Selasa, 08 Agustus 2017

Pesan Buat Mahasiswa Baru, Kunci Sukses Dunia Akhirat

Jika Allah bersamamu, maka jangan takut kepada siapa saja, akan tetapi jika Allah sudah tidak lagi bersamamu, maka siapa lagi yang bisa diharapkan olehmu?
-Hasan al Banna-

            Assalamualaikum sahabat Spring Gallery, dihari pengangguran ini mimin (lagi-lagi) ingin berbagi cerita. Tepatnya satu bulan lalu, saat mimin berkunjung ke rumah adik dari kakek. Beliau ajarkan sebuah mantra yang luar biasa, mantra yang dapat merubah kehidupan kita. Apalagi jika bukan “Waman yatawakkal ‘ala Allah fahuwa hasbuh,” Q.S. At Thalaq (65) : 3
            Kepasrahan kepada Allah setelah berikhtiar maksimal, sebut saja tawakkal. Siang itu jeda sholat jumat, kami mengobrol bersama kedua tetangga mbah yang sedang silaturrahmi. Ada sebuah kisah yang masih terngiang hingga pagi ini, di jam enam lebih lima puluh enam menit. Paragraf selanjutnya mimin akan bercerita, semoga kalian diberi Allah keluangan waktu untuk menyimak sebuah kisah sederhana.
            Hari itu ada seorang ibu pengajian yang sering ikut dengan mbah, tiba-tiba saja ibu pengajian itu datang kemari, sekedar basa-basi dan curhat masalah mimpinya. Ibu-ibu pengajian itu umurnya sudah tidak muda lagi, tapi beliau berani bermimpi, bercita-cita. Beliau menyampaikan asanya untuk pergi haji. Beliau bilang hanya punya tanah sekian meter, yang nilainya (seingat mimin) sekitar dua belas juta. Sementara hari ini untuk pergi haji butuh puluhan juta, belum lagi untuk membeli oleh-oleh dan keperluan lainnya.
            Tapi, percaya ngga percaya itu tanah laku dijual. Bisa dibuat beli rumah, bisa untuk pergi haji, dan beli tanah (lagi). Kata mbah itu yang dinamakan barokah. “ Sudahlah, kalau menurut rasiomu kau ngitung uang buat ini-itu ngga cukup. Kalau sudah barokah pasti bakal cukup. Mangkanya kita disuruh cari rezeki itu yang halal lagi baik. Baik itu ya barokah.”
            Ulasan kedua ini saya dengar ketika mbah saya curhat soal tetangga sebelah yang sering gelisah, gundah, menangis dan banyak masalahnya. Meski mbah saya magister psikologi, beliau enggan memberi saran layaknya psikolog atau dokter. Karena beliau punya bangunan pondok di depan rumahnya, beliau hanya bilang “ Sudah, njenengan ke pondok saja. Njenengan curhat sama Gusti Allah, nangis-nangis sampai puas.” Dan mujarab ! Justru saran kecil ini yang dapat membuat tetangga mbah saya lebih tenang.
            Ulasan ketiga ini untuk kita para mahasiswa baru. Dengan nyemil beberapa jajanan hari raya mbah, saya mendengarkan petuah mbah berikutnya, “ Jadi mahasiswa itu ngga mudah, Nduk. Samean harus lembur, tidur malam mengerjakan tugas dan banyak kesibukan lain. Tapi, pasrahkan ke Gusti Allah. Percaya Gusti Allah pemilik segalanya, pengatur segalanya. Meski samean ngerjakan tugas sambil ngopi, kalau Gusti Allah berkehendak samean ndak kuat, ya ndak kuat.”
            Di kehidupan beliau hanya ada satu rumus untuk menjadi kaya, terhindar dari hati yang gelisah, sukses dunia akhirat. Bertawakkallah kepada Allah, maka Allah akan cukupkan. Sesederhana itu. Maka dalam kurun sebulan ini mantra itu terus terkenang, mengena dihati. Maturnuwun ilmu njenengan, Mbah.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar