Beliau
bilang hanya punya tanah sekian meter, yang nilainya (seingat mimin) sekitar
dua belas juta. Sementara hari ini untuk pergi haji butuh puluhan juta, belum
lagi untuk membeli oleh-oleh dan keperluan lainnya.
Tapi,
percaya ngga percaya itu tanah laku dijual. Bisa dibuat beli rumah, bisa untuk
pergi haji, dan beli tanah (lagi). Kata mbah itu yang dinamakan barokah. “ Sudahlah, kalau menurut
rasiomu kau ngitung uang buat ini-itu ngga cukup. Kalau sudah barokah pasti
bakal cukup. Mangkanya kita disuruh cari rezeki itu yang halal lagi baik. Baik
itu ya barokah.”
Ulasan
kedua ini saya dengar ketika mbah saya curhat soal tetangga sebelah yang sering
gelisah, gundah, menangis dan banyak masalahnya. Meski mbah saya magister
psikologi, beliau enggan memberi saran layaknya psikolog atau dokter. Karena
beliau punya bangunan pondok di depan rumahnya, beliau hanya bilang “ Sudah,
njenengan ke pondok saja. Njenengan curhat sama Gusti Allah, nangis-nangis
sampai puas.” Dan mujarab ! Justru saran kecil ini yang dapat membuat tetangga
mbah saya lebih tenang.
Ulasan
ketiga ini untuk kita para mahasiswa baru. Dengan nyemil beberapa jajanan hari
raya mbah, saya mendengarkan petuah mbah berikutnya, “ Jadi mahasiswa itu ngga
mudah, Nduk. Samean harus lembur, tidur malam mengerjakan tugas dan banyak
kesibukan lain. Tapi, pasrahkan ke Gusti Allah. Percaya Gusti Allah pemilik
segalanya, pengatur segalanya. Meski samean ngerjakan tugas sambil ngopi, kalau
Gusti Allah berkehendak samean ndak kuat, ya ndak kuat.”
Di
kehidupan beliau hanya ada satu rumus untuk menjadi kaya, terhindar dari hati
yang gelisah, sukses dunia akhirat. Bertawakkallah
kepada Allah, maka Allah akan cukupkan. Sesederhana itu. Maka dalam kurun
sebulan ini mantra itu terus terkenang, mengena dihati. Maturnuwun ilmu
njenengan, Mbah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar